Budaya Adat Aceh tidak Lepas dari Syariat

GEMA JUMAT, 20 JULI 2018

Istilah Budaya Adat Aceh penting karena ia mengandung makna-maksna filosofis, historis dan cita-cita masyarakat Aceh. Ia harus dimaknai dengan pemaknaan yang mengandung nilai-nilai keagamaan dalam bingkai syariat Islam. Berikut wawancara Gema Baiturrahman dengan H. Badruzzaman Ismail, SH, M.Hum Ketua Majelis Adat Aceh.

Apa makna dan perbedaan antara adat dan budaya?

Budaya biasa diistilahkan dengan culture. Itu merupakan hasil buah pikir manusia yang dipengaruhi oleh lingkungan, tempat dan waktu dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan. Karena itu budaya yang di hasilkan manusia di dunia ini ada yang berbentuk sekuler, marxis, ateis, materialis, sosialis dan sebagainya. Dan hasil buah pikir itu menjadi adat kebiasaan yang pada akhirnya menjadi sebuah kebudayaan.

Bagaimana adat dan budaya ini dalam kontek Aceh dan Islam?

Saya lebih sepakat dengan istilah budaya adat Aceh bukan budaya Aceh. Itu penting karena istilah itu memberi dampak filosofis, historis dan cita-cita kita sebagai orang Aceh. Budaya adat Aceh harus mengandung nilai-nilai religius dalam bingkai syariat Islam. Jadi, nilai syariat Islam itu mutlak harus dijiwai dalam budaya adat kita. Oleh karena itu kita punya tamsilan adat dengon hukum lagee zat dengon sifeut. Jadi saling ada keterikatan antara adat dengan syariat, bukan seperti  budaya yang diistilahkan dengan culture pada umumnya.

Mungkin bisa dijelaskan secara lebih rinci?

Kita punya nilai khusus dan istimewa terkait dengan syariat Islam. Karena itu budaya kita tidak boleh lepas dari syariat. Seperti setiap pekerjaan harus diniatkan lillahi ta’ala dan harus dimulai dengan bismillah. Ini tidak ada di budaya lain. Makanya tidak pernah ada orang main judi dibacakan doa disitu. Sedang di semua acara kita lainnya diharuskan untuk memulainya dengan bismillah.

Apa Maksud dari nilai-nilai filosofis yang terkandung dari budaya adat Aceh?

Kita ini hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal satu sama lain dengan satu tujuan mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan itu tercipta dengan kita sesama saling melengkapi satu sama lain. Kalau al-Quran mengistilahkannya dengan Lita’arafu atau untuk saling kenal mengenal. Kalau saya menerjemahkan lita’arafu itu sebagai pasar. Dimana di pasar itu menghasilkan karya-karya manusia, seperti menghasilkan kue bhoe, timphan, termasuk alat-alat canggih saat itu untuk kebahagiaan manusia di dunia dan kita muslim tentu untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Harus ada keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Bagaimana tanggapan bapak terkait agenda Pekan Kebudayaan Aceh (PKA)?

PKA itu penting karena itu bagian dari memperkenalkan identitas kita, buktinya sekarang sudah tujuh kali diselenggarakan. Kita ingin mempromosikan karya dan budaya yang kita miliki. Bahwa kita Aceh sangat kaya akan nilai-nilai seni, sejarah dan budaya. Ini juga bagian dari syariat karena memberikan kebahagiaan untuk orang lain selama tidak bertentangan dengan Islam.

Seberapa pentingkah acara kebudayaan ini?

Bangsa yang besar adalah bangsa yang membangun pilar-pilar budayanya. Bagaimana itu bisa terjadi kalau kita tidak mengenal sejarah bangsa kita sendiri. Dari segi kebutuhan juga, manusia butuh akan budaya dan hiburan. Acara-acara budaya seperti ini juga bisa menjadi benteng bagi kita dari pengaruh budaya-budaya luar. Ia perlu diekspos ke luar agar menjadi edukasi bagi generasi kedepan bahwa Aceh kaya akan budaya sendiri dan tidak terpengaruh dengan budaya asing. Di sisi lain, acara seperti ini juga bisa membangkitkan ekonomi masyarakat.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!