Kekafiran Karena Terlalu Banyak Bertanya

AZMAN ISMAIIL
Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA

Gema, edisi, Jumat 30 Januari 2015
Sesungguhnya sebelum kamu telah ada segolongan manusia yang menanyakan hal-hal serupa itu (kepada nabi mereka), kemudian mereka menjadi kafir (QS. Al-Maidah 102)
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa Allah memberi batasan pertanyaan kepada Rasulullah terhadap perkara-perkara yang apabila disebutkan jawabannya akan membuat mereka lebih terbeban dan merasa sedih, karena berkaitan dengan nasib pendahulu mereka, apakah di syurga ataukah di neraka dan sebagainya.
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa terjadinya kekafiran pada sebagian umat terdahulu, karena mereka banyak menanyakan hal-hal yang tidak perlu kepada nabi yang diutus kepada mereka, kemudian apabila mereka mendapat jawaban yang tidak melegakan mereka, dan setelah diterangkan kepada mereka perkara yang mereka tanyakan itu, mereka tidak menaatinya, kemudian mereka menjadi kafir
Hal tersebut dikuatkan oleh hadits Nabi yang berbunyi: “Apa yang aku larang, maka jauhilah dan apa yang aku perintahkan maka laksanakanlah semampu kamu. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kamu adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka. (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitulah watak manusia terdahulu, namun apakah kita menyadari, bahwa banyak di antara kita yang menjadi ragu-ragu terhadap perkara agama, apalagi kehidupan modern yang menuntut untuk berpikir rasional, sehingga semua masalah agama dikaitkan dengan hal-hal yang ilmiah dan rasional, bila tidak memiliki kaitan dengan tersebut, menyebabkan sebagian orang menjadi murtad, atheis dan sebagainya. Itulah yang terjadi di Barat, yang mana kehidupan mereka yang disandarkan pada hal-hal yang bersifat materi dan empiris, jika hal tersebut tidak relevan dengan agama, maka mereka berpaling dari agama. Berkaca dari kenyataan tersebut, hendaklah kita tetap istiqamah dengan keimanan dan agama yang kita yakini ini. Islam. Wallahu musta’aan.