Menakar Keimanan Seseorang

KHatib
Tgk. H. Mutiara Fahmi Razali. Lc. MA

Oleh: Tgk. H. Mutiara Fahmi Razali. Lc. MA
Sejauh mana rasa keimanan kita kepada Allah swt? pertanyaan serupa ini mungkin sangat jarang kita tanyakan kepada diri kita. Biasanya manusia sering mengeluh dan mengkuatirkan kekurangan harta benda, pendapatan, upah dan gaji. Mengeluhkan kurangnya kesehatan, mulai berkurangnya penglihatan atau fungsi tubuh yang lain, atau bahkan sebagian kita sangat risau dengan semakin bertambahnya usia. Tapi pernahkah kita risau dan gundah dengan berkurangnya Iman dalam jiwa kita??
Dari berbagai definisi menurut para ulama Ahlus Sunnah dapat kita simpulakan bahwa iman adalah suatu keyakinan dalam hati seseorang kepada Allah swt yang diwujudkan dengan perkataaan dalam lisan, serta amalan dengan anggota badan. Artinya keimanan baru sempurna jika terdapat singkronisasi antara tiga unsur tadi; hati, ucapan dan perbuatan. Itu sebabbya kita mendapati ayat alquran dimana Allah selalu menggandengkan kalimat “Aamanu dengan wa ‘amilus shalihat”. Sebagai suatu isyarat tidak sempurna iman tanpa amal saleh demikian juga sebaliknya
Namun demikian, keimanan kepada Allah dapat saja bertambah maupun berkurang. Hal itu sangat tergantung dari kuat-lemahnya keyakinan hati kita, banyak-sedikitnya zikir dan ucapan kita tentang Allah, serta kuantitas dan kualitas amalan kita sehari-hari.
Hal ini sebagaimana diisyaratkan Allah dalam surat At Taubah: 124-125
Dan apabila diturunkan suatu surat maka diantara mereka (kaum Munafik) ada yang berkata: “siapakah diantara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini? Adapun orang-orang yang beriman maka surat ini menambah keimanannya sedang mereka merasa gembira.
Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, (disamping kekafirannya yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.
Penyakit yang disebutkan oleh Allah dalam ayat tadi sebagaimana ditafsirkan oleh para ulama adalah penyakit bathiniyah yang terdiri dari tiga stadium. Pertama dan tertinggi adalah kekufuran. Kedua kemunafikan, dan ketiga keragu-raguan. Wal’iyazu billah.
Untuk menghindari berbagai bentuk penyakit bathiniyah tersebut, maka patut kiranya kita mengenal beberapa perkara yang dapat melemahkan keimanan kita kepada Allah swt. serta ajaran agama ini. Dari berbagai hal yang dapat melemahkan iman, dapat kita ringkas sbb:

  1. Kurangnya pengenalan terhadap Allah swt dan minimnya pemahaman ilmu agama

Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa mula-mula agama adalah dengan mengenal Allah swt. Seorang yang muslim yang tidak mengenal Tuhannya dengan baik, dipastikan tidak akan dapat beragama dengan baik pula. Ia tidak akan dapat memahami arti perintah dan larangan Allah kepadanya. Mengenal nama-nama Allah yang 99 dan sifatnya yang 20 adalah salah satu cara menghindari kelemahan Iman. Seorang yang meyadari makna sifat “wujud” misalnya tidak pernah akan berani mengingkari perintah Allah sebab ia juga meyakini bahwa Allah juga bersifat Maha melihat (al bashir), Maha memantau (ar Raqib), dan Maha memperhitungkan (al hasib).
Kurangnya pemahan ilmu agama juga merupakan sebab lemahnya iman. Seseorang yang tidak mengetahui hukum halal dan haram, wajib, sunnah, makruh dan mubah misalnya sangat mudah terjerumus dalam perbuatan yang dilarang agama. Meski tidak ada jaminan bahwa seorang dengan ilmu yang tinggi pasti akan memiliki ketaqwaan yang tinggi pula, akan tetapi ilmu akan sangat membantu seseorang beribadat kepada Allah dengan benar. Itu sebabnya Allah menyatakan dalam Al Quran bahwa yang memiliki rasa takut kepadanya hanyalah para ulama yang ditafsirkan dengan orang yang mengetahui ilmu agama.
Ibnu rajab mengatakan suatu ilmu yang berguna dapat dilihat dari dua indikator; pertama ilmu tersebut semakin membuatnya mengenal Allah dan mengagungkannya. Kedua; ilmu tersebut membantunya bertindak sesuai dengan ridha Allah dan menjauhkannya dari kebencian Allah swt. Ilmu yang demikian itulah yang dapat menambah keimanan dan membawanya ke syurga sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim Rasulullah saw bersabda:
Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu pengetahuan maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju syurga.
Pada dasarnya semua ilmu yang dapat membawa seseorang kepada peningkatan keimanan kepada Allah dapat dipelajari. Dalam hal ini kita tidak sedang melakukan dikotomi ilmu kepada ilmu agama dan ilmu umum sebab yang lebih tepat sebagaimana kata imam Al Ghazali adalah ilmu yang pembelajarannya bersifat fardhu ‘ain dan ilmu yang bersifat fardhu kifayah.

