Baitul Mal Aceh Dikunjungi Siswa SMA IT Al-Fityan

Gema, edisi Jum’at 13 Februari 2015
Banda Aceh – Baitul Mal Aceh (BMA) menerima kunjungan dari siswa-siswi SMA IT Al-Fityan di Kantor Baitul Mal Aceh, Kamis, 12 Februari 2015. Kunjungan ini diterima oleh Kepala Bidang Sosialisasi dan Pengembangan, Sayed M. Husen, didampingi Kepala Bidang Penyaluran dan Pendayagunaan, RizkyAulia, S.PdI.
Kunjungan yang dimaksudkan untuk mempererat jalinansilaturrahmi dan menambah wawasan tentang zakat,infak serta pengelolaannya yang selama ini telah dilakukan Baitul Mal Aceh.
Dalam ajang silaturrahmi ini, pihak BMA meminta dukungan kepada siswa-siswi untuk ikut berperan dalam mensosialisasikan tentang ZIS, potensinya serta Baitul Mal. Menurut Sayed, Baitul Mal merupakan lembaga pengelola harta Allah yang berkaitan erat dengan masyarakat. Karenanya  informasi apapun dibutuhkan untuk menumbuhkan peran masyarakat dalam berzakat ke Baitul Mal Aceh.
“Dengan semakin banyaknya dan zakat terkumpul maka uang zakat tersebut dapat mengentaskan kemiskinan di Aceh”, tambahnya.
Pada kesempatan itu juga, pihak guru Al Fityan mengharapkan adanya program untuk ikut mempopulerkan seputar beasiswa hafidz. Selama ini, sebut Arina Zahra, beasiswa tahfidz belum banyak. Bahkan dalam banyaknya beasiswa disalurkan, sedikit sekali beasiswa yang membahas tentang tahfidz.
Menanggapi harapan Al Fityan, Rizky Aulia mengatakan BMA memang bertanggungjawab untuk menyalurkan beasiswa baik untuk keluarga miskin, muallaf, tahfidz dan lainnya. Untuk tahun 2014, lebih kurang 3 milyar dana yang telah disalurkan untuk program beasiswa.
“Khusus untuk tahfidz, padatingkat SLTP dan SLTA sudah diberikan untuk 42 santri. Dan untuk tingkat mahasiswaada 7 santri. Dan ini masih sedikit karena kurangnya dana zakat yang sudah dihimpun”, tambahnya.
Sayed juga menambahkan bahwasannya BMA akan terus berupaya mensupport dana ZIS untuk menumbuhkan hafidz-hafidz di seluruh Aceh. Kita rencanakan tahun ini akan dijalankan kembali untuk beasiswa tahfidz yang baru.
“Bukan tidak mungkin target BMA, 10 tahun kemudian Aceh dapat mengekspor hafidz-hafidz keseluruh dunia baik Asia dan Eropa”, harapnya.marmus/rel