RAMADHAN MUBARAK

GEMA JUMAT, 25 MEI 2018

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

Surat al-Baqarah ayat 183

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

Ayat ini ditujukan kepada orang-orang beriman dari golongan kaum muslimin, yaitu perintah untuk menunaikan ibadah puasa. Puasa yang dalam bahasa Arab disebut shiyam atau shaum berarti menahan dari makan, minum dan melakukan hubungan suami isteri dan hal-hal lainnya dari terbit fajar sampai terbenam matahari yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala. Puasa memiliki keutamaan diantaranya momentum untuk penyucian dan pe,,mbersihan jiwa, juga menjernihkannya dari pikiran-pikiran dan tindakan yang buruk dan akhlak yang rendah.

Kewajiban menunaikan puasa terhadap umat Muhammad sebenarnya juga telah disyariatkan kepada kaum sebelumnya. Sebagai sebuah perintah agar ditaati, maka hendaknya bagi muslimin untuk berusaha menjalankan kewajiban ini secara lebih sempurna dibanding dengan apa yang telah dikerjakan oleh umat terdahulu.

Puasa mengajarkan kaum muslimin banyak hal, baik itu pelajaran yang  diambil secara individual maupun sosial, fisik maupun mental, intelektual maupun spiritual bagi orang yang mau merenungkannya. Secara individual, kaum muslimin dilatih untuk bersabar dan tidak tunduk kepada hawa nafsu, syahwat dan keinginan yang rendah, sedangkan secara sosial atau kolektif, kaum muslimin diajarkan untuk sama-sama merasakan suatu perasaan haus dan dahaga yang sama, sebagai fitrah manusia, bahwa hal ini tidaklah mudah. Kemudian secara fisik, organ pencernaan manusia akan diberikan masa jeda untuk memproses asupan gizi yang sebelumnya terus menerus, dan saat ini lebih sedikit bebannya. Demikianpun dari segi mental, manusia diajarkan untuk dapat melatih kesabaran, empati dan simpati terhadap penderitaan. Secara intelektual, orang akan dapat memikirkan tujuan dari sebuah perintah Allah, bahwa apa yang disyariatkan Allah tidak ada kemudharatan sedikitpun bagi manusia, di samping itu bahwa secara spiritual, manusia akan merasakan kedekatan Allah dalam segala aktifitas dan gerak tingkah prilakunya

Hikmah dibalik perintah Allah tersebut adalah derajat taqwa yang menanti di penghujung Ramadhan. Itulah derajat tertinggi dalam kualitas penghambaan, yang mana kesuksesan seseorang dalam hidup di dunia dan akhirat adalah kemampuannya melakukan ketaatan, serta menjauhi hal-hal yang dilarang dengan kesadaran penuh, bukan paksaan, bukan aktifitas, rutinitas atau sebuah beban. Tetapi ketaqwaan adalah menjalankan fungsi sebagai hamba sesuai dengan tata laksana prosedur perjalanan manusia yang telah digariskan Allah dalam al-Quran serta tauladan yang telah disunnahkan Rasulullah. Ahlan wa Sahlan ya Ramadhan Mubarak.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!