Penceramah Radikal

GEMA JUMAT, 30 NOVEMBER 2018
Kita semua mempertanyakan hasil survei oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat  Nahdlatul Ulama.  Mereka  mengadakan survei terhadap 41 dari 100 masjid di lingkungan kantor pemerintah di Jakarta. Hasilnya,  penceramah di 41 masjid itu terpapar radikal. Ketua Umum Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla menyatakan ini sangat berbahaya.

“Masjid pemerintah saja radikal apalagi di tempat lain,” ungkap Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla mengingatkan umat harus hati-hati menanggapi survei tersebut. Jangan-jangan khatib berbicara amar ma’ruf nahi mungkar,  namun ditulis penceramah radikal. Masjid tidak radikal, yang dianggap berbicara keras itu diundang dari luar, bukan khatibnya masjid setempat.  Jusuf Kalla telah membaca hasil survei dan mengaku tidak paham mengapa masjid di kantor Menko juga termasuk masjid yang disebut radikal. Yang radikal itu penceramah, bukan masjid.

Jusuf Kalla menuturkan sebagian besar masjid di Malaysia dibangun oleh negara. Dampaknya kegiatan termasuk khutbah seragam. Maka pembukaan khutbah di Malaysia selalu mendoakan raja. Di Indonesia, tidak ada penceramah yang mendoakan presiden. Selalu kritik presiden.  Di Indonesia,  beberapa masjid seperti Masjid Istiqlal di Jakarta dikelola oleh negara. Selebihnya masjid dikelola oleh umat.

Ketua Dewan Masjid Indonesia itu menjelaskan di Malaysia, Timur Tengah, dan lain-lain pegawai masjid, marbot (pelayan masjid)  pegawai negeri dan penceramah yang diundang yang mendapat rekomendasi dari negara/kerajaan. Di Indonesia yang terlibat dalam masjid adalah masyarakat.  Dengan dikelola oleh masyarakat, Indonesia dikenal sebagai negara dermawan membangun masjid.

Kembali pada metode peneliti survei?  Mereka merekam khutbah Jumat atau kuliah tujuh menit secara visual dan audivisual. Hasil rekaman itu dianalisa oleh lima pakar yang membagi penceramah dalam radikal ringan, radikal sedang, dan radikal berat. Selayaknya hasil survei ini untuk internal dan diperbaiki di kalangan 41 pengurus masjid. Jika sudah dipublikasikan, terungkap masjid di lingkungan pemerintah  diisi oleh penceramah radikal.

Peneliti menyebutkan kriteria penceramah radikal adalah pertama, sikap terhadap konstitusi nasional, NKRI, Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika. Kedua,  sikap terhadap pemimpin non muslim. negara ini sudah sepakat semua orang punya hak yang sama untuk menjadi pemimpin. Ketiga, sikap terhadap agama yang lain. Keempat, sikap terhadap kelompok minoritas, suku, adat. Dan terakhir kelima sikap terhadap pemimpin perempuan. Nah jika sikap negatif,  peneliti menganggap penceramah itu radikal.

Bagaimana posisi umat terhadap penceramah?  Ada berbagai kriteria penceramah yang dilabelkan oleh berbagai pihak kepada penceramah. Ada satu hal yang perlu diingatkan oleh pendakwah yakni isi ceramah tidak menimbulkan masalah baru bagi umat. Masyarakat tidak bertindak kasar setelah mendengar ceramah. Sangat berbahaya jika penceramah menyalahkan pihak lain atau mazhab yang berbeda dengan mazhabnya karena  itu memicu konflik sesama umat. Jika sesama umat ribut, yang non Islam tepuk tangan bahagia.

Untuk hal-hal sensitif, ustad mesti berpikir sedalam-dalamnya agar tidak muncul masalah di masyarakat. Penceramah setelah naik mimbar kembali  ke tempat asalnya. Sebaliknya di tempat yang diceramahi sudah beredar benih-benih keributan karena salah memahami isi ceramah.

Menghadapi masalah ceramah,  Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengeluarkan seruan ceramah yang ditujuka kepada  penceramah agar bisa mawas dan mengukur diri terkait isi ceramahnya, Kedua,  pengurus masjid punya andil dalam menghadirkan penceramah. Pilihannya di pengurus masjid, mau menghadirkan penceramah yang menyejukkan, mendamaikan, atau sebaliknya. Ketiga ukuran kepantasan ceramah ada pada masyarakat.  umat punya patokan menilai suatu ceramah itu pantas disampaikan atau tidak.

“Jangan ceramah menyalahkan, memaki, dan merendahkan orang lain,” pinta Lukman.

Dan dalam minggu ini, seorang ustad dalam ceramahnya menghina pemimpin negara. sungguh tidak sopan. Padahal di atas ilmu pengetahuan itu ada adab. [Murizal Hamzah]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!