Imam Besar Al Azhar

GEMA JUMAT, 4 MEI 2018

Oleh Murizal Hamzah

Imam Besar dan Grand Syeikh Al-Azhar, Ahmad Muhammad Ath-Thayeb berbicara di Indonesia pada akhir April lalu. Imam  Besar itu menyuarakan kesejukan dan kenyaman dalam beribadah.  Tokoh muslim paling berpengaruh di dunia  seperti tercantum dalam The Muslim 500 – itu  berdakwah perlunya mengembangkan pandangan keagamaan moderat yang tidak ekstrem. Kedatangannya di Indonesia  untuk memperkuat wasathiyah Islam – Islam jalan tengah, yang mendukung moderasi Islam, anti-ekstrimisme, anti-radikalisme. Dia memberikan gagasan jalan tengah sehingga semua kelompok yang berbeda dapat saling menghargai sehingga terhindar dari perpecahan, konflik bahkan perang.

Secara tegas, Ath Thayeb meminta umat mencari persamaan di antara berbagai paham yang berbeda. Umat yang moderat dan menerima perbedaan. Selama di Jakarta dan Bogor,  Ath Thayeb menyorot fenomena media sosial yang menyebarkan keburukan, kebencian, dan pecah belah kelompok yang berbeda sehingga memicu pertikaian.  Secara arif,  tokoh besar itu menguraikan ada banyak kelompok di Islam. Maka Iman Besar tersebut melarang saling bertikai, mengkafirkan orang lain satu (kelompok) mengatakan sayalah yang benar dan Anda yang salah sehingga darahmu halal. Penyebab kaum Muslim saling membunuh adalah kebodohan memahami Islam.

Untuk menangkal pertikaian, Ath Thayeb mengajak umat perlu mengembangkan moderasi (wasathiyah) yaitu pandangan yang berada di tengah, tanpa berusaha merasa benar sendiri, dan menghargai berbagai perbedaan apalagi terkait hal-hal  sepele (furuiyah) dan menjunjung kebersamaan dan persatuan.  Dunia membutuhkan kehadiran Islam wasathiyah untuk menghindari konflik. Konflik terjadi karena ada paham radikal di sejumlah negara teramsuk di Indonesia. untuk itu, Ath Thayeb menaruh harap agar Islam wasathiyah tidak sebatas konsep tetapi juga harus diimplementasikan. Bersikap moderat adalah pilihan baik sebagaimana difirmankan dalam Al Quran, moderat yang berarti berimbang. Sebaliknya, sikap ekstrim merupakan suatu dosa. Sebab ekstrim adalah suatu sikap yang terlalu berani, gegabah dan terlalu berlebihan.

Ath Thayeb  meminta seluruh umat Islam khususnya di Indonesia tidak bersikap ekstrem seperti menilai kepercayaan serta pemikiran lain tidak tepat karena dapat memicu perpecahan. Dia mencontohkan sejumlah penganut aliran salafi, sufi, takfiri dan modernis yang saling bermusuhan dan menganggap kelompok lain kafir. Mereka semua bermusuhan dan dia menganggap kelompok yang lainnya kafir sehingga tidak akan menshalati jika meninggal, tidak saling menyapa, kepercayaan antarumat jadi hilang, munculnya fitnah. Tidak boleh mengkafirkan yang shalatnya sama-sama menghadapi kiblat,  bersyahadat dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Disebutkan, perbedaan tentang konsep dan pemahaman keagamaan telah membawa dampak buruk bagi Islam. Pada saat yang sama umat Islam mengalami permasalahan dari dalam yakni kemiskinan, kemunduran ekonomi dan konspirasi dari kekuatan politik luar.

Dijelaskan Universitas Al-Azhar sebagai institusi pendidikan  menentang memonopoli kebenaran. Segala mazhab atau aliran Islam diterima baik oleh Al Azhar. Sikap  fanatik dari sejumlah penganut aliran merupakan sikap awam terhadap agama.

Jika kita simak kuliah dari Ath-Thayeb, maka tidak terulang lagi pembakaran pondasi masjid seperti yang terjadi di Samalanga atau membakar warga di Jeunieb karena berbeda pemikirannya. Jangan merasa diri yang paling benar. Tarik segala sesuatu pada ruang musyawarah melalui otak bukan melalui otot adu fisik yang menyebabkan nyawa umat meregang.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!