Prof Warul: Jangan Pernah Menyalahkan Guru

GEMA JUMAT, 30 NOVEMBER 2018

Kemajuan suatu daerah dapat dilihat sejauh mana perkembangan kualitas pendidikan tersebut. Kualitas pendidikan itu sendiri sangat tergantung pada peran para guru. Untuk lebih lanjut mengenai perkembangan pendidikan, wartawan Gema Baiturrahman Zulfurqan mewawancarai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Prof Dr H Warul Walidin AK MA. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana perkembangan pendidikan Aceh?

Pendidikan adalah sifatnya holistik, yaitu multidimensi. Pendidikan tidak bisa dilihat secara parsial, melainkan integral. Semua elemen mempengaruhi mutu, jadi mutunya bukan satu-satunya faktor. Kita harus melihat pendidikan dalam semua dimensi, tidak keluar satu dimensi yang keluar dari pokok. Kalau kita lihat pendidikan itu UN (ujian nasional) itu sub indikator, tidak semua mata pelajaran diujikan. Kompetensi kelulusan iya, indikator fundamental.

Kalau kompetensi guru kita sekarang, bagaimana?

Kompetensi guru berada pada peringkat 15 nasional. sudah bagus guru kita. Luar biasa guru kita berbuat. Tanpa banyak pelatihan diberikan pemerintah, mereka dapat melaksanakan pengajaran pendidikan dengan baik,mereka belajar otodidak. Mereka baca buku, buku pun beli sendiri pakai uang sertifikasi, tidak dikasih pemerintah. Mereka belajar komputer. Guru kita luar biasa berkreasi dan berinovasi. Dan jangan pernah menyalahkan guru. Guru adalah posisi paling mulia di muka bumi ini. Mereka harus diberikan arah dan akses seluas-luasnya agar bisa melakukan aktualisasi dengan baik.

Berarti pelatihan guru harus banyak dilaksanakan?

Ke depan hentikan yang bersifat fisik, dan utamakan peningkatan mutu. Salah satunya perbanyak pelatihan guru.  Pelatihan harus tuntas. Jangan pelatihan tujuh hari tetapi dibuat jadi lima hari. Itu tidak boleh terjadi lagi.

Lantas apa saja dimensi-dimensi mutu pendidikan?

Dimensi fundamental isi, proses, kelulusan, pendidik dan tenaga pendidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, pengelolaan, dan penilaian. Indikator fundamental harus dilihat untuk melihat mutu pendidikan Aceh. Dan pada dimensi isi kita sudah terbaik nasional, posisi 11. Dimensi lainnya juga sudah di atas rata-rata nasional. Anak-anak kita secara nasional sudah bersaing luar biasa. Tahun 2017 anak-anak kita berada ranking pertama lulus di perguruan tinggi negeri di Indonesia. Kalau ada orang bicara pendidikan jeblok, merosot, mereka tidak paham pendidikan.

Kalau menurut Prof, apa tantangan pendidikan ke depan?

Kita sudah berada pada era industri 4.0, harus bersaing di ASEAN. Kita belum cukup siap melahirkan sumber daya manusia di atas negara-negara ASEAN. Sekarang solusinya perguruan tinggi harus KKNI dan SKPI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia  dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah) agar bisa bersaing. SMK juga harus bermutu dan berdaya saing. Bagaimana mau bermutu dan berdaya saing kalau guru produktif tidak ada.  SMK pendongkrak ekonomi yang luar biasa. SMK merupakan life skill yang jelas dan konkret. Jadi harus langsung dilatih life skill-nya.

Kepala sekolah turut pula diberikan pelatihan. Kepala sekolah harus direkrut dari guru-guru terbaik. Para pengawas (sekolah) kita tidak semuanya memiliki motivasi mengawasi yang baik. Mereka harus didukung dengan anggaran, pelatihan. Jumlah pengawas kita juga masih sedikit.

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!