BERTANYA YANG LAYAK DALAM AGAMA

AZMAN ISMAIIL
Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA, Iman Besar Masjid Raya Baiturrahman

Jumat, Edisi 23 Januri 2015
Surat al-Maidah ayat 101
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu al-Qur’an itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”
Menurut riwayat, ayat ini diturunkan ketika para sahabat banyak mempertanyakan kepada Rasulullah saw. tentang perkara-perkara yang jika diterangkan kepada mereka, tentu akan memberatkan mereka dan membuat mereka sedih. Contoh dari pertanyaan ini adalah, tentang bagaimana keadaan nenek moyang mereka, apakah di surga ataukah di neraka?. Tentu saja pertanyaan ini tidak ada kebaikannya bagi mereka. Demikian juga pertanyaan yang mengakibatkan beban-beban berat dalam syariat, pertanyaan tidak berguna, namun jika seandainya pertanyaan yang diajukan tersebut bernilai ilmu dan manfaat, maka hal tersebut dibolehkan. Dalam perjalanan Rasulullah dalam membina komunitas muslim, tentu tidak semuanya berjalan lancar seperti yang diinginkan, tetapi butuh bimbingan dan arahan untuk masyarakat muslim yang baru terbentuk ketika itu. Kenyataan tersebut tampak pada sebagian sahabat dengan antusias tinggi terhadap rasulullah dan agama Islam, sering bertanya kepada Rasulullah tentang agama ini, tapi tanpa mereka sadari mereka kadang-kadang mempertanyakan hal-hal yang tidak perlu, bahkan menyusahkan diri sendiri. Berkaitan sahabat yang mempertanyakan hal tersebut namun dengan ketidaktahuan, niscaya Allah mengampuni kekhilafan mereka.
Diskusi-diskusi dalam forum keilmuan yang bertujuan untuk kebaikan syariat dan kemuliaan Islam tentu sangat berguna untuk memperkokoh fondasi agama ini, namun jika diskusi-diskusi yang menanyakan keabsahan suatu kewajiban yang diwajibkan oleh Allah dengan tujuan mengolok-olok syariat tentu tidak layak untuk dipersoalkan.
Demikianlah kita seharusnya menyikapi agama kita ini, sehingga dalam urusan agama kita dianjurkan untuk selalu menyatakan “sami’naa wa atha’naa” (kami dengar dan kami patuhi”. Itu adalah jalan yang akan menyelamatkan kita dalam beragama. Bukan sebaliknya “sami’naa wa ‘ashaynaa’. (kami dengar dan kami ingkari), karena ucapan mereka yang seperti itu yang menyebabkan kehancuran generasi-generasi terdahulu. Allahu musta’aan.