Hoaks di Era Nabi dan Milenial

GEMA JUMAT, 14 DESEMBER 2018

Oleh: Murizal Hamzah

Fitnah atau hoaks sudah seusia dunia. Distribusi ghibah yang paling monumental pada masa Rasulullah yakni Aisyah istri Nabi Muhammad SAW yang dituduh berzina. Adalah Abdullah bin Saba al-Sahul penyebar info bohong itu. Tak pelak, kabar itu memicu kekacauan hampir selama sebulan serta Nabi murung. Akhirnya terungkap bawah Abdullah hanya mengarang fitnah menyerang Nabi dan istrinya. Kasus ini dalam sejarah dinamakan hadits al-Ifki.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapatkan balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar salam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.” (QS. An-Nur: 11).

Cerita lain kebohongan ketika Al Walid bin Uqbah diperintahkan oleh Nabi mengutip zakat dari kabilah yang baru masuk Islam. Dalam perjalanan ke kabilah itu, Walid pulang sebab takut berjalan sendiri dan melaporkan bahwa kabilah menolak berzakat bahkan sebaliknya menantang perang. Lalu Nabi menyiapkan pasukan. Namun sebelum pasukan bergerak, Haris menyampaikan yang sebetulnya dan menjelaskan bahwa kabilah itu justru menunggu kehadiran Nabi.

Hoaks atau fitnah terus melaju seiring perkembangan dunia dan teknologi. Pada era tahun 1980-an, beredar surat berantai yang diklaim dari penjaga makam Nabi Muhammad SAW yang memperingatkan umat Islam di seluruh dunia untuk copy 10 selembaran dibagikan kepada 10 orang lain. Mimpi sang penjaga makam Rasulullah itu sudah beredar sejak tahun 1970-an. Kini di era teknologi WA yang serba gratis, mimpi syeikh itu kembali didaur ulang. Ghalibnya, copy seruan itu disebarkan lagi melalui grup-grup WA tanpa perlu mengeluarkan satu sen pun. Mengapa harus disebarkan kepada 10 grup WA atau 10 teman? Semestinya logika mesti digunakan.

Di belahan dunia lain, aneka hoaks mengancam pilar persatuan dan kerukunan umat. The Arab Spring menyebutkan demo, perang saudara, dan pertumpahan darah di kawasan Timur Tengah patut diduga karena virus hoaks yang disebarkan melalui medsos.

Di era milenial, gesitnya fitnah tidak semakin berkurang. Teungku-teungku mengingatkan kepada penyebar fitnah, pahala-pahala yang diterima oleh penyebar fitnah selama ini karena rajin ibadah, maka dalam waktu sekejabnya nilai-nilai pahala itu berpindah ke teman atau pihak yang kita fitnah karena tidak terbukti alias berbohong. Mereka itulah yang tidak beribadah namun menerima transfer pahala dari penyebar fitnah. Jika pahala yang dimiliki penyebar fitnah itu masih kurang sebagai pembayaran karena melancarkan fitnah, maka dosa yang difitnah itu akan dipindahkan kepada penyebar fitnah.

Untuk itu, apalagi menjelang tahun politik tahun 2019, umat tidak perlu rajin mempositing atau mengirim info yang tidak jelas shahibnya alias kebenaran. Kita tidak bisa berkelit bahwa info palsu yang kita sebarkan ini hanya sekadar memposting. Sebelum sharing, wajib saring dulu. Jika ragu, simpan saja kabar fitnah itu di dalam hp. Jangan sampai menguras pahala yang kita kumpulkan karena kebodohan mengirim pesan fitnah kepada rekan-rekan di grup WA dan sebagainya.

Sejatinya zaman bisa berubah namun rumus atau inti dari penyebaran fitnah karena kebodohan penyebar fitnah atau kebencian kepada yang difitnah. Pengakuan seorang politikus yang menyebarkan fitnah pada Pilpres 2014 diungkapkan tahun 2018 dengan meminta maaf kepada yang difitnah. Dosa fitnah itu diselesaikan oleh penyebar fitnah yang menjadi sasaran fitnah. Sungguh penyebar fitnah itu seperti makan bangkai saudara sendiri. menjijikkan!

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!