Poligami

GEMA JUMAT, 19 OKTOBER 2018

Ceramah singkat yang saya simak 15 tahun lalu masih membekas hingga kini. Di bawah terangan lilin – karena tiba-tiba  lampu padam dan tidak ada genset –  bapak itu berbicara tentang poligami. Sejatinya, bab poligami tidak masuk dalam bagian pembicaraan. Namun tiba-tiba kepala dinas agama itu mengupas perihal poligami.

“Kalau alasan poligami  ikut Sunnah Nabi, maka ikutilah seperti Rasulullah,” jelasnya.

“Maksudnya,”  sidik saya keheranan.

“Apakah istri Nabi yang pertama itu seorang gadis atau janda?” tanyanya.

Kemudian sang ustad – demikian sapaan – menguraikan puluhan tahun, Rasulullah hanya punya satu istri alias monogami.

“Jika alasan poligami ikut Rasulullah, maka istri pertama itu seorang janda yang lebih tua daripada usia suami. Istri kedua juga janda,” jelasnya serius.

Lazimnya suami berpoligami berdasarkan dua hal yakni merujuk An-Nisa ayat 3 dan mengikuti sunah Nabi.  Sejatinya mengikuti jejak kehidupan Nabi secara cermat,  justru pada awalnya Nabi adalah monogami alias 1 istri.

Nabi Muhammad SAW berumah tangga dengan Khadijah selama belasan tahun. Sedangkan poligami yang dilakukan Nabi hanya sekitar 10 tahun.  Nabi Muhammad SAW berpoligami setelah Khadijah wafat. Rasulullah menikah lagi  untuk menolong janda-janda sahabatnya yang wafat perang membela Islam

Sementara Al-Quran yang menjadi acuan poligami menitikberatkan pada sikap suami yang adil. Sikap adil ini relatif dan ukurannya melibatkan perasaan. Bisa saja suami dari aspek harta memberikan fasilitas rumah, mobil dan lain-lain yang sama. Namun dari perasaan kasih sayang yang bersifat perasaan sulit bisa diberikan hal yang sama.

“Ustad, ada yang berargumen, poligami dilakukan untuk menghindari zina?” saya balik tanya.

Ustad menerangkan, kalau alasan itu yang disodorkan, maka akan terus berpoligami. Selayaknya nafsu seks itu dikendalikan dengan berpuasa sunnah atau kegiatan sosial lain yang lebih berfaedah.

Memang disadari, poligami dalam kasus tertentu seperti membantu janda dan anak korban konflik dan lain-lain menjadi solusi. Kita jarang menjumpai suami berpoligami karena alasan itu. Mayoritas berpoligami dengan istri yang lebih muda, lebih menarik, lebih carong, dan pokoknya lebih segalanya dibandingkan istri pertama.

Hanya pria yang bermental berani yang siap menyandang status poligami karena memiliki kelebihan harta, tahta dan keberanian mengutarakan isi hatinya dan meminta izin/memberitahu kepada istri pertama. Poligami tidak dilarang dalam Islam dan tidak dianjurkan. Pilih dan pilah sebelum memutuskan berpoligami. Dalam beberapa kasus, istri pertama mengantar karier suaminya ke gerbang kekuasaan. Setelah berada di tampuk kekuasaan, suami berpoligami yang kadangkala justru istri kedua mengantar suami dan dirinya ke gerbang penjara karena kasus korupsi dan sebagainya. (Murizal Hamzah)

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!