Karakteristik Gampong Syari’at

Tinggal di sebuah pemukiman yang nyaman dan kental dengan nilai-nilai Islam tentu merupakan harapan setiap kaum Mu’minin. Sehingga kaum Muslimin bisa membangun dan mengembangkan potensi yang dimiliki dan kelak dapat mewujudkan sebuah peradaban Qurani.
Bicara tentang wilayah atau tempat, sebenarnya setiap tempat bisa dijadikan sebagai tempat tumbuh kembangnya kampung syariah. Mengingat Rasulullah Saw dahulu membangun Yatsrib menjadi Madinah, telah ada terlebih dahulu kelompok-kelompok masyarakat yang telah menetap terlebih dahulu di Yastrib dengan pola sosial kemasyarakatannya masing-masing. Seperti orang-orang Yahudi serta suku-suku besar yang memegang kendali politik seperti Auz dan Khazraj. Yang menjadi point terpenting dari realita ini adalah sejauh mana tercapai komitmen untuk bersatu-padu hidup dalam naungan nilai-nilai Islam, lengkap dengan tuntunan syariahnya.
Ilmu dan Jihad
Guna mencapai komitmen inilah, peran dai dan alim ulama sangat menentukan. Tidak hanya menyampaikan tentang nilai-nilai Islam pada ranah normatif saja, akan tetapi juga pada tataran aplikatif dan benefit dari penerapan syarian Islam itu sendiri. Pengetahuan, semangat, dan praktek yang disampaikan pada lapisan masyarakat inilah yang menjadi modal terkuat keberpihakan setiap elemen masyarakat untuk bersatu-padu menjadikan Islam sebagai satu-satunya way of live.
Bila komitmen ini sudah tercapai, maka langkah selanjutnya untuk membangun kampung syariah adalah mewujudkan keamanan dan kebebasan bagi setiap warganya. Keamanan adalah modal penting bagi setiap warga untuk menjalankan aktivitas . Oleh karena itu, bila ada unsur lain seperti pemeluk agama lain di tempat yang ditetapkan sebagai kampung syariah, maka harus ada perjanjian-perjanjian yang disepakati mengenai masalah-masalah keamanan. Hal ini penting untuk meminimalisir potensi konflik. Langkah menjamin keamanan ini adalah yang termasuk langkah-langkah awal Rasulullah Saw membangun Madinah.
Sementara untuk kebebasan, menukil dari pernyataan yang pernah dilontarkan oleh Mantan Menteri Agama, Surya Dharma Ali, masyarakat yang tinggal di sebuah kampung syariah haruslah bebas dari kekufuran, kemiskinan, kebodohan, dan konflik.
Kekufuran adalah tertutupnya mata hati seseorang dari kebenaran yang ada dalam perintah Allah dan Rasul-Nya. Setiap warga harus dibebaskan dari kekufuran ini dengan cahaya ilmu dan jihad. Sekali lagi, kegigihan seorang ulama dalam memberantas tumbuh kembangnya kekufuran dalam kehidupan bermasyarakat memegang peranan penting. Disamping cahaya ilmu dan kesungguh-sungguhan alim ulama, pemberantasan kekufuran ini juga wajib hukumnya dilakukan oleh setiap individu. Karena, kewajiban berdakwah dan menyampaikan kebenaran terletak di pundak setiap Muslim. QS. 2: 159-160.
Pemberantasan kekufuran ini harus dimulai dari program “melek” Al-Quran. Tak hanya sebatas mampu membaca Al-Quran tetapi melek Al-Quran juga berarti melek terhadap hukum-hukum yang ada dalam Al-Quran. Sehingga perintah, ancaman, dan kabar gembira yang ada di dalam Al-Quran bisa benar-benar diresapi dan dipatuhi oleh orang-orang yang beriman dan teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pengetahuan yang mendalam akan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran, setiap warga dapat dibimbing untuk membebaskan diri dari kemiskinan, kebodohan, dan konflik.
Ekonomi Mandiri
Problem kemiskinan yang ada sekarang, timbul dari ketimpangan kesempatan dalam mengembangkan sumber daya ekonomi akibat praktik-praktik menyimpang dalam pengelolaan perekonomian. Riba, curang, korupsidan menimbun kekayaan pribadi adalah penyakit yang timbul dari kekufuran beragama.
Disamping itu ketidaktahuan atau kebodohan dalam memanaj aset dan potensi umat menjadi salah satu ganjalan besar untuk memajukan kesejahteraan masyarakat saat ini. Karena itu, dibutuhkan kemauan mandiri dari masyarakat untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk menggerakkan roda perekonomian bersama. Unit-unit usaha berbasis rumah tangga harus digiatkan, sehingga masyarakat tak perlu bergantung pada usaha-usaha manufaktur bermodal raksasa. Berbasis modal mandiri, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan sebesar-besarnya sumber daya alam yang ada sekaligus menjaga kelestariannya. Kontribusi dari Pemerintah Daerah juga bisa disinergikan, terutama pada sektor permodalan dan pemasaran.
Dengan skill dan kemampuan ekonomi yang mencukupi, diharapkan warga kampung syariah bisa berdikari dan memberikan kontribusi untuk pembangunan lingkungan dan bangsa. Sikap mau menebar kemanfaatan untuk kepentingan bersama inilah yang nantinya bisa diharapkan untuk meminimalisir konflik; disamping komitmen dan aturan yang telah disepakati bersama.
Bila semua tahap ini telah terpenuhi, maka diharapkan, ketentraman dan kesejahteraan tidak hanya dirasakan oleh seluruh warga kampung syariah semata. Namun, fungsi kehadiran seorang Mu’min sebagai rahmatan lil ‘alamiin akan terwujud nyata.Ibnu Syafaat