Miftahul Jannah

GEMA JUMAT, 12 OKTOBER 2018

Hanya satu kata yang pantas diucapkan. Salut. Keberanian putri Aceh ini bikin sejagat dunia terkesima.  Adalah atlet blind judo Asian Para Games 2018 Miftahul Jannah yang didiskualifikasi karena menolak membuka jilbab pada pertandingan  di kelas 52 kg melawan penjudo  Mongolia, Gantulga Oyun, Senin (8/10/2018) di Jakarta.

“Lebih baik tidak terlihat di dunia daripada tidak terlihat Allah,” papar Miftahul.

Miftahul mengatakan sepengetahuannya atlet blind judo boleh menggunakan penutup kepala. Gadis kelahiran 21 tahun lalu rela namanya dicoret dari peserta demi mempertahankan perintah agama. Begitulah jika bela Merah Putih diundang ke Istana sebaliknya yang mempertahankan prinsip berjilbab, umat terlewatkan. Syukur masih ada dermawan yang mengapresiasi sikap Miftahul dengan memberikan tiket umrah.

“Mohon maaf, apa yang saya lakukan adalah bentuk harga diri dan menjaga marwah masyarakat Aceh yang dikenal dengan syariat Islam. Saya tidak ingin, menggadaikan, harga diri dan martabat Aceh hanya untuk gelar juara semata,” pungkas Miftahul.

Sehari kemudian, dia menegaskan pensiun dari judo dan beralih ke olah raga catur yang tidak melarang pemain berjilbab. Semua umat Islam di seluruh dunia kagum pada istiqamahnya mempertahankan jilbab. Komitmenya luar biasa. Organisasi internasional  judo melarang memakai penutup kepala/jilbab dengan alasan tidak aman bagi yang mengenakan

Kita semua sepakat, kutipan Miftahul sangat luar biasa yang menggelegar bumi. dirinya sudah berada pada tataran bahwa dunia ini hanya canda saja alias tempat bermain-main.  Di sangat yakin tidak perlu berlebihan/mengejar harta dan tahta jika itu menyebabkan semakin mendekat ke neraka. Dari Miftahul, kita belajar aksi yang memulus jalan ke surga. Sesuai dengan namanya Jannah.

Ketua National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, Senny Marbun, meminta maaf atas insiden yang menimpa judoka berhijab.

“Atas nama NPC saya minta maaf atas kejadian sangat memalukan sebetulnya tidak diharapkan terajdi di Indonesia. Saya akui NPC bersalah, karena mau bagaimanapun juga NPC harus tahu semua. Sebenarnya regulasi ada, tapi pelatih yang tidak mau tanya tentang itu. maka semua seperti ini,” dia menjelaskan.

Dia menerangkan pelatih judo tidak bisa bahasa Inggris. Dalam aturan dilarang berhijab, tapi aturan itu mengacu olahraga untuk semua, tidak ada diskriminasi. Aturan judo internasional artikel no 4 poin 4  menyebutkan bahwa tidak boleh ada apapun yang  yang menutupi kepala, tidak ada yang melindungi kepala. Semua aturan itu dibahas oleh peserta judo dan sepakat. Poin itu juga  menegaskan rambut panjang harus diikat sehingga tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada rambut.

“Semua aturan dalam Federasi Judo Internasional diulang dan dibahas oleh delegasi teknis dalam technical meeting sebelum pertandingan,” katanya.

Jadi larangan berjilbab sudah diketahui sebelum pertandingan. Semestinya larangan tersebut bisa dibahas/dinego lagi karena diikuti oleh satu-satunya penjudo musliman dari Indonesia.
Larangan berhijab bagi atlet Judo  untuk mencegah risiko tercekik atau tertarik oleh lawan.

Faktor keselamatan bukan diskriminasi agama adalah alasan di balik penetapan aturan tersebut

Pelarangan berjilbab pernah terjadi di cabang olahraga judo di Olimpiade 2012 di London.

Adalah Shaherkani yang diizinkan tampil di London setelah mendesain penutup kepala yang dianggap aman untuk olahraga judo.

Hikmah dari mundurnya gadis Aceh ini yakni  larangan terhadap berjilbab pada kejuaraan-kejuaraan internasional seperti ASEAN Para Games 2019 dan Paralimpiade Tokyo 2020 bisa direvisi dengan memodifikasi jilbab yang aman bagi penjudo dan lawannya. sekali lagi kita petik hikmah dari Dek Miftahul Jannah yang bermakna kunci syurga. (Murizal Hamzah)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!