PENYESALAN DI HARI AKHIRAT

GEMA JUMAT, 22 FEBRUARI 2019

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

Surat al-Furqan ayat 27-29

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya (menyesali perbuatannya), seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al Quran) ketika (Al Quran) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia

Ayat ini masih memiliki korelasi dengan ayat sebelumnya, yaitu tentang nasib orang-orang kafir yang celaka di Hari Kiamat dan orang-orang yang beriman penuh kenikmatan. Ayat ini menggambarkan bagaimana penyesalan orang-orang kafir karena sikap, prilaku, tindak tanduk dan semua yang mereka perbuat sewaktu di dunia. Dimana mereka mengingkari kebenaran dengan berbagai macam bentuk, pengingkaran terhadap Nabi, keraguan terhadap risalah yang dibawanya, bahkan pengingkaran adanya Hari Kiamat.

Kemudian pada ayat berikutnya dinukilkan ucapan penyesalan mereka dalam redaksi al-Qur’an ini. Pernyataan ini betul-betul bentuk penyesalan yang tidak terkira, tiada tara. Tidak berbanding dengan penyesalan yang sering kita lakukan di dunia, karena kalau penyesalan di dunia, masih bisa dilakukan dengan taubat dan hal-hal lain dengan kembali ke jalan yang benar. Namun di akhirat tidak akan pernah berlaku lagi penyesalan. Di sinilah kemudian adanya pengakuan terhadap diutusnya rasul, risalah yang dibawanya, dan perkara-perkara keimanan yang benar. Namun nasi telah menjadi bubur, tidak berguna penyesalan, pengakuan, semua telah terlambat.

Penyesalan yang dengan mengkambinghitamkan ‘setan’ tidak juga membuat azab kita lebih ringan, atau berbagi dengan mereka. Masing-masing mendapatkan porsi sesuai dengan kekufuran, yang telah Allah jelaskan dimanakah dicampakkan nantinya. Bagi kita yang membaca ayat ini, tidaklah terlambat untuk mengakui kealpaan kita terhadap al-Qur’an, hidayah, hikmah. Kita masih diberikan umur untuk mengintrospeksi keimanan, telah sesuaikah dengan apa yang diperintahkan kepada kita? Sesuaikan dengan tuntunan beragama. Hanya kita yang menjawabnya. Seyogyanya, membaca khithab (lawan bicara) al-Qur’an tentang orang yang tidak beriman (kufr), tidaklah serta merta membuat kita yang telah beriman dan berislam menjadi superior dari mereka, dalam ayat dan hadits lain juga disebutkan bahwa orang-orang yang beriman juga berindikasi harus berurusan dengan azab sesuai dosa-dosa yang diperbuatnya.

Begitulah kasih sayang rahmat Allah kepada kita, perkara yang seperti ini saja dijelaskan kepada kita, agar menyentuh sisi-sisi emosional kita dalam keimanan. Al-Qur’an tidak hanya menuntut kita berpikir, tetapi juga merasakan, menyelami dengan sepenuh hati, karena al-Qur’an adalah petunjuk, yang menunjuki pikiran, perasaan agar kembali ke fitrah-Nya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!