  1. Banyak melakukan dosa dan maksiat

Seorang muslim yang terbiasa melakukan dosa dan maksiat kepada Allah swt akan berpengaruh terhadap kadar keimanannnya. Imam al Bukhari mengatakan Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan. Hal ini sesuai dengan hadis rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :
Fitnah akan melekat di hati manusia bagaikan tikar yang dianyam secara tegak-menegak antara satu sama lain. Hati yang dihinggapi oleh fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga jika hati yang tidak dihinggapinya, akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbahagi dua: Sebagiannya menjadi putih bagaikan batu licin (marmer\) yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Adapun sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga berkarat, tidak menyuruh pada kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.
Fitnah dalam hadis ini diartikan sebagai dosa dan maksiat. Melakukan suatu dosa terutama yang tergolong dosa besar sangat mempengaruhi kualitas hati yang merupakan sumber keimanan seorang muslim. Hadis diatas menunjukkan betapa besar dampak yang diakibatkan oleh sebuah dosa terhadap kotor dan berkaratnya hati. Hati yang telah mati tidak lagi mampu membedakan yang makruf dan munkar, yang haq dan bathil, kecuali mengikuti hawa nafsunya saja. Sementara hati yang bersih akan senantiasa terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. Perbuatan dosa besar tidak hanya menurunkan fungsi hati sebagai filter dan pencegah kemungkaran jiwa akan tetapi juga meniadakan iman itu sendiri. Sebagaimana sabda rasul saw. “Bahwa tidaklah berzina seorang pezina kecuali saat itu ia tidak dalam keadaan beriman.”

