Jejak Masjid Raya

GEMA JUMAT, 29 JUNI 2018
Oleh Murizal Hamzah

Bangunan Masjid Raya Baiturrahman di jantung Banda Aceh ini adalah warisan kolonial Belanda. Sang  penjajah itu menepati janji membangun kembali masjid yang dibakarnya hingga terus diperluas. Pada awalnya  Masjid Raya Baiturrahman dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612. Riwayat lain menyebutkan yang membangun Masjid Raya adalah Sultan Alidin Mahmudsyah pada tahun 1292.

Berdasarkan kesaksian Peter Mundy  pada tahun 1637 dalam lawatannya ke kerajaan Aceh pada tahun 1600-an, Masjid Raya yang dibangun oleh Iskandar Muda memiliki kubah berbentuk jajar genjang dan memiliki beberapa atap penutup yang bertingkat, bila dilihat sekilas lebih mirip kubah pagoda atau bekas peninggalan budaya Hindu yang masa sebelumnya menjadi agama warga Aceh. Bentuknya empat persegi panjang seperti Masjid Indrapuri, Intinya bentuk masjid itu tidak seperti  bentuk sekarang.

Belanda mengultimantum perang pada 1 April 1873  dan membakar masjid ini pada 10 April 1873 karena menolak maklumat perang itu. Dalam serbuan ini, Mayjen Khohler yang memimpin peperangan ditembak oleh pasukan yang dipimpin oleh Teuku Imuen Lueng Bata. Gubernur Militer Jenderal Van Sweiten pada maret 1877 berjanji membangun kembali masjid ini untuk menarik perhatian rakyat Aceh.

Realisasinya dibangun pada pada masa Gubernur Militer Aceh  Jenderal Mayor Karel Van der Heijden  yang melakukan batu pertema pembangunan pada 9 Oktober 1879 dan rakyat Aceh diwakili oleh Teuku Kadhi Malikul Adil sekaligus sebagai pemegang kunci masjid. Masjid berkubah satu ini selesai dibangun pada 27 Desember 1883 (versi lain selesai 1882) yang ditandai dengan dentuman meriam. Masjid berkubah ini adalah masjid pertama yang dibangun di Asia Tenggara yang dirancang oleh  arsitek Bruins dari Departement Van Burgelijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum) di Batavia.

Pengawasan masjid oleh L.P Luyke, dibantu beberapa insinyur lainnya dan Penghulu Besar Garut agar polanya tidak bertentangan dengan Islam. Material pembangunan masjid sebagian dari Penang, batu marmer dari Belanda, batu pualam untuk tangga dan lantai dari Cina, besi untuk jendela dari Belgia, kayu dari Birma dan tiang-tiang mesjid dari Surabaya. Bahan bangunan diborong Lie A sie, seorang Letnan Cina yang memperoleh biaya borongan 203.000 gulden.

Pada tahun 1935 Gubernur Militer Aceh Jenderal A.P.H. Van Aken memperluas bangunan mesjid ini menjadi tiga kubah. Masjid Raya diperluas bagian kanan dan kiri dengan tambahan dua kubah. Perluasan ini dikerjakan oleh Jawatan Pekerjaan Umum (B.O.W) dengan biaya 35.000 gulden sebagai pimpinan Proyek Ir.M.Thahir dan selesai dikerjakan pada akhir tahun 1936. Usaha perluasan dilanjutkan oleh panitia bersama “Panitia Perluasan Masjid Raya Kutaraja”. Biaya pembangunan dari kaphe Belanda.

Indonesia baru menyentuh masjid ini pada tahun 1959 dengan memperluas masjid yang dilakukan oleh pemborong N.V ZEIN dari Jakarta. Gubernur Aceh Ali Hasjmy memperluas  masjid ini menjadi lima kubah dan selesai pada tahun 1967. Agar dana perluasan masjid  cepat disetujui, pemimpin Aceh menyatakan perlu lima kubah di masjid ini sebagai tanda rakyat Aceh menerima Pancasila.

Dalam rangka menyambut MTQ pada 7-14 Juni 1981 di Banda Aceh, Masjid Raya diperindah dengan peralatan, pemasangan klinkers di atas jalan-jalan dalam pekarangan Masjid Raya. Perbaikan dan penambahan tempat wudhuk dari porselin dan pemasangan pintu krawang, lampu chandelier, tulisan kaligrafi al-Quran dari bahan kuningan, bagian kubah serta intalasi air mancur di kolam.

Pada tahun 1991-1993 Masjid Raya melaksanakan perluasan kembali di halaman depan dan belakang dan masjid. Bagian masjid yang diperluas, meliputi lantai masjid, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudhuk, dan 6 lokal sekolah.

Sedangkan perluasan halaman meliputi, taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret. Sehingga luas ruangan dalam Masjid menjadi 4.760 meter persegi berlantai marmer buatan Italia, jenis secara dengan ukuran 60 x 120 sentimeter dan dapat menampug 9.000 jamaah. Dengan perluasan tersebut, serta 7 kubah, 4 menara, dan 1 menara induk atau disebut juga Tugu Daerah Modal dengan luas luas area sekitar 4 hektar. Oh tinggi tugu itu sekitar 45 meter yang menunjukkan tahun 1945.

Hasilnya, masjid ini memiliki 136 tiang bundar dan 32 pilar segi empat. Luas bangunan mesjid ini 56 x 34 meter,  serambi 12,5 x 10,5 meter yang mampu menampung sekitar 15 ribu jamaah hingga ke pelataran.

Terakhir perluasan Masjid Raya dilakukan pada masa Gubernur Aceh Zaini Abdullah dengan payung elektrical dan serta  basement yang bisa menampung kendaraan roda empat dan roda dua serta tempat wudhuk. Masih adakah perluasan masjid ini ke depan? apakah itu perlu?

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!