Spiritualitas Islam dalam Seni Aceh

GEMA JUMAT, 10 AGUSTUS 2018

Oleh:  H. Ameer Hamzah

Sesungguhnya Allah itu indah. Dan Dia mencintai keindahan (hadis).

SENI dan Budaya sebuah suku bangsa sangat dipengaruhi oleh agama dan kepercayaan suku bangsa tersebut.  Manusia  Aceh  yang beragama Islam, maka tidak aneh bila semua seni dan budaya yang tumbuh dan berkembang di daerah ini sangat terasimiliasi dengan  spiritualitas Islam.

Seni dan budaya Islam lahir dari masjid. Indahnya suara azan yang berkumandang lima kali sehari semalam, telah menggugah mukmin untuk datang ke rumah Allah melaksanakan shalat lima waktu. Sang muazzin terpilih yang bersuara  baik dan indah. Secara alamiah mereka juga dapat membuat fariasi  suara yang berbeda-beda  di antara  mereka.

Selain muazzin, para imam juga membaca Alquran dengan suara merdu dan indah.  Dalam hadis  Rasulullah bersabda; Zaiyyinul Qurana biaswatikum (Hiasilah al-Quran dengan suara kamu yang bagus). Dari perintah Rasulullah tersebut lahirlah bacaan-bacaan imam yang menggugah perasaan jamaah. Bacaan “Aaamiimmm!”  dari makmum melahirkan kekusyukan yang mendalam.

Muazzin, imam, dan makmum adalah  langkah awal berkembangnya seni suara. Langkah-langkah berikutnya adalah bacaan doa, zikir, selawat dan melebarkan kepada yang lebih terbuka di luar lantai masjid ke panggung, yakni Zikir Maulid (Kitab Barzanji), Dalailul Khairat (Dalil-dalil yang baik), Meurukon (Belajar Fikih lewat syair), meunasib,  qasidah, ratib, syair, puisi dan sejumlah seni suara lainnya.

Pembangunan masjid dengan arsitektur  yang indah, melahirkan gaya-gaya yang tak terlepas dari unsur syariat. Misalnya Masjid Raya Baiturrahman Aceh,  mulanya tujuh undakan dan dibuat dari kayu dan atapnya daun rumbiya (zaman Sultan  Iskandar Muda).  Makna tujuh undakan disamakan dengan langit yang diciptakan oleh Allah SWT tujuh tingkat (sab’a Samawat).

Dalam perang Aceh melawan Belanda, Masjid Baiturrahman dibakar oleh Belanda  tahun 1873 M. Beberapa tahun kemudian Belanda membangun kembali masjid yang lebih modern. Pertama satu kubah yang di tengah dan terdepan sekarang ini. Kemudian, karena masjid tersebut merasa kecil, Belanda menambah dua kubah lagi sebelah selatan dan utara. Gubernur Ali Hasjmy menggoda Soekarno untuk menambah dua kubah lagi sehingga menjadi lima kubah dan dua menara (1957)

“Tuan Presiden!  Rukun Islam lima, Pancasila juga lima. Sekarang Masjid Raya Baiturrahman masih tiga kubah. Alangkah indahnya bila Tuan Presiden menambah dua kubah lagi supaya sesuai dengan rukun Islam dan Pancasila”. Presiden Soekarno setuju, lalu diberi dana untuk memperluas masjid raya ketika itu. Kemudian masa Gubernur Dr. Hadi Thayeb diperluas lagi dan dilanjutkan oleh Gubernur Prof Dr. Ibrahim Hasan menjadi tujuh kubah dan empat menara seperti sekarang.

Terakhir, Gubernur Aceh,  Abu dr. Zaini Abdullah membangun payung serta tempat parkir bawah tanah  (base camp), sehingga terlihat sangat luas dan indah. Membangun masjid adalah membangun  arsitektur Islam. Arsitektur Islam lahir dari jiwa-jiwa yang cinta Allah dan rasul-Nya.  Hadis menyebutkan; Barang siapa membangun sebuah masjid, maka Allah akan membangun  sebuah istana untuknya di surga kelak.

Dari arsitektur yang indah, terpancar keluar bangunan-bangunan lain yang dipengaruhi oleh keindahan masjid. Meunasah dan mushalla di Aceh juga sangat indah dan menajubkan. Jika kita masuk ke dalam masjid-masjid besar di Aceh memang kita menemukan kenyamanan dan keindahan yang mempesona. Kaligrafi  Islam, ayat-ayat  al-Quran dan Asmaul Husna,  mimbar dan mihrab,  lubang kubah, semuanya sangat indah.

Spiritulitas juga berkembang di seni tari dan musik. Tarian saman Aceh, saman Gayo tak terlepas dari Thariqat Samaniyyah yang diciptakan oleh Syeikh Saman, ulama besar dari Yaman. Begitu juga Thariqat Rifa’iyyah yang diciptakan oleh Syeikh Muhammad Rifa’i dari Hadratulmaut. Thariqat ini menggunakan musik  kompang, yang di Aceh terkenal dengan Rapa’i. Rapa’i yang oleh Prof. Ali Hasjmy memperkirakan nama kesenian ini  dari nama Syeikh Rifa’i.

Seni ukir dan senjata juga tak terlepas dari spiritualitas Islam. Lihat “rencong” Aceh. Rencong diciptakan dari khat “Bismillah”, Pedang panjang (peudeung panyang), dari kalimah “Lailaha Illallah”. Sarung rencong dan pedangpun diukir sedemikan rupa yang tak terlepas dari bentuk kaligrafi Islam. Ukiran-ukiran lain di di dinding masjid, dinding rumah, tolak angin rumah, semua tak terlepas dari nilai-nilai keruhanian Islam.

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!