Pejuang Pembangkit Jiwa Oleh : Nurjannah Usman

antarafoto-Proyek-RSJ-030812-HerGema, edisi, Jumat 30 Januari 2015
Dendang-dendang lagu trus berlalu
Mengikuti alunan musik shahdu
Dengan sang biduan paru baya
Menarik perhatian mataku untuk celingik
 
Ke sang biduan itu
 
Ternyata dia menyanyi sambil menari
Dengan barisan penjoget dibelakang,
Depan dan kiri kanannya
Tidak ada duka disana
Tidak ada sedih
Tidak ada sesak nangis sembilu
Tidak ada bermuram durja
 
Yang ada hanya mereka-mereka periang
Dengan senyuman menghiasi wajah
Mereka bahagia
Mereka tertawa
 
Wahai jiwa-jiwa yang dulunya merasa gersang
Dengan matahari kehidupan
Pemabakar akal sehat dan jiwanya
Dengan rantai pengikat kaki dan tangan
Masa itu sudah lewat
Tinggalah seberkah cahaya
Yang harus disongsong bersama
Tanpa terbebani tanpa terikatkan kaki
 
Bangunlah jiwa-jiwa yang memendam
Di kesunyian siang dan malam
Masa depan mu masih panjang
Masih banyak ranjau-ranjau kehidupan yang harus engkau lewati
Dengan jiwa sehat mu
Terkhusus untuk ‘engkau’
Sang pejuang pembangun jiwa
Lamprit, 28 Februari 2015