Jangan Suka Yang Bukan Hak

GEMA JUMAT, 5 OKTOBER 2018

“Tajak belaku linggang tapinggang belaku ija, tangui belaku tuboh tapajoh belaku atra,“ begitu hadih maja zaman dahulu yang umumnya menjadi petuah bagi masyarakat Aceh masa dulu sampai sekarang.

Dimana arti dari pribahasa tersebut dapat kita pahami bahwa lakukanlah sesuatu menurut kemampuan dan tidak memaksakan kehendak apabila kita tidak mampu. Terima dengan lapang dada agar kita dijauhkan dari segala bentuk penyakit hati dan menerima rezeki seberapupun diberikan Allah dan dapat digunakan sesuai penghasialan kita, tidak perlu memaksakan kehendak dengan cara-cara haram untuk mencukupi gaya hidup yang belum baik akhirnya.

Allah telah memperingatkan kita dalam Al-Quran surat Annisa dimana artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil……...” (QS. An Nisaa’: 29).

Rasul juga telah memperingatkan kita, “Tidak halal mengambil harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dirinya.” (HR. Abu Dawud dan Daruquthni, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7662).

Dari dalil-dalil diatas sangat jelas Allah dan Rasul tidak mengizinkan kita untuk menikmati harta orang lain walau hanya sedikit saja. Kecuali sang pemilik mengizinkannya untuk diberikan. Tetapi banyak diantara kita yang terkadang tidak sadar kita telah memakai yang bukan milik kita.

Menjadi lazim di masyarakat kita seperti memperjual belikan yang belum tentu haknya secara jelas, kemudian ada juga meminjam uang dalam bentuk pengembalian yang ditentukan dengan sejumlah bunga yang harus dibayarkan. Banyak praktek-praktek lain yang berimbas haram untuk kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada juga bentuk pemberian pinjaman modal kepada orang fakir dengan patokan harus memberikan jumlah bunga tertentu, a’uzubillahi min zalik yang rencana kita untuk menolong orang tetapi sudah menjadi harta haram yang nanti kita terima dari si piutang modal tadi.

Jangan biarkan harta kita dikotori oleh harta-harta yang sumber dan jadinya haram, karena jika kita memakan dan menikmati harta dari sumber-sumber yang haram, maka hati kita akan keras tidak tertarik lagi berbuat kebajikan apalagi menolong orang-orang yang membutuhkan.

Allah melaknat orang yang suka makan harta riba, “…orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah: 275) (thayyiba). Janji Allah itu nyata, tujuan hidup untuk mencari bekal masuk syurga bukan memberi peluang untuk kita masuk neraka. (Jannah)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!