Peran Indonesia dalam Konlik Palestina

GEMA JUMAT, 15 DESEMBER 2017

Taufiqul Hadi, Lc., MA

Mahasiswa Program Doktoral Jurusan al-Dirasat al-Islamiyah wal Arabiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Langkah Presiden Trump yang memindahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem harus dibaca dari rencana besar pembentukan “Israel Raya” yang merupakan titik tolak faksi Zionis yang kuat di dalam pemerintahan Netanyahu saat ini, partai Likud, dan juga di dalam badan militer dan intelijen Israel. Maka bukan tanpa alasan kalau Trump secara sepihak menegaskan dukungannya terhadap permukiman ilegal Israel (termasuk penentangannya terhadap Resolusi 2334 oleh Dewan Keamanan PBB, yang berkaitan dengan ilegalitas permukiman Israel di Tepi Barat). Simak wawancara singkat Wartawan Tabloid Gema Baiturrahman Indra Kariadi dengan Mahasiswa Program Doktoral Jurusan al-Dirasat al-Islamiyah wal Arabiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, H. Taufiqul Hadi, Lc., MA. Peran dari OKI dan Liga Arab dalam menangani Palestina.

Bagaimana pandangan Anda terhadap pengakuan Amerika soal Yerussalem sebagai ibukota Israel?

Memang dari awal kenaikan Trump menjadi Presiden dari Partai Republik sudah menginginkan one state dengan Yerussalem sebagai ibukota Israel, bukan two state yang selama ini digelorakan dalam perjanjian Oslo 93. Dengan demikian tidak ada lagi yang negara Palestina karena dilebur dalam negara Israel. Saya rasa kekuatan Islam itu ada, namun selama ini kekuatan tersebut terpecah belah dengan berbagai kepentingan kelompoknya. Oleh karena itu, pasca pengakuan sepihak AS mengenai status Yerusalem sebagai ibu kota Israel, ini momentum yang tepat bagi umat Islam menyuarakan protes terhadap kebijakan Trump dan menunjukkan kekuatan ukhuwah islamiyah yang sebenarnya.

Apa langkah OKI dalam menyelesaikan Yerussalem dari pengakuan Trump?

OKI harus bersikap tegas dalam menyelesaikan krisis Palestina, terutama dalam mengintervensi Israel. Sebagaimana laporan yang dirilis kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, disebutkan kebijakan dan praktik pendudukan Israel tetap menjadi alasan utama krisis kemanusiaan di wilayah Palestina yang diduduki.

Bagaimana pengaruh Erdogan,  Hasan Ruhani dan Jokowi terhadap Palestina?

Ketiga tokoh tersebut mempunyai peran penting dalam KTT hari ini. Diharapkan mereka dapat mengkoordinir anggota OKI lainnya dalam merapatkan barisan mendukung Palestina dan mengecam sikap unilateral AS.

Langkah apa yang diambil Liga Arab?

Dalam deklarasi bersama terkait keputusan Trump tersebut, negara-negara Liga Arab menolak keras keputusan Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Dalam pernyataan bersama, Liga Arab menyatakan tindakan itu sama saja merupakan pengakuan atas pendudukan ilegal Yerusalem Timur dan karenanya tidak memiliki dasar hukum. Saya mendukung langkah yang diambil Liga Arab dengan meminta Dewan Keamanan PBB untuk menolaknya dalam sebuah resolusi, walaupun hal ini mungkin akan sulit dilewati, mengingat hak veto AS atas dewan keamanan.

Apakah ini akan memunculkan perang dunia ketiga?

Kemungkinan ke arah tersebut tetap ada, apalagi data dan fakta selama ini menunjukkan sinyalemen bahwa hanya bahasa kekerasan senjata yang bisa dipahami Israel.

