Sosok Ibu Pendidik

KEMAJuAN sebuah bangsa san­gat ditentukan oleh bagaimana kualitas seorang Ibu dalam men­didik anaknya. Dalam Islam, Ibu memainkan peran penting dan tak tergantikan. Mereka adalah rabbatul bait (ibu pendidik), mar’atus shalihah (wanita yang shalehah), danzaujatul muthi’ah (isteri yang baik). Ternyata Jepang juga mem­ punyai konsep yang hampir sama.
Seorang kawan bercerita bahwa di Jepang istilah khusus untuk pro­fesi Ibu rumah tangga adalah kyoiku mama,yang berarti Ibu Pendidikan. Pada zaman Restorasi Meiji (1866–1869), yaitu gerakan modernisasi Jepang yang menandakan bera­khirnya era para Samurai, ada juga istilahryousai kenbo (ryousai: isteri yang baik, kenbo: ibu yang bijaksa­na). Slogan ini kembali diangkat oleh pemerintah Jepang sekarang untuk mewujudkan keluarga yang harmo­nis dan ideal.
Parakyoiku mama rata­rata adalah lulusan S1 atau S2 yang memilih untuk mengurus rumah Sosok Ibu Pendidik tangga, menjaga dan mendidik anak­anak mereka mulai dari ban­gun tidur, berangkat sekolah, be­lajar, bermain, sampai tidur lagi. Semuanya dalam pengawasan sang Ibu. Jenjang pendidikan mereka yang tinggi justru bukan untuk mengejar karier, namun ber­tujuan untuk “mendidik anak” dengan sebaik­-baiknya.
Tugas utama mereka adalah menanamkan kesopanan dan ke­bersihan kepada anak­anak. Maka tidaklah heran kalau kita melihat kemajuan ekonomi Jepang den­gan etos kerja yang tinggi, menja­ ga disiplin dan kebersihan. Sedi­kit banyaknya nilai­nilai tersebut ditanamkan oleh kyoiku mama sejak usia dini di lingkungan kelu­arga. Hal tersebut merupakan in­dikator bahwa wanita mempunyai
peran terhormat sebagai isteri yang baik dan bijaksana.
Dalam Islam, ibu rumah tang­ga dikenal dengan nama rabbatul bait,yang berarti Pendidik Kelu­arga. Mereka dianggap sebagai madrasah al-ula (rumah sekolah pertama) bagi anak­anaknya. Ibu mempunyai pengaruh yang kuat dalam pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak.
Para Shahabiyah adalah Ibu teladan sepanjang zaman. Kabsyah Binti Rafi’, contohnya, adalah Ibu yang ‘Arsy ar-Rahman (‘Arsy Allah) bergetar karena syahidnya kedua anaknya, ‘Amr dan Sa’ad Bin Mu’adz. Mereka adalah penja­ga Rasulullah SAW ketika perang Badar dan pemegang panji kaum Anshar. Asma’ Binti Abu Bakar adalah Ibu yang membakar seman­gat anaknya, Abdullah Bin Zubair, agar menjadi Muslim tangguh pem­bela agama Allah. Tumazhir Binti ‘Amru Bin Sulami, yang terkenal
dengan sebutan al­Khansa’, ad­ alah Ibu dari empat putera pahla­ wan Islam yang semuanya syahid
dalam perang Qadisiyah.
Kedudukan seorang Ibu dalam Islam sangat tinggi. Dalam sebuah Hadis Shahih diriwayatkan bahwa Jahimah as­Sulami mendatangi Nabi SAW dan berkata bahwa dia ingin ikut berjuang (jihad). Nabi SAW bertanya apakah dia masih mempunyai Ibu. Jahimah men­jawab iya, dan Nabi pun bersabda,
“Maka tinggallah bersamanya, karena sesungguhnya syurga itu berada di bawah telapak kaki Ibu” (Sunan an­Nasa’i, No. 3104).
Dalam Hadis Shahih yang lain juga diriwayatkan, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al­‘Ash berkata bahwa Rasul SAW bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan semata­mata, dan sebaik­baik perhiasan adalah wanita yang shalehah” (Sunan an­ Nasa’i, No. 3232, Sunan Ibn Ma­jah, No. 1855).
Kecantikan seorang wanita tidaklah dilihat dari paras wajahnya atau tubuhnya. Namun cantiknya wanita karena pesona spiritualitas and intelektualitasnya, atau biasa disebut dengan inner beauty.
Ibu adalah pembentuk identitas awal dan pemupuk harga diri anak. Maka Ibu rumah tangga diharapkan mempunyai bekal ilmu yang mema­dai. Oleh karena itu, bangunlah sua­sana yang Islami di dalam rumah tangga dengan penuh kasih say­ang. Bimbinglah anak dalam pelaja­ran. Latihlah mereka dalam hal ibadah shalat, puasa, shadaqah dan kebai­kan­kebaikan lainnya. Sehingga kelak mereka akan tumbuh menjadi anak yang matang secara emosion­al, keilmuan dan spiritual.
Untuk menjadi Ibu yang ter­baik, maka diperlukan latihan yang banyak melalui pendidikan yang berkelanjutan. Jadilah mar’atus shalihah (wanita yang shalehah, kenbo), zaujatul muthi’ah (isteri yang taat, ryousai) dan rabbatulbait (ibu pendidikan, kyoiku mama). Wallahu a’lam.
penulis,alumnus Fakultas Tarbiyah, UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Institute of Education, Ohio University, USA. Sekarang sedang mengambil program Doctoral di Kulliyyah of Education, International Islamic University Malaysia.