Saweu Gampong

GEMA EDISI KHUSUS Idul fitri 1438H / 2017M
Oleh Murizal Hamzah

Jumat ini terakhir kita berada dalam koridor bulan Ramadhan. Menjelang Idul Fitri, kita diwajibkan berzakat fitrah. Pada waktu bersamaan, sebagian umat Islam melakukan wok u gampong alias mudik. Paling kurang setahun sekali, warga yang merantau jak saweu gampong ke tempat kelahirannya atau orangtua menetap. Wok u gampong adalah bagian dari menjalin silaturrahim dengan rekan-rekan di masa kecil atau sekedar bernostalgia.

Menjelang mudik, kita mengatur segala hal yang dibutuhkan di gampong halaman. Bekal-bekal selama perjalanan hingga hadiah untuk saudara, kerabat serta tetangga. Dengan segenap hati kita menyediakan segala kebutuhan selama di gampong halaman. Bahkan kita mengatur agenda kegiatan dari ziarah ke makam nenek,kakek, orangtua dan sebagainya serta rekan sejawat. Begitu lengkap kita mempersiapkan jak saweuk gampong agar target terpenuh.

Tidak diragukan lagi, jak saweu gampong sangat berdampak dari aspek agama yakni membangun kembali silaturrahim yang telah dirintis oleh orangtua untuk dlanjutkan kembali oleh anak atau famili lain.

“Barangsiapa ingin dilapangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung tali silaturrahim. (HR Bukhari). Jika kubu agamais menyebut itu sebagai silaturrahim, maka kalangan pengusaha menyatakan sering-seringlah mengadakan lobi dengan berbagai pihak terutama dengan awak birokrat yang memiliki banyak proyek.

Dari aspek ekonomi, tidak bisa dibantah lagi saweu gampong memobilisasi roda ekonomi karena terjadi perputaran uang dari kota ke gampong. Berbagai jual beli di gampong berdampak ekonomi di gampong yang minim bisa mendadak melambung selama Idul Fitri.

Dari aspek sosial, melalui tradisi saweu gampong mengajar umat Islam untuk menghormati yang tua, sudi memberikan hadiah atau kenang-kenangan dari kota atau luar negeri. Rasulullah berulang kali mengingatkan umatnya untuk tidak pelit serta peduli memberika hadiah kepada orang yang patut diberikan. Tujuan hadiah ini sebagai sarana menguatkan persatuan dan kasih sayang. Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah. Karena hal itu akan membuat kalian saling mencintai.” (HR. Baihaqi).

Begitulah kita mempersiapkan segala hal untuk jak saweu gampong untuk beberapa hari. setelah masa cuti atau kegiatan berakhir di gampong, maka kita kembali ke kota untuk melanjutkan aktivitas jihad dengan bekerja di berbagai sektor. jika untuk mudik yang tidak seminggu ini kita persiapkan secara sempurna dengan harapan tidak ada yang tertinggal, maka sejatinya ada mudik hakiki yang kita tidak kembali lagi yakni mempersiapkan bekal kematian.

Tidak semua orang bisa saweu gampong karena faktor kurang fulus, kesibukan kerja, tidak ada lagi sanak saudara di gampong dan sebagainya. Namun pasti setiap orang akan menunaikan mudik abadi ke alam barzakh. Mudik ke gampong bisa diatur dalam waktu beberapa hari dan kita bisa kembali ke tempat asal. Sebaliknya persiapan mudik abadi perlu waktu bertahun-tahun mengumpulkan amaliah dan kita tidak bisa kembali pulang ke dunia fana untuk menambah bekal ke akhirat.

Mudik di dunia adalah pelajaran singkat agar kita bisa dapat mempersiapkan bekal yang lebih baik menuju mudik akhirat. “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaikbaik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (Q.S, al-Baqarah :197)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!