Perang Arab-Israel Mei-Juni 1967 menempatkan Israel sebagai pemenang telak dari peperangan tersebut. Akibatnya wilayah koloni Israel 4 kali lebih luas dari wilayah sebelum terjadi perang. Menyikapi hal tersebut Dewan keamanan PBB turun tangan dengan mengeluarkan Resolusi No. 242 November 1967 yang di antara isinya menyerukan kepada Israel menarik mundur kekuatan militernya dari daerah-daerah yang direbutnya. Resolusi ini dikeluarkan untuk meredam kemarahan Arab dan menghentikan konflik yang  berkepanjangan.

Namun, resolusi PBB tersebut tidak digubris sama sekali oleh Israel, terutama oleh Golda Meir, Perdana Menteri Israel saat itu, maka opsi senjata menjadi pilihan kedua yang harus dijalankan. 6 Oktober 1973 Mesir dan Suriah memulai serangan ke jantung keamanan di tanah pendudukan Israel serta memporak-porandakan kekuatan militer Israel. Akibat dari kekalahan perang ini, Mesir berhasil merebut kembali Semenanjung Sinai. Sementara daerah pendudukan lain seperti Dataran Tinggi Golan milik Suriah dan Palestina masih dalam genggaman Israel.

Tahun 1982 Israel melakukan invasi ke wilayah Libanon dan pembantaian terhadap penduduknya terutama pengungsi Palestina dengan dalih berperang dengan para pejuang PLO. Tidak itu saja mereka juga menyebar dan menduduki Libanon Selatan, sebuah kawasan yang dihuni oleh komunitas Syi’ah.  Mulai dari sinilah lahir pejuang2 Hizbullah yang dilatih Iran di masa Presiden Khomeini. Tahun 2000 pejuang Hizbullah berhasil mengusir Israel dari Libanon Selatan. Sebuah prestasi yang perlu dibanggakan dari kelompok Hizbullah ketika bahu-membahu dengan faksi perlawanan Palestina terutama HAMAS dan Jihad Islam dalam menghalau agresi Israel ke Palestina tahun 2006 yang lalu.

Bagaimana nasib perdamaian di Timur Tengah?

Terkait dengan situasi di Timur Tengah saat ini, tentu saja langkah arogan AS saat ini akan merusak proses perdamaian yang telah terbangun. Hal ini bahkan akan memicu kekerasan dan radikalisme yang makin meluas dari pihak-pihak yang simpati terhadap Palestina. Radikalisme dan kekerasan tersebut akan muncul sebagai reaksi ketidakadilan yang dilakukan AS terhadap Palestina. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana OKI harus mampu mendesak Presiden Trump untuk mencabut ke­bijakannya terkait Yerusalem. Hal ini penting untuk memastikan terwujudnya perdamaian di sana

Apa harapan Anda kepada OKI dan Liga Arab serta pemerintah Indonesia dalam menangani Palestina?

Harapan saya untuk OKI dan Liga Arab harus dapat mengambil sikap yang tajam dan keras untuk menangani krisis di Palestina guna memenuhi aspirasi masyarakat Muslim di dunia. Yang dikhawatirkan adalah negara-negara Arab sekutu AS yang barangkali dapat melunakkan sikap kedua organisasi tersebut dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, negara-negara OKI dan Liga Arab harus bersikap solid dalam menyikapi krisis yang terjadi di Jerusalem.

Terkait dengan pemerintah Indonesia sendiri, saya mengapresiasi sikap konsisten pemerintah untuk tidak mengakui kedaulatan Israel. Bisa dikatakan Indonesia sebagai salah satu negara yang aktif dalam menyuarakan  perdamaian di Timur Tengah termasuk konflik Israel-Palestina, sikap komitmen ini diharapkan dapat terus dijaga oleh pemerintah kita. Dengan memainkan peran diplomasinya, Indonesia dapat mendorong pemimpin negara-negara dunia untuk memberikan dukungan dan mengangkat isu Palestina di forum forum internasional.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!