Iktibar dari Lion 

GEMA JUMAT, 02 NOVEMBER 2012

Apa yang paling dekat dengan kita? Anak, istri, orang tua atau teman? Ternyata bukan itu yang paling dekat dengan manusia.  Yang sangat dekat lebih dekat dari urat leher yakni kematian.  Iman Ghazali menuturkan yang paling dekat adalah kematian.  Yang paling jauh  adalah masa lalu. Yang  paling besar adalah hawa  nafsu. Yang paling berat  adalah memegang amanah. Yang  paling ringan adalah  meninggalkan shalat. Dan  yang paling tajam adalah  lisan manusia.

Musibah Lion yang jatuh di perairan Karawang Jawa Barat adalah iktibar kepada umat yang masih diberi kesempatan beribadah dan bertobat.  Di Shubuh buta, 189 penumpang itu bangun cepat-cepat agar tidak ketinggalan pesawat. Buru-buru ke bandara Soekarno-Hatta Cengkareng agar tidak telat dan Shubuh berjamaah di mushalla bandara.

Sebelumnya penumpang itu tergopoh-gopoh mencium kening anak, istri,  dan lain-lain dengan harapan kembali lagi ke rumah dalam beberapa hari lagi. faktanya, semua penumpang dan kru pesawat tidak kembali lagi utuh. Tim penyelamat menemukan potongan tubuh seperti kaki, tangan dan sebagainya yang terapung-apung.  Semoga almarhum dan almarhumah penumpang pesawat husnul khatimah dan yang ditinggalkan dapat bersabar.

“Setiap yang bernyawa akan  merasakan mati. Kami akan  menguji kamu dengan  keburukan dan kebaikan  sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya  kepada kami.” (QS Al Anbiya : 35).

Seorang istri atau suami dan siapa pun akan menyesal sepenuhnya jika pada malamnya terlibat keributan dengan yang sudah meninggal dunia dalam musibah tersebut.  kita tidak tahu, keluarga yang dicintai itu akan pergi untuk selamanya. Padahal belum meminta maaf atau memberikan maaf atas pernyataan yang kasar-kasar sebelumnya. tidak ada yang menduga, penerbangan pagi ini adalah salam perpisahan terakhir. Kita berkeyakinan, antara yang melambai tangan dan membalasnya akan bertemu. Mereka adalah para PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad).

Maut adalah rahasia Allah yang tidak diketahui oleh hamba-Nya. Kapan seseorang merengang nyawa. Setiap saat, napas terakhir bisa saja terjadi. Pagi sehat, dhuhurnya sudah meninggal dunia. Kecelakaan lalulintas, serangan jantung, jatuh dan sebagainya adalah penyebab. Intinya, manusia sudah selesai kontrak hidup dan kembali ke dunia lain.

Iktibar dari musibah Lion yakni ada penumpang yang selamat karena  dia macet. Bisa saja jadi sepanjang perjalanan kesal pada supir, marah-marah dan tiba di bandara ketika pesawat sudah terbang. Rasa amarah bisa memuncak. Namun siapa duga, beberapa menit kemudian, dia mendapat kabar pesawat itu kehilangan kontak. Beberapa jam kemudian, penumpang yang telat itu mendapat kabar pesawat itu terhempas ke dasar laut.

Dari rasa amarah menjadi bersyukur karena keterlambatan pesawat sehingga selamat.  Diberi kesempatan untuk beribadah lagi. segala sesuatu ada hikmahnya. Di mata manusia, musibah itu tidak terjadi pada dirinya karena sesuatu sebab.   Pembelian tiket, check in, terbang, dan sampai akhir perjalanan hanya sebuah proses jalan untuk pulang ke rumah abadi sebagai termaktub di Lahul Mahfuz. Setiap manusia memiliki catatan tersebut yang tidak dilihat namun kita akan berjalan seperti yang tertulis dalam catatan ghaib itu.

Anda, saya dan siapa pun, cepat atau lambat akan menuju tidur abadi untuk sepanjang masa. Kapan giliran kita pulang ke rumah masa depan?  Hanya Allah yang tahu
Setiap saat ajal bisa datang. Hanya dengan modal taqwa yang menyelamatkan kita meniti jembatan ke surga. Kematian adalah  gerbang melanjutkan  kehidupan baru yang  abadi.

Bagi orang  beriman,  kematian adalah proses  memasuki kehidupan  yang lebih tinggi kualitasnya. [Murizal Hamzah]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!