Qurban Keshalehan Sosial

Gema JUMAT, 02 SEPTEMBER 2016

Oleh Murizal Hamzah

 

Insya Allah pada 12 September mendatang, umat Islam di seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Haji atau disebut juga Hari Raya Qurban. Pusat Hari Raya Haji sedunia ini tepusat di Padang Arafah, yaitu oleh jamaah haji menyempurnakan manasik hajinya. Sebagaimana diketahui, makna Hari Raya Qurban sangat mendalam. Tidak diragukan lagi, salah satu kegiatan yang dilakukan pada Hari Raya itu yakni memotong qurban.  Kaum alim ulama mengingatkan bahwa qurban mengajar warga untuk memberi, mengasah sifat sosial, meningatkan peduli pada lingkungan.  Jangan sebut berduit jika belum berqurban setiap tahun.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan. Maka sesungguhnya Allah mengetahui-Nya.”  (QS. Ali Imraan(3): 92)

Di sisi lain, melalui qurban diharapkan dapat membinasakan karakter rakus atau kebinatangan dalam kehidupan sehari-hari. Sifat menang sendiri, ego, dikuasai oleh nafsu  dan sebagainya adalah perangai milik  binatang yang tidak boleh bersarang pada manusia.   Tidak peduli pada derita warga di sekitar rumah kita bukanlah  ciri umat Islam.  Setiap muslim diwajibkan peduli dan bertanggung jawab terhadap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.

Rasulullah SAW mencela orang Islam yang acuh tak acuh terhadap kepentingan masyarakat dan mengabaikan perjuangan agamanya. Bila berhaji berulang kali namun tidak peduli pada warga yang miskin di sekitar lingkungannya, maka yang bersangkutan belum memiliki makna berhaji.

Kita paham, melalui qurban, umat harus belajar pada kepatuhan dan keikhlasan Nabi Ibrahim yang rela menyembelih anaknya Ismail.  Untuk selanjutnya, kita sudah paham alur kisah tersebut. Memang kisah ini gampang diputar  setiap saat dan butuh waktu untuk menerapkan berqurban dalam berbagai aspek kehidupan. Ada saja alasan untuk menunda atau tidak melaksanakan qurban tahun ini berdalih pada berbagai kebutuhan lainnya.

Di balik penerapkan qurban, kita bisa memetik ilmu yakni umat Islam sangat membutuhkan kerbau per tahun untuk diantarkan pada penyembelihan qurban. Ini peluang aspek ekonomi. Tidak perlu khawatir jika kerbau atau sapi yang diterna tidak memiliki pangsar atau pembeli. Semestinya umat dapat memenuhi kebutuhan hewan qurban dari umat tanpa perlu mengimpor dari luar negeri.

Sisi lain penerapan qurban yakni membuat gembira dan sehat warga dhuafa. Paling tidak setahun sekali atau dua kali, kaum dhuafa merasakan nikmatnya daging yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tubuh agar lebih sehat dan kuat.

Qurban, berzakat dan lain-lain adalah ibadah yang bersifat personal sekaligus umat. Dampak ibadah ini dirasakan oleh kaum dhuafa. Pelaksanaan qurban secara istiqamah adalah salah satu cara melepaskan umat dari perangkap kemiskinan dan kebodohan. Tunda membeli barang-barang yang Anda inginkan dengan mengalihkan untuk berqurban baik secara per individu atau berjamaah.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!