Imsak

GEMA JUMAT, 18 MEI 2018

Oleh Murizal Hamzah

Puasa adalah Imsak.  Puasa memiliki tiga nama yakni  Al-Shaum, Al-Shiyam, dan Al-Imsak. Al-Shaum, Wal-Shiyam fil lughatil Al-Imsak, artinya shaum dan shiyam secara bahasa artinya sama dengan imsak yakni menahan. Imsak bermakna menahan, mencegah, dan menghindar.  Imsak itu sama waktunya dengan adzan Shubuh. Selama ini, kita mengartikan Imsak yakni ketika terdengar sirine bersuara atau mengamati kolom Imsak di imsakiyah.

Al-shiyam juga  mengandung arti menahan diri. Puasa menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami isteri, dan perihal yang membatalkan sejak fajar sampai terbenam matahari. Kewajiban ibadah puasa ini mengantarkan dirinya menjadi manusia yang bertaqwa. Hal ini termaktub di surat Al-Baqarah ayat 183. Puasa yang ditujukan kepada orang-orang beriman. Hanya orang pilihan.

Setiap manusia harus menahan diri. Dalam arti lain, sebelum bertindak, wajib menahan diri dengan mengamati suasana atau mempelajari situasi.  Kita pahami esensi berpuasa selama 8-18 jam/hari tergantung negara/daerah ialah menahan diri. Dengan bersikap demikian, kita bisa mencegah melakukan kesalahan atau tindakan yang berdampak dosa. Alangkah nikmantya hidup jika setiap hari umat dapat mendeposito amal-amal jahiriyah bukan sebaliknya menabung dosa-dosa kecil atau besar.

Kita harus sepakat, mulai bulan puasa ini yang telah kita tunaikan kemarin dengan keinginan menahan diri dari segala ucapan, aksi dengan ujung jari atau  meendengar dan menyebarluaskan kabar fitnah melalui sepasang telinga.

Di masa era teknologi, kecepatan kilat bisa dikalahkan oleh kecepatan fitnah dengan modal ujung jari dan tersebar ke seluruh dunia maya. Secara sadar atau tidak, sengaja atau tidak, penyebar berita bohong atau fitnah melakukan dengan semangat berapi-api karena tidak melakukan cek dan ricek atau tabayun. Untuk itu, mulai puasa dan selanjutnya, sebelum tekan tombol kirim, berpikir lagi apa faedah dengan tersebarkan kabar yang belum diyakini benar atau ada faedah kepada pembaca.  Inilah makna lain dari Imsak yakni menahan diri untuk tidak melaksanakan kegiatan yang menuju ke lembah dosa.

Sosok yang mampu menahan diri muncul dari gestur tubuh yakni tidak cepat marah, emosional atau tindakan kasar. Tetap menahan diri dari ucapan atau sikap yang memperlihatkan dirinya masih lemah dari aspek ilmu pengetahuan atau wawasan. Pada waktu bersamaan kita menahan diri dengan meminta perlindungan kepada Allah SWT dengan berzikir dan terus bermuhasabah. Akhir dari sikap Imsak yakni mewujudkan manusia-manusia yang bertaqwa. Umat yang bertaqwa yakni ketika kaya tidak takabur dan selalu bersyukur dan sebagainya.

Melalui tahapan Imsak, lahirlah umat yang shaleh secara individu dan  shaleh secara sosial. Jika kita terjebak pada simbol-simbol puasa, maka kita bisa berada dalam berpuasa yang semu.   “Betapa banyak mereka berpuasa tanpa memperoleh apapun dari ibadah puasanya kecuali sebuah proses menahan lapar dan dahaga.” (HR. Bukhari).

Semangat bershadaqah selama Ramadhan harus berlanjut pada bulan-bulan selanjutnya.  Pada bulan lain tetap ada pahala-pahala dari amar makruf nahi munkar. Tidak salah beribadah karena menginginkan pahala. Namun lebih baik kita beramal karena mengharapkan ridha Allah SWT.  Mengubah dari kelas beribadah memburu pahala dari Allah SWT kepada beramal/ibadah karena  ridha dari Sang Khaliq. Marhaban ya Ramadhan!

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!