Proklamasi di Ramadhan

GEMA JUMAT, 17 MEI 2019

Jika umat Islam di Indonesia menggunakan almanak hijriyah, maka 9 Ramadhan 1440 H atau Selasa, 14 Mei lalu,  kita mengikuti upacara Proklamasi Indonesia ke-74.  Seperti sama-sama kita ketahui, proklamasi Indonesia digaungkan pada Jumat, 9 Ramadhan 1364  H.

Rencana proklamasi Indonesia diawali ketika kekuasaan Jepang kosong setelah dua kota itu dibom oleh Amerika Serikat. Pemuda menculik Soekarno dan mendesak segera melakukan proklamasi. Menurut pemuda, ini kesempatan untuk mengumumkan kemerdekaa. Jangan sampai Jepang membantu proklamasi ini. Proklamasi Indonesia pada 1945 namun  Belanda mengakui Indonesia merdeka berdaulat pada 1945.

Sukarno menolak proklamasi secepatnya dengan alasan tanpa persiapan matang. Dia menawarkan 17 Agustus 1945 yang dianggapnya  angka suci, di bulan berkah Ramadhan. Menurutnya, kesucian angka 17 bukan buatan manusia. 

Lalu pada  Jumat dini hari, 17 Agustus 1945, duet Sukarno-Hatta mengadakan rapat di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda- warga Jepang – yang bersimpati kepada perjuangan Indonesia. Berbekal nasi goreng, roti telur, dan ikan sarden untuk teman sahur, rapat semalam suntuk itu berakhir. pada dini hari Ramadhan,  di ruang makan Laksamana Maeda dirumuskan naskah proklamasi oleh Sukarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo. Proses ini juga disaksikan golongan muda seperti Sukarni, Sudiro, dan BM Diah. Sementara, dari pihak Jepang ada S. Miyoshi dan S. Nishijima. Setelah proklamasi ditulis tangan, kemudian diketik teks tersebut. teks proklamasi yang ditulis tangan itu kemudian dibuang ke tong sampah.  Kemudian wartawan BM Diah – kelahiran Banda Aceh – memunggutnya dokumen bersejarah itu dan menyimpannya.

Mereka memutuskan proklamasi dikumandangkan di halaman rumah Bung Karno pukul 10.00 pagi. Upacara proklamasi itu tanpa protokol. Tidak ada persiapan dan tanpa rencana.
Fatmawati istrinya Sukarno menjahit bendera yang dipasang di tiang bambu. di bawah teks proklamasi tertulis Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 05 Atas nama bangsa Indonesia, Sukarno/Hatta  Tahun 05 adalah tahun Jepang.

Dalam buku Sekitar Proklamasi, Hatta mengatakan dirinya makan sahur di kediaman Laksana Maeda.  Makanan itu disiapkan oleh Satsuki Mishina asisten rumah tangga Maeda dan satu-satunya perempuan di rumah tersebut.  Dia menyiapkan nasi goreng, telur dan ikan sarden. Setelah selesai masak, Sukarno, Hatta dan Achmad Soebardjo menyantap makan sahur, sementara Sayuti Melik menyelesaikan tugasnya untuk mengetik naskah proklamasi  dengan mesin ketik yang berada di Konsulat Jerman (dekat rumah Maeda).

Mereka sepakat membaca teks proklamasi di rumah Sukarno, Pegangsaan Timur Nomor 56 yang sekarang menjadi Tugu Proklamasi.

Setelah sahur, Sukarno dan Hatta kembali ke rumah masing-masing. Beristirahat beberapa jam saja, mereka memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. besoknya Sukarno dilantik sebagai presiden dan Hatta sebagai wapres.  Lantas, apa perintah pertama presiden Republik Indonesia ini?  Dalam autobiografinya, Sukarno berkisah pulang pada petang hari dan melihat pedagang sate tak berbaju. Sukanor pesan “Sate ayam 50 tusuk.”  Setelah itu, Sukarno jongkok dengan lahap dekat selokan, menyantap menu berbuka puasa.

Nah kapan Aceh mengetahui proklamasi RI?   Secara umum baru mendengar pada 29 Agustus 1945 yang masih bulan Ramadhan. Sedangkan staf kantor berita Hodoka di Kutaradja dan surat kabar Atjeh Simbun sudah mendengar pada 21 Agustus 1945. [Murizal Hamzah]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!