Mengabaikan Alam Sama Dengan Bunuh Diri

GEMA JUMAT, 26 OKTOBER 2018

Prof Yusny Saby: Tenaga Pengajar Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry

Kerusakan lingkungan dapat mengundang datangnya  malapetaka sewaktu-waktu seperti banjir dan tanah longsor. Tentu tidak ada di antara kita yang ingin merasakan musibah bencana alam itu. Apalagi Aceh yang menerapkan syariat Islam, kita sepatutnya menjadi contoh dalam hal menjaga lingkungan. Untuk lebih jelasnya, wartawan Tabloid Gema Baiturrahman Zulfurqan mewawancarai Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Prof Yusny Saby. Berikut petikan wawancaranya.

Prof, ketika berbicara soal lingkungan, apa yang sepatutnya perlu kita perhatikan?

Dengan mengabaikan alam sama dengan bunuh diri pelan-pelan. Kian hari panas bumi bertambah, es mencair, air laut naik, air tawar sulit, bahakan di Aceh sendiri ada masyarakat harus mencari air ke kampong lain. Di dalam masyarakat Aceh sendiri seolah-olah tidak ada tradisi hemat air. Misalnya dalam beruwudu, seharusnya berwudu seperlunya saja. Dulu air wudu dalam bak, digunakan rame-rame. Sekarang, air hidup nonstop bersambung-sambung. Contohnya, satu orang berwudu di kran, airnya cukup untuk berwudu lima orang. Jadi coba bayangkan, berapa banyak air terbuang daripada terpakai. Seharusnya ketika berwudu, krannya dibuka kecil saja untuk berhemat. Yang penting kan (kondisi) kita sudah bersih, bukan pulang dari sawah, dari gunung, umumnya demikian.

Sebenarnya bagaimana tradisi Aceh menjaga lingkungan?

Masalah pohon-pohon, tradisi kita, setiap pengantin wajib membawa tebu dan kelapa muda dan biji kelapa paling kurang untuk ditanam. Tebu dan kelapa itu bisa untuk dimakan dan ditanam. Kalau orang bersalin bawa kunyit dan beras. Kita (Aceh) ada filosofi-filosofi untuk menanam pohon, untuk menjaga lingkungan dan kebutuhan hidup. Tapi (sayangnya) dalam perjalanan sekarang (bawaan pengantin) yang seperti itu sudah dianggap kolot, mungkin karena sistem modern, sudah canggih.

Bagaimana caranya agar masyarakat sadar betapa pentingnya menjaga lingkungan?

Kesadaran pemerintah dan masyarakat, ketika ada tumpukan di mana-mana dapat merusak tanah, pandangan, kebersihan, dan menimbulkan penyakit. Dalam pengelolaan sampah rumah tangga ditempatkan di belakang rumah. Ini kita lihat tumpukan sampah di depan rumah. Sampah kaleng, plastik seharusnya didaur ulang sebagai upaya menjaga lingkungan.

Terus Prof, bagaimana kaitannya syariat Islam dengan menjaga lingkungan?

Salah satu tujuan syariah adalah menjaga lingkungan. Para ulama mendefinisikan menjaga lingkungan sebagai tujuan syariah. Masing-masing kita wajib menjaga lingkungan. Itu wajib a’in. Seharusnya dakwah-dakwah menjurus ke sana, berkaitan menjaga lingkungan. Nabi mengatakan,”Jagalah kelestarian lingkunganmu, jangan sekali-kali kamu meniru Yahudi,” itu Yahudi dulu tidak menjaga lingkungan. Air bersih harus dijaga. Tidak boleh kencing di air tergenang, di lubang tanah yang bisa mengganggu makhluk hidup di dalamnya. Ketika kita mengabaikan lingkungan berarti menjadikan lingkungan kita tidak lagi sehat, seimbang, lestari, itu akan membuat celaka. Termasuk lingkungan banyak asap mobil, tidak ada air bersih.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!