UNGKAPAN PENYESALAN DAN KESAKSIAN RASUL

 

GEMA JUMAT, 16 FEBRUARI 2018

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

Maka tidak adalah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lalim”. Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami). (QS. Al-A’raf ayat 5-6)

Ayat di atas merupakan sambungan dari ayat pada tafsir sebelumnya tentang kedurhakaan orang-orang zhalim serta siksa yang mendera mereka. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ketika azab menimpa mereka, barulah mereka benar-benar mengakui bahwa semua itu terjadi atas dosa-dosa mereka dan kelalaian mereka ketika menolak seruan Allah untuk mengesakan-Nya dan menyembah-Nya.

Pengakuan dan kesadaran yang terlambat itu tidak dapat merubah takdir Allah karena Allah telah memberikan waktu kepada mereka untuk bertaubat dan menyadari kelalaian dan kesalahan mereka. Dengan keluhan tersebut tidak menyebabkan azab dan siksa Allah terhenti, sehingga penyesalan hanyalah sia-sia. Allah telah memberikan kepada kita petunjuk kehidupan dengan panduan al-Qur’an dan Rasul yang diutus. Kewahyuan al-Qur’an dan sunnah Rasulullah tidak terputus dan terus-menerus dilestarikan, dikembangkan oleh para ulama sehingga berbentuk keilmuan Islam dan tidak bersusah payah untuk menemukan kembali hal-hal yang memang sudah disepakati secara qath’iyy, baik dalam bidang akidah, muamalah dan sebagainya.  Tetapi mengapa kita masih mempertanyakan hal-hal tersebut?. Mungkin pengaruh kehidupan dunia  yang mempesona telah membuat kita jauh dari pikiran yang benar dalam beragama.

Ayat selanjutnya menyebutkan bahwa Allah akan menanyakan kepada kita tentang penentangan tersebut, bahkan para rasul akan bersaksi terhadap keingkaran kita terhadap seruan mereka. Alangkah malangnya kita, bila rasul bersaksi bahwa kita membantah dan mengingkari risalah yang diturunkannya di hadapan Allah! Betapa malunya

kita dalam pengadilan Allah kita di’vonis’ bersalah lengkap dengan bukti dan saksi. Kemanakah kita akan meminta pembelaan?

Para rasul pun akan menjawab seadanya dan selebihnya mereka akan mengembalikan kepada Allah tentang ‘kasus penentangan’ kita, dengan mengatakan: “Kami tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu, sesungguhnya Allah maha mengetahui semua yang ghaib”. Lalu kemanakah kita mengadu ketika semua urusan diambil alih oleh Yang Maha Tahu?? Allahummaghfi rlanaa.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!