Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak

GEMA JUMAT, 01 DESEMBER 2017

Dr. Sri Rahmi, MA (Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan – UIN Ar-Raniry, Banda Aceh)

Mendidik anak selalu mengikuti dari teladan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah selalu lembut terhadap anak, Dia mengedepankan cinta daripada amarah. Nabi mencontohkan sikap mulia. Setiap orang tua pasti ingin memiliki anak-anak yang berperilaku baik, patuh pada orang tua, dan pandai bersosialisasi. Harapan-harapan tersebut akan mudah dicapai jika orang tua mampu membimbing anak untuk mewujudkannya. Lingkungan keluarga memiliki pengaruh dan peran besar dalam pembentukan karakter anak. Keluarga yang saling menyayangi, saling menghormati dan saling menghargai satu sama lain akan menciptakan kondisi yang memudahkan anak untuk berperilaku baik sesuai harapan kedua orang tuanya. Simak wawancara singkat wartawan Tabloid Gema Baiturrahaman Indra Kariadi dengan Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Dr. Sri Rahmi, MA

Bagaimana cara membina karakter diri untuk jadi pribadi ber-Akhlakul Karimah?

Pada dasarnya setiap diri pribadi itu memiliki perilaku baik (mulia), setiap perilaku yang baik tentu saja berbasiskan akhlak yang mulia.  Untuk melahirkan sosok  berkarakter yang  baik  adalah dengan menanamkan nilai-nilai akhlak mulia sejak usia dini. Misalnya diajarkan bersikap jujur, amanah, disiplin, giat bekerja dan sebagainya yang terkait dengan membangun pribadi yang berkarakter. Dalam hal ini orang tua mengambil peran penting terutama ibu yang paling banyak menghabiskan waktu bersama anak. Ibu harus mampu menjadi suri tauladan bagi anaknya dalam berperilaku sehari-hari yang sesuai dengan nilai-nilai akhlakul karimah.

Apa yang harus ditanamkan pada anak-anak,  agar anak berbudi pekerti yang baik?

Setiap anak terlebih dahulu ditanamkan nilai-nilai pribadi mulia dengan prinsip keteladanan. Untuk kemudian transformasi itu ditunjukkan dengan keteladanan. Tidak mungkin mendidik anak menjadi pribadi yang jujur, menjadi pribadi yang baik jika tidak terlebih dahulu memberikan keteladanan bagaimana dedikasi seseorang dalam bertindak jujur, bersikap baik dan santun. Selain keteladanan, pembiasaan menjadi penting agar anak merasa bahwa berbudi pekerti yang baik adalah merupakan gaya hidupnya sehari-hari.

Cara mengajari  anak-anak berbudi pekerti Nabi seperti Muhammad SAW?

Kita sebagai orang tua harus menfokuskan  memberikan simulasi kisah bagaimana pribadi Rasul didalam menghadapi realitas sosial serta solusi yang diberikannya. Misalnya, Rasul diancam bunuh oleh Datsur dengan pedang terhunus siapa yang dapat membantumu Muhammad, Rasul menjawab Allah. Dengan gemetar pedang terjatuh diambil oleh Rasul, tetapi disambut senyum dengan menyerahkan kembali pedang kepada Datsur. Padahal Rasul bisa saja membalas, namun tidak dilakukan olehnya. Ini menunjukkan pribadi yang santun tidak pendendam.

Dalam kisah ini tentu dapat diambil keteladanan yang dapat membentuk karakter penyabar dan tidak pendendam. Demikian seterusnya banyak kisah-kisah bagaimana Rasul bersama keluarga, sahabat disaat suka maupun duka. Prinsipnya membuat simulasi menceritakan kembali kisah- kisah keteladanan Rasul akan dapat mengajarkan anak memiliki karakter dan berbudi pekerti yang mulia. Orang tua sebagai guru yang utama bagi setiap anaknya bisa mengambil peran dengan senantiasa berperilaku sebagaimana perilaku Rasulullah dalam kehidupannya sehari-hari sehingga anak dapat melihatnya. Selain itu ibu juga bisa mengambil peran lebih saat anak hendak tidur atau di saat santai untuk bercerita tentang sirah nabawiyah, sehingga apa saja yang Rasul lakukan dalam hidupnya bisa menjadi model yang dapat ditiru oleh anak-anak kita. Yang terpenting, saat memberi contoh dan  mengajari anak adalah dengan memperhatikan usia dan perkembangan anak sehingga tepat sasaran.

Siapa tauladan anak jaman sekarang dalam bertingkah laku sehari-hari?

Anak jaman now dihadapkan oleh kenyataan sosial  yang tidak menguntungkan bagi pembentukan karakter kepribadian mulia yang merujuk kepada keteladanan Rasulullah. Ada anggapan ketinggalan zaman jika idolanya bukan orang yang terkenal di media televisi ataupun media cetak. Solusi yang perlu adalah memasyarakatkan di lingkungan anak-anak agar mereka menggandrungi sikap keteladanan Rasulullah di dalam ragam sektor berkehidupan. Anak jaman now lebih banyak disuguhkan dengan idola kekinian yang jauh dari nilai-nilai kemuliaan sehingga dalam tingkah sehari-hari. Mereka tidak cenderung menjadikan Rasul sebagai contoh berkehidupan. Disinilah diperlukan menanamkan akhlak-value sejak dini kepada mereka akan akhlak yang ditunjukkan oleh Rasul. Peran semua lini menjadi penting agar anak mencintai gaya hidup Rasulullah menjadi gaya hidupnya sendiri.

Apa tugas utama pendidik?

Seorang pendidik memiliki tanggung jawab mentransformasikan keteladanan yang ditunjukkan oleh Rasul, pendidik harus mempu membuat diagram simulasi keteladanan Rasul sehingga mereka mudah memahami dan terpatri kepribadian mulia dan menjadikan Rasul sebagai idola mereka dalam berkehidupan.

Pendidik hendaknya terus menggali metode yang tepat dalam mengajarkan akhlak kepada anak dan menjadikan rasul sebagai idolanya. Tentu pembiasaan dan keteladanan yang berkelanjutan dibutuhkan agar program yang dilakukan pendidik menjdi sukses dan bernilai guna. Apapun contoh yang diberikan oleh pendidik senantiasa merujuk pada contoh yang ditanamkan oleh Rasulullah.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!