Milad Gema ke 24: Hadir Untuk Pemersatu Umat

GEMA JUMAT, 8 SEPTEMBER 2017

SYUKUR Alhamdulillah  Tabloid “Gema Baiturrahman” telah berusia 24 tahun. Tahun depan sudah seperempat abad. Gema hadir di tengah-tengah umat dengan tujuan yang sangat mulia, yakni menjalin ukhuwah antar jamaah, menuju Islam sempurna ( kaffah) dan mencerdaskan  pemikiran umat Islam, membuka cakrawala berpikir. Gema adalah media pencerahan, bukan penjumudan (pembodohan, tertutup akal) Gema  Baiturrahman tetap bijak dalam membaca  dinamika  umat.Gema Baiturrahman selalu menjadi penawar dan pendingin suasana. Jika ada gesekan umat mengenai hal-hal khilafiah, Gema  berusaha meredam, bukan memanas-manasi. Kami tidak mau masuk dalam arus gelombang yang bisa membawa mudharat. Pesatuan umat lebih penting di atas segalanya. Kami selalu berusaha agar masjid ini (Baiturrahman) menjadi masjid semua umat Islam, bukan masjid eklusif yang hanya digunakan oleh satu pihak saja.

Sebagai sebuah masjid besar yang punya nama mendunia, masjid ini harus sejuk lahir batin,tidak boleh ada kekerasan di sini, tidak boleh saling menohok sesama muslim. Semua mazhab boleh shalat di sini, asal tidak keluar dari aqidah yang benar. “Ini masjid ibukota Aceh,maka harus elastis, jangan terlalu kaku”.  Pemikiran tersebut dipesan kepada kami oleh Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman  waktu itu, Almarhum Tgk. H. Soufyan Hamzah. Imam Besar sekarang, Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA juga berpesan demikian.

Di awal kelahirannya, Gema diasuh oleh Pengurus Remaja Masjid Raya saat itu. Kita tak bisa melupakan nama-nama,   Ameer Hamzah (Ketua Pengarah) H. Basri A Bakar,(Ketua Sidang Rdaksi), Para Redaktur:  H.  Jakfar Puteh, Mahlil Idham, Sayed Muhammad Husin, M. Nur Ar, Sadri Ondang Jaya, Fairuz M. Nur, Murizal Hamzah, Ria Ison,  Iswadi,  Nora Faulina, Nur Ajmi, Nurbaiti, Nurjannah,  dan sejumlah sahabat  (wartawan) yang lain yang turut mengasuh dan membesarkan nama Gema Baiturrahman. Setelah reformasi istilah Ketua Pengarah digati dengan Pemimpin Umum, dan Ketua Sidag Rdaksi menjadi Pemimpin Redaksi.

Perlu dicatat, sebelum Gema Baiturrahman hadir, juga sudah pernah terbit “Koran Media Baiturrahman” bukan tabloid. Koran yang berukuran besar itu dipimpin oleh H. Bakri Usman dan  Basri A Bakar. Koran itu cuma terbit dua edisi. Kemudian tutup. Gema Baiturrahman bukanlah ingkarnasi dari Koran Media Baiturrahman. Gema adalah tabloid, sedangkan Media Baiturrahman adalah bentuk koran. Dan Gema tidak mewarisi apapun dari Media Baiturrahman.

Dalam perjalanan panjang Gema Baiturrahman, berbagai tantangan menghadang di depan. Berkali-kali “Gema” kehabisan nafas, jatuh bangun dan jatuh lagi. Gema juga tidak terbit beberapa Jumat setelah Gempa dan Tsunami  2004. Kantor Gema pun  tidak bisa digunakan. Banyak alat kantor yang rusak, tidak bisa digunakan lagi. Tantangan lain adalah, masalah ongkos cetak . Kami tidak malu-malu menghadap Gubernur Aceh  supaya ditanggulangi dana.

Syukur, sekarang dana ongkos cetak telah ditanggung oleh Masjid Raya Baiturrahman. Dengan demikian nafas Gema menjadi lega. Insyaallah Gema tetap menjeguk pembacaya setiap pagi Jumat. Silakan membacanya lebih awal, sebelum khatib naik mimbar. Jangan membaca jika khatib sedang berkhutbah. Gema  sebaiknya dibawa pulang dan disimpan. Rubrik-rubrik di Gema itu semua bermanfaat, terutama  isi khutbah. Dirgahayu Gema. Semoga panjang umur.[Ameer Hamzah]

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!