MAKHLUK, LAUH MAHFUZH DAN PADANG MAHSYAR

GEMA JUMAT, 10 AGUSTUS 2018

Tafsir: Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA, Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman

Surat al-An’am ayat 38

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan  sesuatupun dalam al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”.

Ayat ini menerangkan tentang bukti paling kuat atas kekuasaan, kebijaksanaan dan kasih sayang Allah adalah kekuasaannya dalam menciptakan segala sesuatu. Semua yang memiliki kehidupan baik di muka bumi dan segala yang bernyawa semua merupakan bukti kekuasaan Allah dalam menciptakan. Dalam hal ini termasuk binatang yang hidup berkelompok ataupun sendiri-sendiri, semuanya adalah makhluk Allah yang juga diciptakan dan dibuatkan takdir mereka dalam menjalani kehidupannya, berupa ciri-ciri khusus dan karakteristik sendiri, apakah binatang yang melata, berjalan dua kaki, empat kaki sampai ratusan kaki, semua memiliki identitas ‘ciptaan’ Allah yang melekat pada mereka. Demikian juga binatang yang berterbangan, juga hidup dalam takdir yang telah ditentukan Allah.

Allah menyatakan bahwa semuanya telah diatur dalam kitab lawh mahfuzh. Tidak ada yang alpa sesuatupun tentang ‘segala yang hidup’ di dunia ini, dari awal sampai akhir, bagaimana sesuatu itu wujud dan bagaimana sesuatu itu mengakhiri wujudnya di dunia. Lalu kemudian, Allah mengingatkan bahwa perkara kehidupan bukanlah perkara catat-mencatat amalan saja tanpa ada ‘evaluasi’ untuk perjalanan kehidupan manusia  Semua manusia akan dikumpulkan di hari kiamat, tak ada yang tersisa dari semua yang didefenisikan dengan ‘manusia’. Semua akan dimintai pertanggungjawaban dengan apa yang dilakukan. Padang mahsyar menjadi lautan manusia dari generasi Adam sampai generasi yang menyaksikan kiamat dan semua manusia akan menyaksikan hasil amalan di dunia.

Hari berkumpul tersebut adalah hari menunggu hasi ‘ujian’ ketika berlangsung di dunia dalam hitungan umur manusia. Manusia semuanya merasa melaksanakan ‘ujian’ di dunia tidak dengan sungguh-sungguh, dimana semua manusia merasa menyesal atas ‘bermain-main’ dalam ujian kehidupan di dunia, sampai pada evaluasi dan penilaian ‘mizan’ menjadi ‘pengumuman’ kegagalan ataupun kesuksesan. Disanalah ‘evaluasi’ yang maha objektif. Tidak ada kesilapan dalam penghitungan amalan, semua anggota tubuh menjadi saksi atas perbuatan di muka bumi, ketika mulut berdusta, maka anggota lain yang merasa melakukan sesuatu akan berbicara dengan sendirinya.

Berbahagialah orang-orang yang menjalani kehidupan dalam rambu-rambu ‘ujian’ yang benar, tidak melakukan hal-hal yang dilarang dalam menjalani kehidupan, sesuai dengan prosedur ‘ilahiyah’ dan panduan ‘al-Qur’an’ serta peragaan ‘sunnah’ Nabi. Lalu, apakah kita ada di barisan orang-orang yang mendapatkan predikat ‘sukses’ dan langsung menuju ‘gerbang surga? Atau ‘tereliminasi’ dan dilemparkan ke dalam neraka? Allahummaghfir lanaa.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!