Wali Kota Bandung

Gema JUMAT, 15 Januari 2016

Oleh : Murizal Hamzah.

MARET 2015, Wali Kota Bandung Ridwal Kamil meluncurkan   Kredit Melati (Melawan Rentenir) kepada warga miskin yang butuh modal usaha. Realisasnya, mulai 15 April 2015, kredit itu diberikan kepada warga dari alokasi anggaran Pemerintah Kota Bandung Rp 32 miliar. Tujuan pinjaman ini agar warga Bandung tidak terjerat rentenir yang merajalela di kalangan pelaku ekomomi menengah ke bawah. Wali Kota Bandung menyebutkan, pinjaman ini tanpa bunga. Cukup membayar administrasi lalu dapat pinjaman dari Rp 500 ribuRp 30 juta. Syarat memperoleh kredit ini memiliki KTP   Kota Bandung dan perencanaan bisnis yang menyakinkan. Demikian tulis Wali Kota Bandung pada Maret 2015.

“Pinjaman itu untuk modal usaha apa saja kecuali untuk biaya kawin lagi. Hatur Nuhun,” tulis Ridwan Kamil. 9 Januari lalu, kembali Wali Kota Bandung menunlis dampak kehadiran Kredit Melati yakni sekitar   7.000 warga menengah bawah dan miskin Kota Bandung yang menerima kredit mikro Melati yakni sekitar 6.000 orang via kelompok (1.200 kelompok x 5 anggota), 1.000 orang via sendiri. Yang menarik, tulis Ridwan Kamil yakni   selama 8 bulan, tidak ada satu pun yang menunggak bayar (NPL =0). Dan ada yang sudah lunas pinjaman padahal belum setahun, dan meminjam lagi dengan lebih besar.

Tandanya Usaha mikronya maju Keberpihakan Pemerintah Kota Bandung via BPR Kota Bandung ini akan dijadikan unggulan agar warga Bandung bisa membaik kehidupan ekonominya. Untuk melawan kemiskinan, kredit Melati tidak perlu agunan, cukup berkelompok 5 orang. Suatu hal   yang menarik, Ridwan Kamil menulis mari jadi manusia tangan di atas, bukan manusia yang bangga tangan selalu di bawah. Mari ubah hidup dengan kerja keras dam turun tangan bukan dengan menunggu uluran tangan.

Mari jadi pemberi zakat bukan penerima zakat. Menginspirasi bukan menakuti. Memotivasi bukan memaki. Menjemput perubahan bukan menunggu. Merangkul bukan memukul. Turun tangan bukan tunjuk tangan. Bagaimana dengan Kota Banda Aceh? Kita paham, di Pasar Atjeh, Pasar Peunayong, dan lain-lain, nyak-nyak alias penjual kaki lima butuhkan modal usaha. Ada info, nyak-nyak itu terpaksa berutang pada Bank 47 alias pada renternir. Kita berharap, gebrakan Wali Kota Bandung yang memberikan modal kepada pedagang kecil dapat juga diterapkan oleh Wali Kota Banda Aceh. Selama ini, Wali Kota Banda Aceh dikenal aktif melakukan syiar Islam seperti razia ke hotel-hotel atau tempat yang diduga menjual minuman keras. Secara berkala, menyelenggarakan ceramah akbar dengan penceramah dari luar Aceh.

Gerakan pemberdayaan ekonomi kerakyatan atau masyarakat menengah di Banda Aceh dan seluruh Aceh mesti menjadi prioritas wali kota atau bupati. Memberikan modal usaha kepada yang serius berusaha adalah salah satu cara mengurangi angka pengangguran sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Dampak dari kebangkitan ekonomi ini yakni semakin meningkat pemberi zakat sehingga penerima zakat bisa berkurang.   Seperti dikatakan oleh Wali Kota Bandung, banggalah menjadi pemberi bukan penerima shadaqah atau zakat. Dalam hal ini, warga membutuhkan aksi nyata dari pemimpin Kita terus meminta – bukan menunggu Wali Kota Banda Aceh- untuk melakukan terobosan di bidang ekonomi sehingga modal kerja bisa berputar di kalangan menengah bawah. Menjadi wali kota atau bupati adalah menjadi pelayan warga yang antara lain mengalokasikan anggaran kepada pelaku ekonomi. Ini modal usaha yang berstatus utang yang wajib dibayar oleh penerima kredit.

Kita merindungkan semoga suatu saat, ada status wali kota atau bupati di Aceh yang menyalurkan modal usaha kepada pelaku ekonomi sehingga roda ekonomi bergeliat di Serambi Mekkah. Kita tidak butuh status pejabat yang berfoto ria di luar negeri berselimut cari investor ke daerah.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!