Qurban untuk Jiran

GEMA JUMAT, 27 JULI 2018

Konsep  peduli pada jiran dalam radius 40 rumah sangat patut diamalkan. Setiap umat Islam menjaga agar jiran-jirannya dalam jarak 40 rumah tidak kelaparan. Selalu ada makanan yang bisa dimakan. Demikian Islam mengatur umat untuk peduli kepada jiran-jirannya.
Sangat ironis jika kita aktif membantu warga di luar negeri tetapi tetangga di depan mata hidup dalam nestapa.  Kita memastikan jiran-jiran selalu bisa mengisi lambung agar mereka tidak busung lapar yang menyebabkan kematian. Kabar warga satu gampong yang wafat karena tidak makan berhari-hari adalah tamparan telak kepada umat yang merasa dirinya telah beribadah maksimal.
“Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, Bukanlah orang yang beriman yang ia sendiri kenyang sedangkan tetangga di sebelahnya kelaparan.” (HR. Baihaqi).
Kita pantas usap dada menyimak laporan yang dikeluarkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (UN FAO)  pada tahun 2015. Data itu menyebutkan, krisis pangan yang melanda banyak negara telah menyebabkan jumlah orang lapar mencapai 1,02 miliar orang. Jumlah ini naik 11 persen dari tahun sebelumnya 915 juta orang. Ironisnya, golongan orang lapar terbesar adalah anak-anak akibat gizi buruk, krisis sosial-politik-militer dan krisis pangan yang melanda negeri mereka.
Lebih mengejutkan lagi, riset UN FAO ini mengatakan, 65 persen dari jumlah orang yang terjebak kelaparan, tujuh negara dikategorikan sebagai penyumbang terbesar. Indonesia salah satunya. Enam negara lain China, India, Kongo, Bangladesh, Pakistan, dan Ethiopia. Bisa jadi data ini benar atau bohong. Selayaknya Indonesia   sebagai negara dengan mayoritas umat Islam tidak ada warga yang kelaparan. Sesama umat diikat dengan persaudaraan Islam. Dalam tali akidah, derita saudara muslim adalah nestapa saudaranya juga.
Bagaimana mengurangi warga yang kelaparan di sekitar tempat kita menetap? dalam keadaan darurat yakni menyediakan kebutuhan sehari-hari kepada mereka. Langkah selanjutnya melatih keahlian agar jiran bisa mengumpulkan rezeki dengan keahliannya.  Ya pendidikan bisa melepaskan belenggu kebodohan dan kemiskinan yang memasung umat.

Nah dalam hal ini,  setiap ajaran Islam memiliki inti multidimensi. Saling terkait antara perintah yang satu dengan perintah lain. Demikian juga dalam instuksi berqurban. Kita sudah paham, kewajiban berqurban  berdampak spiritual dan sosial, vertikal dan horizontal. Qurban bukan hanya ritual tahunan berbagi-bagi setumpuk daging. Makna qurban lebih dari itu yakni memberi semangat ukhuwah, distribusi kekayaan, berbagi kebahagian serta pemerataan kenikmatan.
Bagi kaum dhuafa, asupan daging setahun sekali sangat penting  sebagai sumber protein  hewani yang mencerdaskan otak. Mereka tidak harus menunggu setahun sekali untuk menikmati daging sapi/lembu segar. Untuk itu konsep memberikan daging kepada kaum papa perlu dilakukan sebulan sekali dengan memberikan beberapa kilogram daging. Kita percaya dengan gizi yang cukup akan melahirkan anak-anak cerdas dari keluarga dhuafa.
Sangat benar dan terbukti apa yang disabdakan Rasulullah yakni “Kemiskinan bukan ditentukan oleh tidak dimilikinya satu atau dua biji kurma. Tetapi ditentukan oleh ketidakmampuan mengelola sumber daya.”
Untuk itu melalui qurban pada Idul Adha Agustus mendatang, daging qurban juga bisa disantap oleh warga di pelosok-pelosok Aceh. Ulama sudah berfatwa, daging qurban bisa dikalengkan dan dikirim ke wilayah-wilayah rawan kelaparan atau bencana alam.
Daging qurban kaleng yang bertahan berbulan-bulan ini harus dipahami sebagai salah satu solusi mengurangi kaum dhuafa, memeratakan kesejahteraan, dan mendorong ketahanan pangan rakyat menengah ke bawah. Kita dukung aksi tebar hewan qurban yang berdampak kepada berbagai pihak.  [Murizal Hamzah]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!