Tsunami Menggugah Empati Dunia

GEMA JUMAT, 21 DESEMBER 2018

wawancara Muslahuddin Daud, S.Ag, Pahlawan Pertanian Indonesia 2017

Empat belas tahun berlalu usai peristiwa gempa bumi dan tsunami yang melanda wilayah Nanggroe Aceh Darussalam. Gempa berkekuatan 9,3 SR disusul dengan gelombang tsunami telah menghancurkan bangunan- bangunan di Aceh.

Gempa dengan kekuatan 9,3 SR terjadi sekira pukul 08.00 WIB yang berpusat 160 KM sebelah barat Aceh dengan kedalaman 10 kilometer, ini merupakan gempa bumi terdahsyat yang menghantam Aceh dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Gempa ini juga dirasakan hingga Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.

Paska musibah pemerintah RI bersama Lembaga NGO internasional, dan sejumlah Negara pendonor membangun kembali Aceh dari puing-puing reruntuhan. Bagaimana setelah 14 tahun berlalu? Berikut wawancara singkat Tabloid Gema Baiturrahman dengan Muslahuddin Daud, S.Ag, mantan pekerja World Bank dan Pahlawan untuk Indonesia kategori pertanian 2017 yang diselenggarakan TV swasta Nasional MCN TV.

Pasca rehab-rekon Tsunami Aceh, Apa persoalan utama yang belum tuntas menurut Anda?

Ada beberapa aspek permasalhan yang terjadi paska rehab rekon Aceh, salah satunya adalah soal asset transfer. BRR sebagai badan pelaksana yang dibentuk dengan SK Presiden punya wewenang setingkat lembaga mentri. Otomatis, setiap bangunan dan gedung yang dibangun dengan dana APBN atau Dana Donor pihak luar, sampai BRR berubah jadi lembaga BKRA. Namun, persaoalan transfer asset belum diselesaikan dengan baik. Sehingga biaya perawatan dan kepemilikan dan wewenang aset tidak jelas.

Sekarang jadi tanggung jawab siapa?

Jika ditanya siapa yang lebih bertanggung jawab, Tentu, pihak pemerintah yang mengurus bidang tersebut. Sehingga proses pemimndahan kepemilikan asset dari Nasional ke Pemerintah Aceh atau kabupaten/Kota selesai. B

agaimana cara memanfaatkan moment peringatan Tsunami sebagai peluang Wisata?

Untuk menangkap peluang- peluang seperti ini. Semestinya pemerintah punya kalender event. Kalender priodik ini menjadi agenda rutin. kalender even itu baik berbentuk memorian, reunifi kasi, atau dalam bentu remembering, tetapi harus menjadi agenda rutin. Kemudian, seteiap agenda ini harus di inprovikasi sesuai dengan konteks. Ketika punya peristiwa besar-beasr tapi tidak punya arti apa-apa. Apabila manajemen event ini tidak diperkuatkan. Salah satunya adalah, kita punya list berapa Negara yang ikut dalam rehab rekonstruksi Aceh. misalnya Negaranegara
yang punya bendera di Museum Tsunami Aceh. Dengan mengetahui Negaranegara yang terlibat dalam rehab rekom. Kita dapat menjadwalkan kegiatan bersama.

Misalnya ‘Thanks To The World’. Fungsinya?

Kegiatan seperti ini menjadi jembantan untuk melihat kembali Aceh. Semestinya tidak cukup disitu, harus ada dengan langkiahlangkah untuk menguatkan kembali hubungan Aceh dengan dunia Internasional dengan konsep kekinian. Misalnya sepanjang pantai Lhoknga – Leupueng, dibangun Jambo tempat istirahat para duta besar para Negara pendonor. ketika mereka datang tidak langsung tidur di hotel. Ditempat itu dapat dibangun semacam miniaturketerlibatan Negara mereka dalam proses rehap rekon Aceh. secara tidak langsung itu menjadi daya pikat. Sama dengan kita orang Aceh yang merasa bangga ketika ke Amerika Serikat melihat ada rumah orang Aceh di sana. Hal yang sama juga kita lakukan untuk berapa dan lembaga NGO Intenasional yang ikut berperan dalam pembangunan kembali Aceh paska gempa Tsunami 2004 lalu. Inilah yang disebut dengan even kelender periodik. Seperti di Jawa Tengah, ada Festifal Gunung Tangkuban Perahu.

Apakah wisata akan menggangu Syariat Islam?

Jangan ada anggapan bahwa dengan kunjungan mereka ke Aceh, syariat Islam akan hancur, jangan berpikir bahwa mereka karena bukan Aceh saja yang mareka kunjungi. Umumnya, orang beranggapan Wisata biasanya menjual Sea (laut) and Seks (maksiat). Padahal tidak sperti anggapan kita pada umumnya. Di tempat orang, ada hal-hal yang menganggung privasi orang dan hal yang kita lakukan itu jalan. Privasi mereka apa, mislanya tidak ada perebutan cover, taksi tidak ada rebutan, di hotel tidak yang ketok-ketok, setiap ada perlu penejlasan, itu yang disebut dengan hospitality turism Ada tawaran paket tradisi latihan saman dan pelatihan rapai. Sebetulnya, Syariat Islam itu bagaimana kita persepsikan kepada mereka. Mislanya bagaimana kita menjelaskan hukuman cambuk sebenarnya punishment sosial. Nah, Setelah
14 Tahun, potensi ini tidak dimanfatakan dengan baik. Marmus

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!