  1. Bergaul dengan lingkungan yang tidak mengingatkannya kepada Allah dan ajaran agama.

Tidak dapat dipungkiri bahwa teman dan lingkungan dimana kita hidup sehari-hari merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kualitas iman seseorang.
Dalam kitab shahih Bukhari diriwayatkan oleh Abu Musa daripada rasulullah saw beliau bersabda:
Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang buruk ialah seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan memberi minyak kepadamu, kamu membeli darinya, atau kamu mencium baunya yang harum. Sedangkan pandai besi mungkin akan membakar pakaianmu atau kamu mencium bau yang tidak sedap.
Seorang yang sehari-hari hidup dalam lingkungan yang selalu membicakan mengenai bisnis, proyek, laba dan rugi, tanpa pernah dahinya mencium sajadah mushalla, atau tanpa sekali-kali mendengar nasehat agama, tentu juga akan terpengaruh dengan gaya hidup mereka. Meski awalnya orang tersebut baik namun sangat dikuatirkan sehari demi sehari kebaikannya akan ternodai.
Betapa menyedihkan, sebagian generasi muda kita hari ini yang terjebak dalam gaya hidup kaum happiest. Suatu gaya hidup yang hanya berpikir demi kesenangan dan mentuhankan kesenangan. Generasi yang hidupnya dari café ke café, generasi yang tidak pernah mau membaca dan menulis. Bukan karena mereka tidak bisa akan tetapi mereka berkata “kami tidak mau berpikir yang berat-berat, yang penting hidup ini heppy, hidup hanya sekali, jadi nikmati saja”. Kalaupun mereka membaca, bacaannya adalah berita isu dan gossip dan kalau mereka menulis, tulisannya adalah kicauan senda gurau tanpa batas, bahkan caci maki dan fitnah di media sosial.
Rasulullah bersabda dalam riwayat yang shahih dalam kitab Mustadrak al Hakim, Abu Daud dan Turmuzi:
Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka hendaklah kamu meneliti siapa yang kamu jadikan teman
Demikianlah beberapa faktor yang dapat melemahkan kualitas iman seseorang. Masih banyak faktor lain yang tidak mungkin diuraikan satu persatu disini. Namun setidaknya ada dua gejala utama yang dapat kita simpulkan bagi adanya syndrome melemahnya iman seseorang.
Pertama: Jika hati kita tidak merasa ada suatu hal yang salah ketika meninggalkan suatu kewajiban syara’ atau keutamaan yang telah diperintahkan agama, maka yakinlah saat itu kualitas iman kita sedang sakit.
Kedua: Jika anggota tubuh kita dengan mudah melakukan hal-hal yang terlarang agama tanpa ada perasaan berdosa, maka ketika itu Iman kita dalam masalah.
Rasul bersabda:
Barang siapa yang perbuatan baiknya membuat ia senang dan perbuatan buruknya membuat ia susah maka itulah (ciri) seorang mukmin.
Bagaimana Iman yang lemah dapat diobati dan ditingkatkan? Para ulama menyebut­kan banyak perkara yang dapat menguatkan keimanan. Pengobatannya sangat tergantung dengan kadar keimanan mana yang rusak dan perlu diperbaiki. Apakah hati, lisan atau amalan. Kerasnya hati misalnya dapat diobati dengan banyak berzikir dan membaca alquran. Mengunjungi orang yang sakit dan merasakan apa yang mereka rasakan. Mengingat mati dengan mengantarkan jenazah dan berziarah kubur. Sementara mereka yang terjerumus kepada kemaksiatan wajib meninggalkan lingkungan yang selama ini mendukungnya untuk terus maksiat. Bergurulah dengan orang-orang saleh, sering hadir mendengar pengajian, dan ceramah agama. Memahami dan merenungi tujuan hidup dan hal-hal positif lainnya.
Para ulama juga menyebutkan satu hal lain yang sangat efektif dapat memelihara unsur yang melemahkan Iman. Yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Jika kelemahan iman telah demikian nyata dan menyangkut kehancuran ummat maka para pemimpin sepatutnya harus melakukan pencegahan dengan kekuasaan mereka sesuai dengan tupoksi masing-masing.
Kita dapat saja terus menyalahkan pihak luar terhadap gerakan pendangkalan akidah yang terus menyerang aceh saat ini. Padahal pertahanan yang paling efektif justru dari internal kita sendiri. Pemerintah Aceh, legislatif dan aparat hukum dapat melakukan amar makruf dengan segera menerbitkan qanun dan aturan terkait lalu mengawasi dan mengambil tindakan hukum. Masyarakat dapat mengawasi dengan program page gampong dengan catatan tetap menghindari sikap main hakim sendiri. Dan setiap individu kita bisa berpartisipasi dalam keluarga kita, mengawasi ibadah dan prilaku anak-anak kita. Bukankah itu selemah-lemah iman?
Akhirnya, mari kita senantiasa memelihara kualitas iman kita dengan terus memperdalam ilmu agama, mengasah hati dan lisan kita dengan zikir dan al quran, serta selalu berupaya menciptakan lingkungan yang saleh. Allah swt berfirman : Wahai Orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan senantiasalah bersama orang-orang yang benar. (QS. At Taubah 119)
Seolah-olah ayat tersebut mengisyaratkan bahwa bagi seorang mukmin, taqwa saja tidak cukup akan tetapi senantiasa dalam jamaah dan komunitas orang-orang yang lurus itulah yang senantiasa memelihara keimanan kita sampai akhir hayat. Bukan pepatah berkata “sesungguhnya serigala hanya mampu menerkam domba yang tertinggal dari kawanannya’?
Khatib Tenaga Pengajar Dayah Darul Ihsan Tgk. H. Hasan Krueng Kale, Siem Aceh Besar.