Syariat Islam, Jangan Nafsi-nafsi

GEMA JUMAT, 7 DESEMBER 2018

Oleh: Nurjannah Usman

Islam agama yang paling sempurna diantara agama lainnya. Sehingga Islam telah mengatur kehidupan ummat muslim dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dengan aturan yang telah ditetapkan dalam Al Quran dan sunnah.

Syariat Islam dibentuk daripada gabungan tiga unsur utama yaitu akidah, syariah dan akhlak sebagaimana yang telah diutarakan oleh para ulama. Syariah sebetulnya adalah sebahagian daripada ajaran Islam, sering orang menyamakan pengertian syariat Islam dengan fiqh dan hukum Islam.

Pelaksanaan syariat Islam di Aceh mulai diberlakukan sebagai otonomi khusus, dalam kerangka otonomi khusus ini pula, Aceh mendapat otoritas secara undang-undang untuk menyusun dan memberlakukan qanun syariat Islam di Aceh.

Syariat Islam di Aceh bukan hanya yang berkaitan dengan aspek uqubat dan jinayat saja, tetapi mencakup bidang yang luas dalam segala segi kehidupan, termasuk bidang pendidikan, ekonomi, politik, kesenian, olah raga, kesehatan dan lain sebagainya.

Semua hal telah diatur dalam Islam, bukan hanya sekedar simbol ketika penerapan Islam di Aceh itu dijalankan tidak hanya cukup di papan yang berdiri tegak dipinggir jalan dan sudut-sudut kota. Tetapi ajaran Islam harus benar-benar dijalankan dengan setulus dan seutuhnya karena Allah.

Dengan demikian Insya Allah tidak lagi kita temukan pasangan non muhrim bersarang dimana-mana, penyalahgunaan narkoba terus merajalela, pembunuhan terus terjadi, korupsi terus meningkat, orang tua tidak lagi dihormati, guru tidak lagi dihargai, berbagai polah kasus kehidupan terus saja terjadi di lingkungan kita.

Terkadang kita malu mengaku negeri otonom syariat Islam, dengan berbagai kejadian diatas terus saja terjadi di Aceh. Siapa yang harus disalahkan? Pejabat, orang tua, guru, aturan desa, wakil dewan, siapa?

Kita tidak tau lagi dimana dasar permasalahan tersebut terjadi, pemuda pacaran dan bermesraan di depan umum tanpa ada takut dan malu, kenapa itu bisa terjadi?

Intropeksi diri itu sangat penting untuk pembenahan yang lebih baik. Mungkin saja aturan kampong yang tidak tegas, orang tua yang tidak lagi sadar menanam budi pekerti yang baik pada anak-anaknya, sehingga hal-hal demikian tidak lagi menjadi larangan dalam sebuah keluarga. Masyarakat sekitar merasa tidak perlu menegur dan melarang perbuatan tersebut karena tidak mau ikut terbawa masalah.

Begitu pula dengan kejadian-kejadian yang lain mudah saja terjadi di lingkungan kita karena budaya masyarakat kita sudah cenderung hidup nafsi-nafsi tidak lagi saling menjaga dan mengingatkan. Siapa yang merubah budaya Aceh yang konon sangat detektif dengan keadaan sekitar, dari zaman dahulu ketika terdapat kejadian-kejadian aneh didalam kampong semua lini masyarakat bekerja sama tidak melihat itu anak siapa, tetapi bangkit semua untuk mengharumkan nama desa masing-masing.

Mari kita bersatu dalam menjalankan syariah, jangan pernah kita berpikir yang berhak melarang itu hanya Dinas Syariat Islam atau WH dan sebagainya. Tetapi semua pelaku syariah sama-sama kita harus menjaga demi Islam yang harum di Aceh kembali lagi kita raih dengan kekompakan kita semua orang Aceh.

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!