Membangun Kekuatan Aqidah Ummat

1 tamlikha.
Ustazd H Tamlicha Hasan, Lc,

Khutbah Jum’at, Ustazd H Tamlicha Hasan, Lc, Penceramah Halaqah Shubuh Masjid Raya Baiturrahman
Gema, Edisi Jumat 6 Februari 2015.
Islam satu-satunya agama (ad-Dien) pilihan Allah swt. Dibentuk atas dua esensi yang sangat kokoh
yaitu aqidah dan syariat. Merupakan satu hal yang dimengerti secara umum bila aqidah dimaksudkan
dengan iman, sementara syariat dimaksudkan dengan islam. Aqidah menempati hati (amal qalb) dan
syariat adalah amal yang dilakukan dengan anggota badan (amal jawarih). Kali ini kedua kata memiliki cakupan yang khusus. Pada kali lainnya pemakaian beberapa kata bisa dimaksudkan lebih umum seperti kata Islam yang dijadikan sebagai sebutan nama agama. Kata syari’at dapat mencakup identitas dengan makna luas dan menyeluruh, manakala kata ini disandingkan dengan kata; islam (syari’at Islam) yang meliputi seluruh ajaran Islam itu sendiri. Begitu pula bentukan kata i’tiqad yang
menghimpun cakupan luas seluruh sikap meyakini.
Gambaran sederhana dari istilah aqidah maupun i’tiqad dapat dilihat dari ilustrasi berikut, agar kita
mampu menempatkan posisi pemakaiannya. Bila seseorang beriman akan wujud Allah swt; maka sikap berimannya dinamakan dengan i’tiqad, dan wujud Allah swt disebut dengan aqidah. Begitu hal jika ia meyakini, percaya, dan membenarkan akan keesaan Allah swt; maka sikapnya ini adalah
i’tiqad, sedangkan esa Allah swt merupakan aqidah.
Esensi Kekuatan Aqidah Suatu yang harus disadari dan diyakini bahwa aqidah adalah bersifat esensial dan fundamental. Dalam  fi lsafat  pendidikan terlebih  fi lsafat  pendidikan Islam, proses pendidikan
dapat dicapai serta membawa  pengaruh  signifi kan dan mampu mengubah pola pikir maupun prilaku sosial bila pendidikan dimaksud memiliki dasar yang jelas. Dasar tersebut menentukan terbentuknya metode, kerangka, pola, arah serta tujuannya.
Dalam Islam, konsep pijakan dasar yang sekaligus sasaran menjadi arah dan tujuan adalah ketauhidan. Seluruh para rasul diutuskan dengan pengajaran awal tentang tauhid. Setiap utusan diyakini dengan pasti menyampaikan seruan pertama tentang tauhid ini.
Pada surat Al-Anbiya ayat  25  Allah  swt  berfi rman: Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak dengan sebenarnya) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kamu sekalian akan Aku. Secara umum kekuatan aqidah harus dibangun dari tiga esensi awal:
I’tiqad yang benar tentang Dzat Allah swt, nama-nama, sifat dan perbuatannya. Pada tataran ini ketauhidan yang dimaksud adalah mencakup tauhid uluhiyyah dan tauhid rububiyyah. Konsep nubuwwat yang meliputi kenabian dan kerasulan berikut wahyu sebagai bagian dari ketauhidan. Bagian lainnya dari tauhid adalah keyakinan akan malaikat Allah swt serta karakteristik alam
mereka yang mencakup Ruh, Qalam, Luh, Arasy, Kursi, soal dalam kubur berikut nikmat dan azab
kubur, kebangkitan, hari akhir serta cakupannya, ciptaan Allah swt yang tak terlihat mata semisal jin
dan syaitan. Keseluruhan bagian tersebut termasuk dalam bagian masing-masing dari konsep aqidah dengan istilah ilahiyyat, nubuwwat, dan sam’iyyat.
Keyakinan yang menjadi landasan aqidah ilahiyyat, nubuwwat dan sam’iyyat harus konsisten
dipahami oleh segenap umat. Seperti Dzat Allah swt, bukanlah ranah yang dapat diketahui esensinya.
