LOGIKA DAN KONSEKUENSI IMAN

GEMA JUMAT, 26 OKTOBER 2018

Tafsir: Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

“ B a g a i m a n aaku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan
(dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan
sembahansembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujah kepadamu untuk mempersekutukan- Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?” Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orangorang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. al-An’am ayat 81-82).

Pada syarahan untuk ayat sebelumnya dijelaskan tentang bagaimana proses Nabi Ibrahim menemukan dalil tentang ketuhanan berdasarkan pada ayat-ayat kauniyah (alam semesta), yang melahirkan sebuah konklusi bahwa Tuhan adalah yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh isinya. Ketika fakta-fakta keimanan ini diajukan kepada kaumnya, kaumnya mempertanyakan keabsahan dari model
keimanan Nabi Ibrahim ini. Nabiyullah Ibrahim memberikan alasan yang logis tentang keimanannya, sebagaimana diterangkan dalam ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya.

Ada beberapa point penting yang bisa diambil dari model keimanan Nabi Ibrahim. Pertama; bahwa keimanan berdasarkan pada crosscheck pada fakta-fakta ilmiah
akan lebih menyadarkan kita tentang nilai-nilai keimanan yang kita miliki. Kita akan merasa puas dan lega, bahwa keimanan kita ini adalah hidayah yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Keimanan yang berdasarkan keyakinan dan pembuktian terhadap apa yang diimani akan lebih kokoh dari pada keimanan yang berdasarkan pada sikap taklid.

Point kedua; bahwa mentauhidkan Allah SWT dengan tidak mempersekutukan dengan sesembahan lain adalah mutlak. Dalam hal ini, keimanan terhadap Allah adalah satu-satunya dan tidak diiringi dengan keyakinan kepada selain Allah. Allah tidak redha kepada orang yang menyembah Allah namun di sisi lain ia meminta pertolongan secara hakikat kepada selain Allah.

Point ketiga; keimanan sejati akan berbuah rasa aman, tidak diliputi kegundahan. Kehidupan yang dijalani akan selalu diberi petunjuk oleh Allah baik untuk hal yang halal dan haram, baik dan buruk, benar dan salah. Itu adalah hal yang dijanjikan oleh Allah SWT kepada orang yang benar-benar memiliki keimanan sejati. Jikapun kehidupan kita terasa tidak aman, tidak beruntung dan sebagainya, mari kita cek keimanan kita, barang kali ada hal-hal yang masih belum lengkap dalam ‘kerangka’ iman yang kita miliki.

Semoga dalam nuansa tahun baru Hijriah ini, kita kembali mengintrospeksi keimanan kita dengan mengujinya dengan variabel- variabel kehidupan, apakah keimanan kita semakin mantap atau mengalami ‘degradasi’?. Hanya kita yang dapat menjawabnya. Wallahu musta’an.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!