“ Negeri Ini Butuh Banyak Wirausaha Muda”  

GEMA JUMAT, 12 OKTOBER 2018

Wawancara : Tengku Hanafiah, SH.I (Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (DPW – HIPSI) Provinsi Aceh)

Pada Awal tahun kemarin, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) menyatakan, jumlah wirausaha saat ini sudah mencapai rasio 3,1 persen dari total populasi penduduk Indonesia. Angka ini sudah melampaui standar internasional, yakni sebesar 2 persen. Menurut data yang dilansir  Kementerian Koperasi dan UKM, rasio wirausaha di Indonesia sudah meningkat menjadi 3,1 persen dari total penduduk Indonesia dari sebelumnya hanya 1,55 persen di 2014.

Jika dihitung dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 260 juta jiwa, maka jumlah wirausaha Indonesia saat ini mencapai sekitar 8,06 juta jiwa. Rasionya di 2014 baru 1,55 persen, tapi sekarang sudah 3,1 persen dari total penduduk Indonesia. Angka itu sudah di atas standar internasional yang mematok 2 persen.  Jelas sekali, rasio wirausaha di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura yang sudah mencapai 7 persen dari total 4 juta penduduknya, serta Malaysia yang sudah berada di level 5 persen. Setiap tahun ditargetkan meningkat 1 persen, dan harus mencapai 5 persen jumlah wirausaha kita di 2019.

Wirausaha sering dipadankan dengan kata entrepreneur atau juga yang menyebutnya dengan wira swasta. Kedua padanan kata tersebut kelihatannya berbeda, tetapi tidak terlalu signifikan. Pemahaman tentang entrepreneur atau wirausaha/ wiraswasta yang lebih bisa diterima akal sehat, namun hingga sekarang kita masih mendengar pemahaman tentang entrepreneur atau wirausaha/ wiraswasta ini yang berbau mitos sehingga berpengaruh terhadap asumsi dan persepsi kita. Akibatnya banyak di antara kita yang gagal mewujudkan berwirausaha karena keliru memahami, membangun asumsi dan persepsi tentang wirausaha. Berikut wawancara singkat Tabloid Gema Baiturrahman dengan Tgk. Hanafiah, SH.I, Ketua Umum DPW HIPSI  Provinsi Aceh.

Mengapa wirausaha penting?

Untuk membangun sebuah bangsa yang lebih maju, dibutuhkan banyak wirausaha muda.  wirausaha atau enterpreneur merupakan tulang punggung penting dalam pembangunan negara. Untuk  menjadi negara maju adalah memiliki enterpreneur minimal dua persen dari total populasi.

Pengusaha memiliki kecenderungan untuk terus berinovasi dan memunculkan teknologi baru untuk memenangkan persaingan pasar dan meningkatkan daya saing bangsa. Selain itu, juga menciptakan banyak lapangan kerja sehingga angka pengangguran dapat ditekan. Berkembangnya pengusaha lokal akan memperkuat kebutuhan domestik, sehingga dalam jangka panjang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar luar negeri.

Tidak banyak yang tahu bahwa wirausaha merupakan salah satu sektor bisnis yang penting, bersama dengan korporasi, koperasi, serta finansial dan perbankan. Saat ini yang digerakkan untuk menjadi wirausaha adalah yang usianya masih cukup muda, dengan alasan anak muda memiliki banyak inovasi dan tidak takut untuk mencoba hal-hal baru.

Apa alasan kita harus jadi pengusaha?

Entrepreneur atau wirausaha adalah sebuah alternatif lahan rezeki yang sangat banyak diminati oleh orang-orang. Selain kita bisa mengelola usaha sesuai dengan keinginan kita, kita bisa mengatur pola kerja kita sendiri karena kita adalah Bos-nya. Selain itu, dengan berwirausaha, juga bisa menjadikan kita lebih ulet dan kokoh dalam berjuang menjalani kehidupan. Karena kita tahu sendiri bahwa dunia wirausaha itu butuh ketelatenan dan ketelitian. Jatuh bangun dalam membangun itu sudah menjadi kisah biasa dalam hal berwirausaha.

Apa konsep Hipsi dalam upaya melahirkan wirausaha muda?

Selama ini, kaum santri selalu diidentikkan sebagai kelompok pengkaji ilmu agama. Mereka tidak pernah dipandang memiliki kemampuan dalam menggerakkan roda perekonomian.Padahal, para santri menyimpan potensi begitu besar dalam menopang perekonomian nasional.

Menyadari hal itu, beberapa santri berusaha keras mengubah pandangan masyarakat. Melalui sebuah pelatihan bersama pada 2012, kaum santri secara resmi bergabung dan mendeklarasikan diri dalam Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI).

Kaum santri merupakan bagian dari kelompok mayoritas di Indonesia. Mereka punya akses langsung untuk bersentuhan dengan masyarakat. Hal itu merupakan potensi kaum santri yang tidak dimiliki kelompok pengusaha lulusan perguruan tinggi. meski sebagai ahli agama, tidak semua santri berkesempatan menjadi pendakwah. Itupun jika orangtuanya seorang pendakwah atau memiliki pesantren. Sementara jumlah santri yang berasal dari keluarga selain pendakwah jauh lebih banyak.

Selanjutnya?

Sejak berdiri hingga saat ini, HIPSI telah memiliki anggota sebanyak 2.000 pengusaha. Selain itu, organisasi ini juga telah memiliki 18 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan 200 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang tersebar seluruh Indonesia. HIPSI bahkan telah memiliki perwakilan di sejumlah negara baik di Asia, Eropa, dan Australia.

Sebagai organisasi, HIPSI sadar betul kaderisasi merupakan kunci keberlanjutan visi. Tetapi, proses kaderisasi tidak selama berjalan mulus, disebabkan tidak semua santri tertarik menjadi pengusaha. Menghadapi persoalan itu, HIPSI berusaha keras melahirkan jiwa pengusaha di kalangan santri. Salah satunya menjalin komunikasi dengan para pengelola pesantren agar memasukkan materi kewirausahaan di dalam kurikulumnya.

Bagaimana melahirkan banyak kader pengusaha muda?

Entrepreneur atau pengusaha muda merupakan tugas bersama segenap masyarakat Indonesia guna memulihkan dan membangun kembali perekonomian di negeri kita tercinta ini. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang bagaimana melahirkan entrepreneur muda Indonesia? Seorang entrepreneur yang berjiwa kreatif, inovatif, dan tidak plagiatif serta tidak mudah menyerah dalam menghadapi persaingan dunia usaha.

Entrepreneur merupakan perkawinan antara jiwa kepemimpinan dan jiwa ekonomi. Kepemimpinan memberikan pengaruh terhadap mental seseorang dalam usaha membangun jiwa yang kreatif, inovatif dan tidak plagiatif, serta tidak mudah menyerah dalam menghadapi situasi dan kondisi persaingan dunia usaha. Jiwa ekonomi dimaksudkan kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat luas.

Agar tidak melahirkan entrepreneur yang berorientasi kepada keuntungan pribadi, oleh karena itu kemimpinan mengarahkan kepada tanggung jawab sebagai anak negeri di dalam membangun perekonomian Indonesia yang kian carut – marut.

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!