Berniat Untuk Qurban

GEMA JUMAT, 21 JUNI 2019

Dr. Rer. Nat Ilham Maulana, S.Si  (Anggota BKM Masjid Jami’ Kopelma Darussalam)

Selain ibadah haji, pada bulan Dzulhijjah umat Islam merayakan hari raya Idul Adha atau biasa disebut juga hari raya qurban. Pada hari itu, selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rakaat, umat muslim juga dianjurkan untuk menyembelih binatang qurban. Anjuran berqurban ini bermula dari kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya yakni Nabi Ismail. Qurban, mengikat setiap muslim untuk menjalankannya jika ia mampu sebagai sunah mu’aqad. Qurban, salah satu wujud kesempurnaan Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin, penebar rahmat universal.  Qurban, juga merupakan salah satu furqan, pembeda, penegas keunikan dan keunggulan Islam, karenanya, qurban selain ibadah juga berperan sebagai syiar Islam. Simak wawancara singkat wartawan Tabloid Gema Baiturrahman Indra Kariadi dengan Anggota BKM Masjid Jami’ Kopelma Darussalam, Dr. Rer. Nat Ilham Maulana, S.Si.

Bagaimana membangun motivasi berqurban setiap tahun?

Qurban itu ibadah, jadi harus dimulai dengan niat yang sangat murni dan kuat. Jika ini sudah ada, maka Allah akan mudahkan setiap usaha kita menuju ke sana. Selanjutnya berusaha sesuai logika manusia, misalnya menabung secara rutin, atau bahkan memelihara sendiri hewan qurban. Tapi intinya tetap di niat awal, lalu berdoa setiap saat agar dimudahkan.

Cara masjid menyalurkan qurban?

Sepertinya hampir semua masjid melakukan hal yang sama dalam penyaluran qurban, yaitu diutamakan untuk para fakir miskin di sekitar mereka, dan terkadang juga dialokasikan ke suatu daerah yang memang relatif cukup berkurangan secara perekonomian.

Apa hikmah qurban?

Qurban berasal dari kata “qaraba-yaqrubu” yang berarti mendekat. Tujuan utama dari ibadah ini sesungguhnya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mencontoh kepada apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, bahwa beliau bersedia untuk mengorbankan apa saja, bahkan anak kesayangannya demi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nabi Ismail AS bahkan bersedia mengorbankan nyawanya demi untuk mendekat kepadaNya.

Oleh karena itu, meskipun pahalanya sangat besar, namun penyembelihan hewan qurban sama sekali belum cukup untuk menjadi indikator bahwa upaya kita telah maksimal untuk mendekat kepada Allah SWT. Apalagi untuk orang-orang yang kaya raya, yang bagi mereka satu kambing setiap tahun sama sekali tidak memberatkan secara biaya.

Itulah sebabnya Allah menyebut dalam Alquran bahwa kita harus menafkahkan apa yang paling kita cintai.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92)

Oleh sebab itulah, Idul Adha ini hanyalah momentum untuk mengingatkan kita agar tidak lupa untuk terus berupaya demi mendekat kepada Allah SWT. Upaya ini tidak boleh kemudian berhenti hanya pada saat Idul Adha, dan hanya dengan mengorbankan satu ekor hewan saja. Allah mau kita berkorban secara sempurna, menafkahkan apa saja yang bagi kita sangat istimewa, bukan saja harta, tapi termasuk juga waktu, ilmu, bahkan diri kita.

Kenapa kita harus berqurban?

Ibadah qurban (menyembelih hewan saat idul adha) tidak diwajibkan, tapi hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Namun begitu bertaqarrub atau berqurban (mendekat kepada Allah) wajib kita lakukan dengan berbagai upaya, bukan hanya dengan menyembelih binatang.

Apa pelajaran yang bisa kita ambil dalam berqurban?

Pelajaran penting dari ibadah qurban tercermin dari pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, bahwa meskipun keduanya sudah bersedia untuk mengorbankan sesuatu yang sangat berharga untuk mereka, ternyata Allah menggantikannya dengan yang lain, karena Allah hanya ingin menguji mereka berdua, dan Allah tidak akan pernah zalim kepada hambaNya. Jadi jikapun kita mengorbankan apa saja yang kita miliki demi mendekat kepada Allah SWT, percayalah, hal itu tidak akan membuat kita miskin ataupun menderita sesudahnya, karena semakin dekat kita kepada Allah, semakin nikmat terasa.

Bagaimana indikator sebuah ibadah qurban yang telah berhasil ?

Filosofi ibadah qurban adalah merelakan materi atau benda atau pesona dunia yang sangat kita cintai, demi mendekat kepada Allah SWT. Jika ujian ini berhasil kita lalui, maka setelahnya akan sangat terlihat bahwa kita tidak lagi menjadikan materi dan hiruk pikuk dunia sebagai tolok ukur pencapaian kita berikutnya, karena hati kita sudah berhasil melepaskan diri dari semua yang demikian.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!