Memurnikan Tauhid

AZMAN ISMAIIL
Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA Imam Besar Mesjid Raya Baiturrahman

Gema, edisi 6 Februari 2015
Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya Bahiirah, Saaibah, Washiilah dan Haam. Tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul.” Mereka menjawab, “Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya”. Apakah mereka (akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?(QS. al-Maidah 103)
 
Ayat ini menerangkan tentang celaan Allah kepada orang-orang musyrik yang menetapkan aturan agama yang tidak diizinkan Allah, mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, mereka mengharamkan binatang ternak berdasarkan pendapat mereka semata. Disebutkan dalam ayat ini dengan tradisi orang-orang kafir, seperti Bahiirah adalah unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelima itu jantan, lalu unta betina itu dibelah telinganya, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan tidak boleh diambil air susunya.
Kemudian diantara tradisi orang-orang kafir adalah Saaibah adalah unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja karena suatu nazar; tidak ditunggangi, tidak dipakai memikul barang dan tidak disembelih. Seperti, jika seorang Arab Jahiliyah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, maka ia biasa bernazar akan menjadikan untanya saaibah jika maksudnya berhasil atau perjalanannya selamat. Disamping itu juga ada yang disebut dengan Washiilah adalah seekor domba betina melahirkan anak kembar yang terdiri dari jantan dan betina, maka yang jantan ini disebut washiilah, tidak boleh disembelih dan diserahkan kepada berhala.
Ada yang berpendapat, bahwa washiilah adalah seekor unta betina yang melahirkan anak betina, kemudian lahir lagi betina tanpa diselangi anak laki-laki. Unta ini d tidak disembelih dan diserahkan kepada berhala. Ada juga kepercayaan orang-orang kafir yaitu Haam adalah unta jantan yang tidak boleh diganggu lagi, karena telah membuntingkan unta betina beberapa kali. Unta ini sama diserahkan kepada berhala dan dibiarkan tidak ditunggangi dan tidak boleh dipikul barang-barang di atasnya. Binatang-binatang yang disebutkan itu dianggap haram oleh orang-orang musyrik tanpa dalil, bahkan atas dasar dusta yang disandarkan kepada Allah, muncul dari kejahilan mereka dan tidak menggunakan akalnya.
Itulah perbuatan orang-orang kafir, yang mengada-adakan suatu tradisi yang tidak disyariatkan oleh Allah, karena tidak ada satu dalilpun yang menyatakan seperti itu, baik dalil naqli maupun dalil naqli. Sewaktu ditanyakan kepada mereka tentang hal itu, mereka menyatakan bahwa itu adalah agama dan aturan dari nenek moyang mereka meskipun tidak benar. Semoga kita dijauhkan dari perbuatan-perbuatan semacam itu. Na’udzu billahi min dzalika.