KEKELIRUAN 0RANG-ORANG KAFIR DAN HAKIKAT RASUL

null

GEMA JUMAT, 25 JANUARI 2019

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

Surat al-Furqan ayat 14-18

“Maka sesungguhnya mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kamu tentang apa yang kamu katakan maka kamu tidak akan dapat menolak (azab) dan tidak (pula) menolong (dirimu), dan barang siapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar. Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat”.

Pada ayat sebelumnya, disebutkan azab bagi orag kafir dan kenikmatan bagi orang-orang yang beriman, sedangkan dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa orang-orang kafir sebenarnya telah menipu diri sendiri, karena apa yang mereka sembah dan apa yang mereka anggap sebagai penolong, tidak dapat melakukan apapun pada saat azab menimpa orang-orang kafir. Kondisi mereka menyedihkan, karena saat mereka menyembah kepada Allah, ternyata sembahan mereka itu berlepas diri dari mereka. Kemudian Allah, sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat menyatakan bahwa orang-orang zhalim, akan ditimpakan kepada mereka azab yang maha dahsyat. Ini adalah janji Allah. Zhalim dalam pengertian ayat di atas lebih cenderung kepada kekufuran, berdasarkan munasabah (kesesuain) tema yang dibahas ayat di atas. Dengan demikian, tak ada lagi harapan bagi orang-orang  kafir untuk mendapatkan ampunan dari semua pengingkaran yang mereka lakukan di dunia.

Kemudian, ayat selanjutnya Allah membalas dakwaan mengenai rasul-rasul yang dikirim kepada manusia, yang seharusnya dalam pandangan mereka sosok rasul mestilah yang ‘superior’, tidak terkesan negatif dalam pandangan sosial. Namun dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa rasul diutus semuanya berasal dari kalangan mereka sendiri, manusia biasa, memiliki perasaan dan sifat-sifat yang manusiawi. Allah menyatakan bahwa Allah mengutus rasul dalam konteks sosial ‘lemah’ itu adalah sebagai ujian bagi manusia, apakah mereka beriman atau mereka ingkar. Maka berbahagialah orang-orang yang memiliki keimanan karena hidayah-Nya dan ketaatannya terhadap risalah, tanpa memandang sisi-sisi kemanusiaan seorang rasul sebagai hambatan untuk beriman. Dan sebaliknya celakalah orang-orang yang tidak mau mengimani rasul dengan sifat-sifat manusiawi yang melekat pada rasul itu. Dan akhirnya hanya Allah-lah sebagai harapan di Hari Berbangkit. Wallahu musta’an.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!