Pemahaman mendasar atas syariat menyatakan bahwa Dzat Allah swt tidak boleh dipikirkan, tetapi akal diminta berpikir tentang makhluk ciptaan sebagai bukti adanya Dzat Allah swt. Abu Nu’aim dalam Huliyyatul Auliya meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tafakkaru fi khalqillah  wala  tatafakkaru  fi llah, fainnakum lan taqduru qadrahu”. Ini bukan dimaksudkan sebagai kurungan yang membatasi guna akal, namun lebih kepada proteksi atau ’ismah terhadap akal
pikiran agar tidak sia-sia, terlantar, dan tersesat jauh dalam ranah yang bukan wilayah interaksinya. Begitu halnya dengan asma dan sifat Allah swt; dimana Al-Bukhari, Muslim, AtTurmudzi serta perawi hadits lainnya menyebutkan pesan Rasul saw tentang 99 asma`, menghapalnya dapat balasan masuk surga, dan Dia Allah swt adalah witir (ganjil) menyukai alwitr (rakaat). Generalnya, terkait nama-nama Allah swt umat hanya menetapkan nama yang telah Allah tetapkan bagi diriNya atau
ketetapan dari RasuNya. Umat mesti mengimaninya seperti para sahabat mengimaninya dengan tanpa tasybih, ta’thil, dan takyif. Jadi mengembalikan perkara mutasyabihat kepada muhkamat (laisa kamitslihi syaiun).
Seterusnya aqidah atas af’al Allah swt; wa Rabbuka yakhluqu ma yasya` wa yakhtar, dimana af’alNya didasari ilmu yang luas, kehendak dan kuasa yang pasti terlaksana. Lalu kongklusi yang dipetik bahwa
semua yang didasari ilmu, kehendak, dan kuasa tentu berhak memilih apapun dan siapapun. Begitu seterusnya dalam ranah nubuwwat; semisal hukum mengutus para rasul adalah jaiz bagi Allah SWT.
Kenabian juga nyata adanya, semisal nyatanya risalah Muhammad saw, jelas dan benar penyampaiannya. Kenabian harus diyakini adalah martabat anugerah dan karunia dari
allah swt, memberikan kepada siapa yang Allah swt pilih dan kehendaki. Martabat ini tidak bisa didapatkan dengan usaha pelatihan kerohanian, pengamatan atau perenungan panjang
dengan mengisolir diri dari hiruk pikuk kehidupan publik. Ia murni karunia Allah swt kepada hamba yang dikehendakiNya. Kerasulan amat dibutuhkan oleh manusia agar bisa mengenal hal-hal dimana akal terlalu lemah untuk sampai kesana dengan sendirinya. Disamping kebutuhan lainnya agar manusia dapat mengatur kehidupan duniaakhiratnya sesuai dengan arahan wahyu ilahi. Disamping dihiasi sifat-sifat terpuji, rasul-rasul inipun terjaga dari maksiat lahir batin (ma’sum). Dalam
ranah sam’iyyat; umat meyakini bahwa informasi ini tidak diperoleh dengan usaha akal, tetapi hanya didapat dari dua sumber: AlQur’an dan Sunnah Nabi saw.
I’tiqad yang benar tentang kesempurnaan syariat Islam yang sesuai untuk semua masa, situasi dan
kondisi. Pada saat bersamaan konsep i’tiqad ini diperkokoh dengan keyakinan bahwa ajaran (syariat)
manapun selain syariat Islam sama sekali tidak pantas dijadikan aturan bagi umat Islam, karena memiliki kekurangan dan keterbatasan tentang banyak hal seperti sifat rabbaniyah dan kaburnya orientasi kehidupan ukhrawi, serta banyak dipengaruhi oleh ketidakadilan, berikut keberpihakan atas kepentingan hawa nafsu, golongan, bangsa atupun pencetusnya. Maka tidaklah beriman orang yang merasa bahwa syariat Islam belum sempurna dan tidak mampu memberi jawaban atas permasalahan kemanusiaan. Surat Al-Jatsiyat ayat 18-20 menyatakan: Kemudian kami jadikan kamu berada diatas
syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (18). Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang
yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa (19). Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini (20). Pernyataan kesempurnaan secara langsung disebutkan
pada bahagian ayat 3 surat Al-Maidah: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
I’tiqad yang benar dan sungguh-sungguh tentang ikatan sosial yang terbaik adalah dengan aturan dan
kerangka yang digariskan oleh Islam. Maka membina interaksi intern diantara sesama umat Islam hingga mengikat hubungan ekstern dengan umat lain dilakukan dengan aturan dan dalam kerangka ini. Hubungan interaksi berdasarkan aturan ini akan mendidik manusia arah mempercayai akan adanya alam nyata dan alam ghaib. Jadi dalam ikatan ini, setiap individu akan dengan transparan terdidik sosialitas ruh, akal, potensi, performa, akhlak, tingkah laku dan sikap. Artinya ada transparansi i’thaa` kulli dzi haqqin haqqahu, wa ilzhamu kullan biwaajibihi tanpa monopoli, terlebih lagi tiada pemaksaan yang memberatkan pihak lainnya.
