Sejarah Dua Batu Dari Surga

oleh : H. Ameer Hamzah
ADA dua batu dari surga yang ditu­runkan ke bumi, yakni Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim. Kedu­anya ada dalam Masjidil Haram. Hajar Aswad paling sakral dalam Islam, terletak di sudut Timur bangunan Ka’bah. Menurut hadits batu ini berasal dari surga yang diturunkan Jibril As. Dulu warnanya putih dan bersinar, namun setelah dipegang oleh manusia yang banyak berdosa akhirnya menjadi hitam dan cahaya padam.(Kitab Akbar Mekkah, Jilid I, Halaman 322).
Abdullah bin Abbas, keponakan Rasulullah SAW meriwayatkan; Di bumi ini hanya ada dua batu yang diturunkan dari surga, yakni Hajar Aswad dan batu Maqam Ibrahim. Sahabat Rasulullah Abu Sa’id Alkhudri meri­wayatkan; Hajar Aswad adalah “tangan Allah” di bumi, maka barang siapa yang dapat menyentuhnya dan menciumnya, maka Allah akan mengampuni dosa­dosanya.(Hadits Ali bin Abi Thalib). Tangan Allah harus diartikan ma­jazi, yakni kekuasaan.
Waktu Rasulullah menunaikan ibadah haji, beliu menyentuh dan mencium Hajar Aswad, maka Kaum Musliminpun melakukan hal yang sama. Para Sahabat utama, Abubakar, Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib dan sahabat­sahabat yang lain juga sangat ingin men­cium batu yang dicium oleh Rasulullah SAW. Hukum mencium Hajar Aswad adalah sunat, bukan wajib.
Meski Hajarul Aswad itu sangat disucikan, namun Umar bin Khat­tab telah menjaga batas aqidah kaum Muslimin agar jangan sampai syirik. Umar berkata; Demi Allah saya tahu bahwa engkau batu biasa, yang tidak dapat memberikan bahaya dan manfaat, andaikata aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, maka aku tidak menciummu, llau Umar menciumnya.(HR: Bukhari­Muslim).
Dalam sejarah Ha­jarul Aswad juga pernah dicuri oleh Kaum Syiah Ghullat (Syiah Ekstrim) yang menuhankan Ali bin Abi Thalib, Mereka membawa Hajarul Aswad itu ke Bahrain, kemudian ke Lebanun selama 20 tahun. Kemudian mereka di kalahkan oleh orang­ orang beriman, dan Hajarul Aswad dikembalikan ke Mekkah.
Batu kedua dari surga adalah batu tempat berdiri (Maqam) Ibrahim. Nabi Ibrahim bersama putranya Ismail diperintah oleh Allah SWT membangun dasar­dasar Baitullah (Ka’bah), beliau berpijak atas sebuah batu besar. Batu tersebut terkenal dengan istilah Maqam Ibrahim.(Tempat pijak
berdiri membangun Ka’bah), bukan kuburan Ibrahim, sebab kuburan Nabi Ibrahim ada di Kota Al­Khalil Pelestina. Pada batu tersebut terdapat sepasang tapak Nabi Ibra­him As.
Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang asal usul batu tersebut. Ada yang berpendapat batu ini berasal dari sur­ga yang diturunkan Jibril As bersama batu Hajar Aswad. Ada juga yang berpendapat batu terse­but mulanya terletak atas Jabal Qubis, kemudian diambil oleh Ismail untuk tempat berdiri ayahnya membangun Ka’bah.
Zaman dulu batu Maqam Ibrahim sangat dekat dengan dinding Ka’bah. Amirul Muk­minin Umar bin Khattab memindah beberapa meter supaya tidk mengganggu orang Thawaf. Untuk menjaga kesucian dan keselamatan batu Maqam Ibrahim, Pemerintah Arab Saudi telah membuat pengaman yang mirip sangkar dan dicat kuning emas. Jamaah haji dan Umrah bias melihat tapak Nabi Ibrahim, tetapi tidak bisa memegangnya.
Batu ini termasuk syiar dari beberapa syiar Islam. Allah berfirman: Sesungguhnya rumah yang mula­mula didirikan untuk tempat ibadah ma­nusia ialah Baitullah yang di Mekkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh manusia, padanya terdapat tanda­ tanda yang nyata, di anta­ranya Maqam Ibarhim: (QS. Ali Imran: 96­97).
Antara Maqam Ibrahim dan pintu Ka’bah juga disebut Multazam tempat yang sangat utama untuk shalat sunat dan berdoa. Rasulullah sangat banyak berdoa di tempat ini. Inilah batu yang sangat berseja­rah dalam Islam. Betapa bahagia para jamaah haji dan Umrah yang telah melihat langsung tapak Nabi Ibrahim yang terda­pat di batu tersebut.