Mengaku Bersalah

GEMA JUMAT, 14 JUNI 2019

Paling tidak dalam setahun, umat Islam mengaku secara ikhlas dan terbuka dirinya bersalah, memohon maaf, dan memberi maaf. Momen berjamaah di seluruh dunia ini terjadi pada Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, menjelang Ramadhan, atau ketika mau berhaji atau umrah.

Kita menyaksikan pada 1 Syawal, secara sadar, spontan jutaan umat mengaku salah dan tanpa malu mengiba maaf. Tanpa ada perasaan malu merasa benar. Semua mengaku bersalah. Di luar momen itu, kita sulit menyatakan bersalah dan memohon dan memberi maaf.  Namun pada kesempatan itu, umat Islam secara berani menyatakan bersalah dan kadangkala termasuk meminta maaf kepada yang sahabat yang baru dikenal.

Selama Syawal dan Dzuhijjah, serta jelang Ramadhan, umat menyadari telah berbuat kesalahan kepada tetangga atau sahabatnya. Ucapan minta maaf atas kesalahan-kesalahan dilanturkan yang dijawab dengan memberi maaf. Intinya, saling memohon dan memberi maaf.  

Karena itu berangkat dari semangat ruh Idul Fitri dan Dzulhijjah selayaknya tetap membara pada bulan-bulan lainnya bahwa manusia tidak terlepas dari kesalahan-kesalahan. Sangat berbahaya merasakan diri selalu benar dan mengklaim pihak lain yang bersalah.

Salah satu pelajaran penting dari semangat Idul Fitri dan Idul Adha yakni berani mengaku bersalah atas kesalahan yang telah dilakukan secara sengaja atau tidak. Buang jauh-jauh karakter melemparkan kesalahan kepada pihak lain. selepas Ramadhan, kita tinggalkan cara buruk merasa benar atau merasa hebat. Jika kita memosisikan bahwa kita ada ada  kelemahan atau kekurangan, maka kita cenderung menyalahkan orang lain. Dengan demikian, kita selesaikan Ramadhan kembali menjadi fitrah, tidak menyebarkan fitnah.

Memasuki Syawal berarti memasuki bulan halal bi halal. Kegiatan halal bi halal digelar di berbagai tempat atau ormas. Inti halal  bi halal yakni merajut silaturrahmi yang tidak terjalin karena lokasi atau waktu berbeda. Hakikat silaturrahmi agar sesama umat terbina ukhuwwah untuk memutuskan berbagai dugaan yang berpotensial berdosa. Ramadhan dan Syawal adalah rangkaian yang pada akhirnya menuju manusia bertaqwa.

Berbagai masalah sosial muncul  sesama sahabat, rekan kerja, tetangga dan sebagainya terjadi karena  ada kesalahpahaman dugaan atau komunikasi. Maka melalui semangat Idul Fitri dan halal bi halal berbagai masalah bisa diselesaikan.

Oh ya sebutan  halal bi halal hanya ada di Indonesia.  adalah ulama KH Abdul Wahab Chasbullah salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama yang resah melihat kondisi Aceh pada tahun 1950-an. kondisi pemimpin yang tidak akur, terjadi perlawanan di berbagai daerah seperti DI/TII di Aceh, DI/TII Jawa Barat dan sebagainya.  Lalu ide tersebut disampaikan kepada Presiden Sukarno pada pertengahan Ramadhan agar digelar acara silaturahmi dengan para elit politik dan masyarakat pada Syawal.  Selama Syawal, kita meminta maaf tanpa diminta untuk meminta maaf dan memberikan maaf tanpa dimohon.

Sebutan halal bi halal tidak dikenal di Arab dan tak lumrah dalam susunan bahasa Arab. Hadits riwayat Muslim, kita menemukan makna halal sebagai memaaafkan. Rasulullah Saw bersabda, “Man kanat ‘indahu madzlimatun falyuhallilhu minha” (Barangsiapa yang berbuat zalim maka hendaknya dimaafkan/dihalalkan).

Ya begitu juga penulis, mohon maaf atas kesalahan atau kekurangan yang dituangkan  melalui kalam ini. [Murizal Hamzah]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!