TUDINGAN ORANG KAFIR TERHADAP RISALAH DAN BANTAHANNYA

GEMA JUMAT, 21DESEMBER 2018

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

“Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang”. Katakanlah: “Al Quran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. al-Furqan 5-6)

Pada ayat sebelumnya, disebutkan bahwa orang-orang kafir menuduh bahwa al-Qur’an dan wahyu yang diterima oleh Rasulullah tidaklah otentik. Itu merupakan duplikasi serta daur ulang dari kitab-kitab yang pernah diturunkan oleh Allah sebelumnya.

Pada ayat ini, secara spesifik, Allah menggambarkan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang kafir dengan pernyataan mereka yang menyatakan bahwa semua yang diucapkan oleh nabi Muhammad adalah ‘assathiir awwaliin ’ (dongeng atau legenda) orang-orang zaman dahulu kala. Bahkan dengan kejinya mereka menyatakan, bahwa Rasulullah meminta kepada seseorang agar ayat-ayat (dongeng-menurut mereka) tersebut dituliskan dan kemudian dibacakan kepada Nabi Muhammad setiap pagi dan sore sehingga otomatis terhafal oleh Nabi Muhammad. Begitu logika mereka dalam menuduh Nabi Muhammad SAW.

Secara manusiawi, dakwaan seperti ini sangatlah menyakitkan bagi Rasulullah SAW, karena risalah yang sampai kepadanya itu didustakan, dan dibuat narasi oleh kaum kafir agar masuk akal (yaitu karya revisi dan duplikasi Nabi terhadap ajaran dan cerita-cerita masa lalu). Lalu, bagaimana agar mereka mau percaya dengan apa yang disampaikan oleh beliau?. Allah SWT menyatakan kepada Nabi Muhammad dengan menyatakan dengan ‘apa adanya’, yaitu bahwa al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada manusia bahkan kepada sekalian makhluk. Dalam ayat ini terdapat penegasan, bahwa Allah bukanlah ‘ilah’ (sesembahan) yang biasa, seperti yang mereka duga. Tetapi Allah SWT adalah Tuhan yang berhak disembah, dengan pernyataan ‘mengetahui semua rahasia langit dan rahasia bumi’. Jika ini disampaikan, maka logika tuduhan yang mereka lontarkan akan buntu. Tak mampu berkutik lagi.

Namun, ada yang menarik dari ayat ini. Meskipun dalam kondisi ‘penentangan’ yang luar biasa karena pelecehan orang-orang kafir,  Allah SWT tetap menyatakan bahwa Dzat-Nya adalah Maha Pengampun dan Penyayang. Otomatis jika orang-orang kafir berhenti untuk melecehkan dan terbuka hatinya, akan melihat betapa agungnya risalah ini dan akan beriman setelahnya. Tetapi bagi yang tidak terketuk hatinya, maka Allah akan menutupkan pintu hidayah kepadanya. Bagaimana dengan kita? Allahumma ihdina shirathal mustaqim.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!