HAKIKAT AL-QUR’AN DAN BERATNYA RISALAH DAKWAH

GEMA JUMAT, 5 JULI 2019

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

Surat Asy-Syuara ayat 1-5

Thaa Siim Miim. Inilah ayat-ayat Al Quran yang menerangkan. Boleh Jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman. Jika Kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit, Maka Senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya. 

Beberapa pembuka surat (fawatih ash-shuwar) dalam al-Qur’an didahului oleh huruf-huruf abjad seperti Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. Diantara ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Dan ada yang menyatakan bahhwa seandainya al-Qur’an tidak tidaklah dibuat oleh Nabi Muhammad, maka ini salah satu dari bentuk I’jaz (mukjizat) yang melemahkan dakwaan orang-orang kafir yang menyatakan bahwa kitab suci al-Qur’an sesuatu yang palsu. Demikian pula dengan awal surat asy-syuara ini, dibuka dengan huruf- huruf fawatih ash-shuwar.

Ayat setelahnya merupakan penegasan terhadap orang-orang yang meragukan tentang kebenaran al-Qur’an bahwa  ini benar-benar kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga tidak ada lagi sanggahan ataupun keraguan bagi khithab (lawan bicara) saat dibacakan al-Qur’an.

Ayat setelahnya juga menyatakan bahwa, Nabi Muhammad sebagai manusia biasa, akan merasakan bagaimana sulitnya untuk membuat kaumnya beriman, dalam penggalan ayat ini, dinyatakan bagaimana sedih dan kecewanya Nabi Muhammad setelah dakwahnya tidak dihiraukan oleh kaumnya. Disini juga Allah SWT menyatakan bahwa urusan keimanan itu adalah urusan hidayah, Rasulullah hanya diminta untuk menyampaikan kepada mereka, sehingga bagaimanapun tanggapan mereka, tidak membuat Rasulullah kecewa dan bersedih hati. Kemudian Allah menyatakan bahwa jika Allah SWT berkehendak, maka mudah saja bagi Allah untuk menurunkan mu’jizat-Nya untuk meyakinkan mereka tentang keesaan Allah SWT, tapi Allah tetap memberikan ‘ruang’ kepada orang-orang agar beriman setelah melalui pemikiran dan

Perenungan, tidak dengan paksaan apalagi dengan langsung menurunkan mu’jizat. Hal itu dilakukan karena beriman dan tidak beriman adalah ujian, dan orang-orang yang mendapat hidayah adalah orang-orang yang beruntung. Sedangkan orang-orang yang tidak beriman adalah orang-orang yang merugi. Wallahu musta’an.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!