Waqaf Baitul Asyi Bonus Haji Aceh

 

GEMA JUMAT, 25 AGUSTUS 2017

Di Tanah Suci Mekkah dan Madinah terdapat harta waqaf berupa pemondokan, rumah, bahkan hotel bertingkat dari orang-orang kaya dan ulama Aceh tempo dulu. Semua harta kekayaan peninggalan mereka sekarang

dikelola oleh Yayasan Habib Bugak Al-Asyi yang diurus oleh orang-orang keturunan Aceh warga Arab Saudi.

Jumlah rumah Aceh yang ada di Makkah, Madinah dan Mina mencapai 24 bangunan. Ada beberapa bangunan telah dijual serta disengketakan oleh oknum tertentu dan tujuh di antaranya sudah hilang. Sehingga tersisa 17. “pada tahun

2000, bangunan-bangunan yang masih ada juga sudah ketinggalan model, jika dibandingkan dengan bangunan

modern Arab Saudi,” ujar Drs Tgk H Ameer Hamzah, salah satu penda’I di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar.

Ia menjelaskan, pada 2001, Gubernur Aceh, Ir Abdullah Puteh membuat pertemuan dengan Keluarga Besar Al-Asyi di Mekkah ketika ia menunaikan ibadah haji bersama sejumlah ulama Aceh. Abdullah Puteh berencana membangun rumah Aceh di sana menjadi lebih modern menggunakan dana Pemerintah Aceh. Tapi cita-cita Abdullah Puteh

tak terwujud karena ia bermasalah dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Abdullah Puteh dilanjutkan oleh PJ Gubernur Aceh Azwar Abubakar. Pada saat terjadi gempa dan tsunami tahun 2004 di Aceh, untuk pertama kali keturunan Aceh di Mekkah mengeluarkan sedikit dana membantu orangorang Aceh yang menunaikan ibadah haji, serta mengirim bantuan sandang dan pangan ke Aceh.

Mulai tahun 2006, setiap jamaah haji Aceh juga mendapat bantuan dana dari sewa rumah-rumah Aceh di Arab. Pada 2009, setiap jamaah haji mendapat 2.000 riyal Arab Saudi atau Rp 5 juta per jamaah. “Inilah rahmat Allah bagi jamaah haji Aceh,” lanjut mantan wartawan ini.

Yayasan Habib Bugak Al-Asyi akan memberi bantuan kepada jamaah haji Aceh setiap tahun. Besarnya bisa berubah-ubah menurut kemampuan yayasan. Dana itu berasal dari sewa Baitul Asyi sepanjang tahun, baik untuk para jamaah haji maupun jamaah umrah.

Apabila ke 17 unit Baitul Asyi tersebut, semuanya dapat dibangun lebih tinggi dan lebih modern, yayasan akan menghasilkan dana yang sangat besar.

Rakyat Aceh yang menunaikan ibadah haji dapat tinggal gratis di rumah tersebut. “Jikapun tidak digratiskan akan mendapat bantuan hibah yang lebih bayak lagi,” imbuh mantang anggota DPRA itu.

Tahun 2017, sebanyak 4.473 jamaah haji asal Aceh berhak mendapatkan dana hibah Baitul Asyi sebanyak SAR 1.200 atau setara Rp 4,2 juta. Dana tersebut diberikan kepada setiap jamaah setelah dua hari berada di tanah suci. Pada saat pengambilannya, jamaah harus menunjukkan Kartu Baitul Asyi yang sudah diberikan ketika berada di Aceh. Jumlah dana tersebut bisa  berbeda setiap tahunnya atau sama.

Jumlah dana Baitul Asyi yang diberikan kepada jamaah tahun 2017 sama dengan 2016. Tidak menutup kemungkinan tahun depan dana tersebut meningkat. Itu semua bergantung pada hasil pengelolaan waqaf dan jumlah jamaah. Mekanisme penyerahannya, ada hadir nadzir waqaf Baitul Asyi, perwakilan Pemerintah Aceh melalui Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Aceh.

“Penerimaan waqaf Baitul Asyi selama ini berjalan tertib dan lancar, tidak ada kendala apapun,” terang ujar Kabag Humas Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kakanwil Kemenag) Aceh Rusli Lc Msi.

Kondisi jamaah haji

Jamaah haji asal Aceh yang sudah tiba di tanah suci sedang melaksanakan berbagai kegiatan ibadah, seperti menyempurnakan umrah. Mereka dihimbau tidak melakukan aktifi tas di luar ruangan supaya kondisi jamaah tetap sehat. Apalagi suhu di Makkah saat ini sangat panas, berkisar antara 45 sampai 50 derajat celcius.

Panasnya cuaca dan kelelahan mempengaruhi kondisi tubuh. Akibatnya jamaah haji asal Aceh ada yang harus dirawat di rumah sakit selama satu hingga dua hari. “Namun sampai sekarang belum ada yang mengalami sakit serius,” pungkas Rusli. Zulfurqan

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!