“Menyoe Geutayoe Sang Ka Tatampa”

GEMA JUMAT, 8 NOVEMBER 2019

Tgk Rusli Daud, SHI. (Pimpinam Dayah Mishrul Huda Malikussaleh. Lamjamee Banda Aceh)

Peringatan maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Aceh dikenal dengan istilah “Maulod”. Didalam pelaksanaan peringatan maulid tersebut, dilakukan dengan cara berkenduri atau dikenal dengan istilah masyarakat Aceh disebut “Khenduri Maulod”. Bahkan perayaan maulid di Aceh, tidak hanya dilakukan pada hari yang ditentukan dalam kalender saja. Akan tetapi dilakukan pada waktu-waktu apa saja selama tiga  bulan. Dapat dikatakan maulid di Aceh merupakan perayaan dengan waktu terlama.

Bagi umat Islam di Aceh atau umat Islam di seantero Nusantara, peringatan maulid ditandai dengan adanya tradisi yang memiliki kekhasan tersendiri di masing-masing. Tradisi-tradisi ini merupakan simbol kelahiran Nabi Muhammad telah membawa rahmat dan berqah bagi umat Islam di seluruh dunia.

Seperti diketahui, tradisi perayaan maulid di Aceh dilakukan dengan berkenduri. Bagi masyarakat yang mampu melakukan kenduri, maka akan berkenduri dan membagikan makanan kepada masyarakat lain yang berkumpul di Meunasah  dan Masjid. Untuk lebih lanjut simak bincang-bincang Tabloid Gema Baiturrahman, dengan Tgk Rusli Daud, SHI,  Pimpinam Dayah Mishrul Huda Malikussaleh. Lamjamee, Kota Banda Aceh.

Bagaiman memaknai Maulid Nabi?

Banyak hal dalam kita memaknai Maulid Nabi Muhammad Saw, diantaranya adalah nilai ruhani atau spiritual,  setiap kita akan ada rasa cinta kepada Nabi Muhammad dengan memperingati mauled (kelahiran-Nya). Kecintaan kita kepada sosok beliau yang diutus oleh Allah SWT sebagai rahmatal lil alamin, kecintaan kita kepada Nabi juga merupakan bukti cinta kita kepada ALLAH SWT.

Misalnya, melalui shalawat dan barzanji yang dibaca pada setiap acara maulid, memberikan pelajaran dan nasehat kapada kita.

Khususnya kearifan lokal di aceh, banyak sekali faedah setiap bacaan itu, wabil khusus zikir maulid yg dibaca dg bahasa aceh, sampai anak kecil bisa memahami pesan2 nasehat dari setiap bait yg dibaca, seandainya kita mau merenungkan apa yang kita dengar itu maka, akan terbentuk jiwa kita dan karakter kita menjadi ummat yang cinta kepada Nabi Muhammad dan cinta kepada Allah SWT.

Selanjutnya, nilai moral yangg dapat kita ambil dari sosok pribadi beliau sebagai manusia nomor satu dijadikan oleh Allah SWT lengkap dengan peradaban yang sempurna sebagai manusia teladan dan uswatun hasanah.

Kenapa kita ditutuntut ikut Sunnah Nabi?

Sebagaimana sudah disebutkan diawal tadi, bahwa Nabi Muhammad Saw adalah manusia sempurna dalam peradaban, juga termuat dalam satu ayat yang artinya, hanya sanya Allah SWT mengutuskan beliau ke dunia ini adalah menyempurnakan akhlak. Juga tersebut dalam ayat al quran yang artinya, sesungguhnya ada pada diri Muhammad contoh teladan yang baik.

Kami kira, ini sudah lengkap alasan untuk kita agar mengikuti sunnah nabi, yang maksud dengan sunnah adalah segala hal yang ada pada diri nabi, baik yang lahir dari lisan atau perbuatan nabi. Karena nabi tidak akan berbicara dan berbuat kecuali sudah perintah dari Allah Taala.

Bagaimana metode dakwah nabi?

Sebagaimana kita ketahui dakwah bermakna mengajak atau menyeru kepada manusia agar manusia itu kembali kejalan yang benar. Berpindah dari kondisi jahiliyah ke islamiyah, dari tidak berilmu pengetahuan kepada berilmu pengetahuan,  dari maksiat ke berbuat ibadah kepada Allah SWT.

Saya kira, inilah subtansi sebuah dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.  Metode dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah ini sangatlah relevan dengan suasana pada saat itu. Sangat mutbaqahlilhal, yang mungkin sungguh sangat jauh berbeda dengan pola kita sekarang, beliau berdakwah dengan sikapnya lemah lembut, penuh dengan kesabaran jauh dari emosional, beliau berdakwah lengkap dengan lisan dan bil hal. Beliau sempurna mengimplementasikan sikap jujur, amanah, tabligh dan amanah.

Kondisi ini yang mungkin bagi kita hanya sekian persen dapat kita jalankan, apalagi kita yang hidup di zaman now ini, banyak si antara kita kadang mengedepankan rasa emosional dalam berdakwah jauh keikhlasan. Jika kita dapat menyimak dalam cerita hadis, dakwah pada masa Rasulullah Saw, bagaimana menyuap makanan kepada yahudi yang buta. Sekalipun, yahudi tersebut selalu mencaci maki Rasulullah,  tapi beliau tetap sabar menyuap makanan kepadanya, meunyoe geutayo sang ka ta tampa.

Bagaimana menjadikan maulid sebagai ajang memperkuat persatuan?

Memperkuat kesatuan dengan momentum maulid, sebagai mana kisah yang sering kita baca dan kita dengar, seorang tokoh islam Shalahuddin al Ayyubi sudah membuktikan dengan perayaan maulid ini, telah melahirkan satu kekuatan besar bagi ummat islam.  Kekuatan ini adalah terciptanya satu kesatuan dalam kehidupan sekalipun banyak ras dan suku yang berbeda.

Ini sdh dibuktikan.! Kondisi ini mungkin sudah agak berubah dalam kehidupan sekarang di era milineal. Kita di Indonesia yang hidup dalam ragam budaya, bhinneka tunggal ika,  sangatlah penting merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Khususnya di Aceh, kita dapat mengajak ummat untuk tetap konsisten dan istiqomah merayakan maulid, agar semangat kesatuan yang sudah tercipta di masa Sultan Salahuddin al Ayyubi menjelma kembali di era kita.

Melahirkan sebuah sebuah kesatuan di tengah kerenggangan kehidupan kita, sudah jauh dari peradaban yang semestinya diharapkan. Untuk itu, marilah kita mengajak saudara-saudara kita kembali kepada kehidupan yang sudah dilakoni oleh Rasulullah Saw,  kita jadikan momentum maulid tahun ini sbg kesempatan yang kesekian kalinya untuk membentuk diri kita menjadi manusia yang se utuhnya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!