Menyikapi Perbedaan, Butuh Argumentasi Rasional, bukan Emosional

GEMA JUMAT, 8 FEBRUARI 2019

Prof Dr Syahrizal Abbas MA – Guru Besar UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Hidup di tengah-tengah masyarakat yang heterogen, niscaya menghadapi keberagaman. Beda suku, etnis, agama, atau afilisasi politik. Masing-masing individu atau kelompok memiliki cara pandang sekaligus argumentasi untuk menguatkan pendapat mereka. Keberagaman ini tak jarang pula memicu gesekan-gesekan kecil. Satu dari beberapa bahkan menimbulkan konflik horizontal. Namun, dewasa ini perbedaan itu terasa bagaikan pisau yang siap untuk mengoyak pendirian orang dan kapan saja bisa membuat lawannya menjadi lemah. Hal tersebut dilakukan karena tidak sama-sama saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada dan merasa bahwa pandangannya terhadap sebuah peristiwa atau aspek kehidupan paling benar. Simak wawancara singkat wartawan Tabloid Gema Baiturrahman Indra Kariadi dengan guru besar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Syahrizal Abbas, MA

Bagaimana cara menghargai pendapat orang lain?

Perbedaan adalah sunnatullah, termasuk perbedaan pendapat. Perbedaan suku, bahasa, warna kulit, budaya dan keragaman fikiran adalah sengaja diciptakan Allah untuk umat manusia agar saling memahami dan menghargai satu sama lain. Sekiranya Allah ingin ciptakan kamu menjadi umat yang satu, maka tidak ada halangan dan tidak sulit bagi Allah. Namun, Allah tidak  lakukan hal tersebut, agar kamu mendapatkan rahmatnya (Q.S. Hud: 118-119)

Cara menghargai pendapat orang lain adalah dengan mengetahui dan memahami logika berfikir dan alasan-alasan logis yang mendasari suatu pendapat. Kemudian, memberikan kesempatan  kepada seseorang untuk mengungkapkan pandangannya dan dalil-dalil yang mendasari serta kemudian didiskusikan dengan terbuka dan lapang dada.

Bagaimana menyikapinya?

Cara menyikapi perbedaan pendapat; Pertama, tumbuhkan kesadaran bahwa  kebenaran mutlak dan hakiki adalah milik Allah. Kebenaran yang diusahakan manusia bersifat relatif, karena manusia tidak ma’sum (terpelihara) dari kesalahan dan kekeliruan. Yang kedua, menghormati dan menghargai pandangan seorang berdasarkan dalil, serta  tidak mengklaim bahwa pendapat kita yang lebih benar daripada yang lain. Kebenaran dan kesahihan satu pendapatan sangat tergantung pada kekuatan dalil dan argumentasinya. Dan ketiga, hindari sikap eklusivisme dan sinisme terhadap pandangan orang yang berbeda dengan kita.

Untuk saling menghargai?

Yang dilakukan masyarakat dalam memberikan pendapat untuk bisa saling menghargai adalah dengan cara memberikan pendapat dengan santun, terbuka, jelas dan disertai dalil serta argumentasi yang rasional dan bukan emosional. Kemudian, tidak memaksakan kehendak terhadap orang lain berdasarkan pendapat kita. Memberikan kesempatan  orang lain untuk menyampaikan pandangan dan argumentasi beserta dalil, serta menghargai perbedaan pendapat tersebut.

Mengelolanya tak berdampak negatif?

Mengelola perbedaan pendapat agar tidak berdampak negatife; Pertama, tumbuhkan kesadaran bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat bagi umat, terutama dalam hal-hal furu’iyah (masalah fiqh), agar tidak menyulitkan  menjalankan ajaran agama dalam kehidupan manusia. Yang kedua, membuka ruang diskusi (munaqasyah) secara terbuka dalam masalah fiqhiyah disertai dalil dan argumentasi yang kuat, baik dari al-Quran, as-sunnah serta dalil-dalil lainnya. Yang ketiga, diskusi adalah jalan untuk mencari pendapat terkuat berdasarkan dalil, dan menambahkan keyakinan dalam mengamalkannya. Dan keempat, hormati serta hargai perbedaan pendapat sebagai suatu anugerah Allah Swt.

Menghindari perbedaan pendapat dalam masyarakat?

Cara menghindari perbedaan pendapat amat sulit sebenarnya. Karena perbedaan itu suatu keniscayaan. Namun bagi masyarakat awam disampaikan  agar menjalankan suatu amalan, harus berdasarkan keyakinan dan disertai dalil-dalil yang rajih serta tidak menafikan adanya perbedaan di kalangan orang lain.[]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!