Rezeki Dijamin Allah, Jangan Halalkan Segala Cara

GEMA JUMAT, 20 JULI 2018

Salah satu hal yang paling menyibukkan banyak orang dalam kehidupan di dunia ini adalah persoalan rezeki. Kebutuhan akan rezeki ini pula yang banyak membuat manusia menjadi lalai dengan tugas pokoknya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Padahal, konsep rezeki untuk seluruh makhluk di dunia ini tanpa terkecuali sudah ditanggung dan dijamin oleh Allah sebagaimana ditegaskan dalam Alquran Surat Hud ayat 6 yang artinya “Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya”. Dan Allah tidak mungkin mengingkari janji-Nya.

 

Hanya saja dalam mendapatkan rezeki Allah tersebut, manusia perlu berikhtiar dengan berbagai usaha seperti bekerja. Hanya saja, dalam usaha mencari rezeki tersebut, jangan sampai kita menghalalkan segala sehingga rezeki yang didapat menjadi haram dan mengurangi jatah rezeki halal.

Demikian antara lain disampaikan Ustaz Dr. M. Yasir Yusuf, MA (Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry) saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu (18/7) malam.

“Jumlah rezeki kita sudah dijamin oleh Allah dan tidak akan berkurang atau bertambah. Hanya saja kita mau pilih yang halal atau haram. Jika kita menghalalkan segala cara, maka rezeki kita lebih banyak yang haram dan mengurangi jatah rezeki halal,” ujar Ustaz Yasir Yusuf.

Dijelaskannya, setiap jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rezekinya. Sehingga siapapun yang masih hidup pasti diberi jatah rezeki oleh Allah sampai dia mati, maka selesai lah rezeki untuknya.

Hakekat dari rezeki kita adalah apa yang kita konsumsi dan yang kita manfaatkan. Sementara yang kita kumpulkan belum tentu menjadi jatah rezeki kita. Karena itu, sekaya apapun manusia, sebanyak apapun penghasilannya, dia tidak akan mampu melampaui jatah rezekinya.

Ustaz Yasir menyebutkan, manusia secara umum harus berusaha untuk mendapatkan rezekinya. Makin rajin dia berusaha meskipun bukan dengan cara halal dan dia tidak taat pada Allah, maka makin banyak dia kumpulkan harta kekayaannya, meskipun itu belum tentu menjadi rezeki untuk dia.

Sementara bagi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, maka Allah akan membuka banyak jalan kemudahan rezeki baginya meskipun tidak banyak berusaha.

‎Hal itu sebagaimana ditegaskan dalam Alquran Surat Ath-Thalaq ayat 2-3 yang artinya, “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.

Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”.

“Maka fokuskanlah pikiran kita untuk memikirkan dan mengerjakan apapun yang diperintahkan Allah serta meninggalkan semua larangan-Nya. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dizamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika kita meninggalkan rezeki haram karena Allah, maka Allah pasti akan menggantinya yang lebih baik lagi dengan rezeki halal,” terangnya.

Ustaz Yasir Yusuf yang juga Ketua IKADI Aceh ini menjelaskan ciri-ciri seseorang itu mendapatkan rezeki yang halal, yaitu yang diperoleh dari sumber-sumber yang halal dan dipergunakan untuk kebaikan di jalan Allah. Untuk mengetahui apakah rezeki kita termasuk rezeki yang halal dan berkah dapat diketahui melalui tanda-tanda umum.

Pertama,‎ hati semakin dekat dengan Allah dan jiwa tenang. Rezeki yang berkah bersumber dari sesuatu yang halal akan membuat hati merasa dekat dengan Allah karena telah dilimpahkan begitu banyak nikmat. Setiap kebaikan yang dilakukan termasuk rezeki yang dimanfaatkan untuk kebaikan akan membuat perasaan senang, tenang dan damai karena telah berbuat manfaat bagi diri dan orang lain.

Kedua, mudah memberi sedekah dan menunaikan zakat. Orang yang menyadari dalam rezekinya terdapat hak orang lain dan bahwa hartanya hanya titipan semata dengan mudah menunaikan zakat dan sedekah. Rasa ikhlas berbagi dan memberi pada orang lain adalah sifat mulia yang hanya dimiliki oleh orang yang diberkahi rezekinya.

Ketiga,‎ keluarga harmonis dan dikaruniai anak yang saleh/salehah. Secara mentalitas dan psikologis makanan yang kita makan dapat mempengaruhi hati manusia. Termasuk juga dengan rezeki yang diperoleh secara haram akan mempengaruhi kualitas anak-anak dan istri yang memakannya. Anak-anak akan menjadi jauh dari Allah, malas beribadah, enggan berbuat kebaikan, dan bisa jadi rumah tangga penuh dengan pertengkaran yang bisa berujung perceraian.

Keempat, rezeki halal selalu merasa cukup dan syukur. Ini menunjukkan bahwa hanya rezeki yang halal yang bisa membuat orang bersyukur. Sementara rezeki haram akan membuat orang merasa kurang dan semakin bakhil, tamak, rakus dalam menumpuk harta untuk kepentingannya semata karena merasa semua itu adalah rezeki yang diperoleh karena hasil usahanya sendiri. SMH/Rel

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!