SHALAT, TAQWA DAN PENCIPTAAN

 

GEMA JUMAT, 20 APRIL2018

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

“Dan agar mendirikan sembahyang serta bertakwa kepada-Nya.” Dan Dialah Tuhan Yang kepada-Nyalah kamu akan dihimpunkan.Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah

perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui” (Q.S. al-Anam ayat 72-73)

Ayat ini dijelaskan hubungan antara ayat ini dengan ayat sebelumnya yang membicarakan tentang ketauhidan kemudian diikuti di ayat ini dengan pembicaran tentang tonggak syariat (shalat) dan tonggak akhlak (taqwa). Kemudian dijelaskan pula tentang apa dan bagaimana Allah memulai penciptaan dan bagaimana Dia mengakhiri segala yang tercipta. Kemudian dari penggalan ayat tersebut juga Allah menjelaskan tentang kekuasaan, sifat dan ke ‘maha sempurnaan’ Nya sebagai Tuhan yang berhak disembah.

Dalam hal ini jelaslah bahwa ketauhidan tanpa melaksanakan perkara syariat (shalat) tidaklah benar, juga faktor akhlak (taqwa) juga penting dalam beragama. Perkara ketauhidan adalah perkara mutlak yang tidak ada tawar-menawar bagaimana menempatkan Allah dengan semestinya sebagai Tuhan. Oleh sebagian ulama kalam (tauhid) modern membagi ke dalam tauhid uluhiyah, rububiyah dan asma’ wa sifat’. Ada juga ulama klasik yang meng klasifi kasi kepada sifat wajib, mustahil, dan ja’iz bagi Allah.  Kesemua usaha ulama tersebut adalah untuk menjabarkan tauhid agar mudah dipahami dan dimengerti.

Adapun perkara syariat, sebagaimana halnya shalat memiliki tingkat pelaksanaan yang fleksibel. Bila tidak sanggup berdiri, maka duduk, dan pada tingkatan rukhshah (keringanan) yang ditolerir. Berbeda dengan taqwa yang tidak dapat diukur secara kuantitas, namun hanya dapat diukur dengan konsistensi (istiqamah) dalam menjalankan agama yang bermuara pada keridhaan Allah.

Masalah penciptaan, Allah menjelaskan teknik penciptaan alam semesta dengan cara yang amat mudah dengan kekuasaan-Nya. Yaitu dengan kata ‘jadi’ maka jadilah. Sebuah ‘proses’ penciptaan yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk-Nya, baik di bumi dan di langit. Kemudian untuk menghancurkan semua ciptaan-Nya hanya dengan sekali tiupan sangkakala. Begitulah Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Sang Maha Pencipta.

Lalu berkacalah kepada diri kita, tingkat keangkuhan apa yang menyebabkan kita tidak tunduk dan sujud kepada Dzat yang telah memperkenalkan diri-Nya sebagai Maha Pencipta. Kita hanya disibukkan dengan perkara-perkara duniawi yang cenderung menyebabkan kita mengaburkan tauhid kita, menjauhkan tindakan syariat (shalat) kita, serta menjauhkan diri kita dari akhlak (taqwa) yang seharusnya kita siapkan untuk meraih ridha-Nya.

Lalu, Allah menyatakan bahwa tidak ada yang tersembunyi dalam kekuasaan- Nya, lalu kemana kita hendak berpaling? Kemana kita hendak bertuhan selain- Nya?Kembalilah ke jalan yang telah dibentangkan dalam al-Qur’an dan hadits serta pedoman dalam ber-Islam. Itulah agama yang lurus. Semoga kita berada dalam jalan yang lurus selamanya. Amiiin

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!