Hubungan intern sesama Islam tercermin dari kesatuan rasa persaudaraan bertauhid. Innamal mukminun ikhwah (Al-Hujurat:10). Hadits tentang ini amat banyak, semisal sabda Rasul saw dalam riwayat Al Bukhari: “Al muslim akhul muslim; la yadhlimuhu wala yaslimuhu, waman kana fi haajati akhihi  kanallahu  fi  haajatihi, waman farraja ‘an muslim kurbatan farrajallahu ‘anhu kurbatan min kurabaati yaumil qiyamah, waman satara musliman satarahullahu yaumal qiyamah”. Riwayat Turmudzi menyebut:”….tidak mengkhianati, tidak mendustai, dan tidak merendahkannya, setiap
muslim atas muslim haram (mendhalimi) kehormatan, harta dan darahnya…”. Dalam sabda Nabi saw
menurut Ibnu Majah dalam riwayatnya menyebutkan tentang enam perkara yang menjadi hak dan kewajiban sesama muslim; beri salam saat bertemu, penuhi undangan (jawab panggilan), mendo’akan kala bersin, menjenguk ketika sakit, mengantar jenazah, dan mencintai yang terbaik untuknya layaknya untuk diri sendiri. Begitu halnya dalam lingkungan keluarga, suami-isteri, orang tua-anak, tetangga, berteman, kantor, kerja, atasan-bawahan, rakyat-pemimpin, bernegara,..dst. Hingga interaksi ekstern dengan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), dengan mereka yang menyembah selain
Allah swt. Termasuk hubungan dalam situasi aman dan damai hingga interaksi saat terjadi perang antara keduanya. Semua itu dibicarakan oleh Islam dengan detail hingga umat wajib meyakini kekuatannya. Mempelajari detail masalah ini disajikan dalam ranah  kitab-kitab  hukum,  fi qh,  akhlak  dan mu’amalat. Secara umum bentuk dan aturan interaksi sosial ini dapat diperhatikan fi rman  Allah  swt  dalam  ayat  1  surat  AlMaidah:”Wahai orang-orang yang beriman, penuhi oleh kaliaan aqad-aqad perjanjian..”. Dan pada ayat 34 Al-Isra`: “Wa aufuu bil ‘ahdi, innal ‘ahda kana mas`ulan”.
Inilah tiga landasan kekuatan aqidah Islam. Memahami karakter ketiganya akan membentuk pembangunan aqidah yang kuat dalam diri umat. Kekuatan ini adalah relisasi dari pemahaman utuh atas pengajaran dalam dialog malaikat Jibril as dengan Nabi saw tentang Iman, Islam, dan Ihsan, serta ditutup dengan pengakuan keterbatasan pengetahuan Nabi saw tentang waktu terjadinya qiamat, karena ia bagian sam’iyyat yang wajib diimani dan tidak dapat dijangkau akal. Tetapi tanda-tanda qiyamat itu disebutkan sebagiannya.
Dalam pesan lainnya; aqidah yang terbentuk dengan kuat adalah mengusahakan terwujudnya akumulasi kesadaran dari keyakinan yang memunculkan rasa muraqabah, harap, takut, dan berorientasi akhirat. Pesan dimaksud termaktub dalam riwayat Turmudzi dari Mu’az bin Jabal: “Ittaqillah haitsuma kunta wa atbi’is sayyi`atal hasanah tamhuha, wa khaliqin nas bi khulukin hasanin”. Senada dengan pengajaran ini pula, riwayat imam Ahmad dan Turmudzi dari Ibnu Abbas menyebutkan sabda Rasul saw: “…jagalah olehmu akan Allah niscaya Ia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Allah berpihak kepadamu, bila meminta sesuatu minta pada Allah, bila memohon bantuan mohonlah padaNya, kenali Allah disaat lapang niscaya Allah tidak akan menyiakanmu dalam kesempitanmu,”.