Sistem Syariah Lebih Menguntungkan

GEMA JUMAT, 23 NOVEMBER 2018

Tahun ini Rancangan Qanun Lembaga Keuangan Syariah (LKS) akan disahkan menjadi qanun. Qanun LKS bertujuan untuk mensyariatkan transaksi keuangan agar menjadi islami. lebih jelasnya mengenai keunggulan LKS dibandingkan lembaga keuangan konvensional, wartawan Tabloid Gema Baiturrahman Zulfurqan mewawancarai Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (FEBI UIN Ar-Raniry) Dr Hafas Furqani. Berikut petikan wawancaranya.

Untuk apa Qanun LKS dirancang?

Qanun LKS disusun untuk mendorong pelaksanaan Syariat Islam secara kafah di Provinsi Aceh. Selama ini pelaksanaan Syariat Islam, mungkin fokusnya lebih ke hukum. Tetapi, sejak tahun 2016, pelaksanaan Syariat Islam sudah mulai merambah bidang ekonomi dengan dikonversinya Bank Aceh menjadi Bank Syariah. Menindaklanjuti itu, Qanun LKS disusun agar seluruh transaksi muamalah (keuangan dan perbankan) masyarakat Aceh dan juga lembaga keuangan sesuai dengan prinsip dan aturan Syariah. Seperti misalnya tidak ada lagi riba (bunga), gharar (ketidakjelasan), tadlis (penipuan), maysir (perjudian), dharar (membahayakan atau merugikan orang lain) dalam transaksi mereka.

Dari segi ekonomi, yang mana lebih menguntungkan antara sistem syariah dengan konvensional? Mengapa?

Sistem syariah lebih menguntungkan kepada lembaga keuangan dan juga kepada masyarakat karena sistem ini dijalankan dengan penuh transparansi. Segala harga, biaya, dan keuntungan harus disampaikan dengan jelas dan diketahui oleh kedua belah pihak. Penipuan dan perubahan harga secara sepihak tidak dibenarkan. Harga dalam transaksi keuangan syariah tidak mengikuti naik turunnya suku bunga. Namun, agar lebih kompetitif disarankan agar Lembaga Keuangan Syariah tidak mengambil keuntungan yang terlampau tinggi. Dimensi sosial juga diharapkan muncul pada lembaga keuangan syariah. Akhirnya, sistem keuangan syariah juga menjanjikan keberkahan dari Allah Swt, karena ia beroperasi sesuai dengan tuntunan dan aturan syariat-Nya.

Apakah ada tantangan dalam penerapan Qanun LKS ke depan? Jika ada, bagaimana mengatasinya?

Tantangan penerapannya mungkin adalah bagaimana meningkatkan kesadaran  masyarakat untuk meninggalkan praktek-praktek muamalah yang dilarang syariat dan menuju kepada yang sesuai dengan syariat. Sementara pada lembaga keuangan adalah kesadaran untuk “beralih” operasinya agar patuh Syariah (tidak lagi konvensional). Untuk Peralihan ke Syariah, Qanun memberikan masa transisi sehingga prosesnya dapat berjalan dengan baik.

Terkait sumber daya manusia dalam melaksanakan Qanun LKS, apakah perlu disiapkan? Jika perlu, bagaimana caranya?

SDM (sumber daya manusia) untuk melaksanakan Qanun LKS tersebut memang diperlukan karena Lembaga Keuangan Syariah tidak dapat beroperasi secara maksimal kalau tidak didukung tenaga yang memahami konsep dan praktik operasional keuangan Syariah. Di samping itu, SDM juga diperlukan untuk mengajak dan mengedukasi masyarakat agar mau berkomitmen untuk bertransaksi keuangan sesuai Syariah. Untuk meningkatkan SDM, bisa dilakukan melalui lembaga pendidikan seperti Sekolah dan universitas, dan juga organisasi masyarakat. Peran ulama, teungku, ustaz, juga dibutuhkan agar pemahaman konsep muamalah Islam dipahami dengan benar oleh masyarakat dna pelaku industri keuangan syariah.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!